maulid saw dan baayun anak

Menyoal Baayun Maulid
Oleh: Wajidi, Peneliti Madya pada Balitbangda Provinsi Kalsel
Banjarmasinpost.co.id – Sabtu, 19 Februari 2011 | Dibaca 156 kali | Komentar (1)

PADA peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tiap 12 Rabiul Awal di Kalimantan Selatan ada tradisi menarik, yakni Baayun Maulid. Salah satunya di Kompleks Makam Sultan Suriansyah, Kuin Utara.

Baayun asal katanya ayun yang diartikan melakukan proses ayunan. Bayi yang mau ditidurkan dalam ayunan biasanya diayun oleh ibunya. Asal kata maulid berasal dari peristiwa maulid (kelahiran) Nabi Muhammad SAW.

Dengan demikian, Baayun Maulid diartikan sebagai kegiatan mengayun bayi atau anak sambil membaca syair maulid atau bersamaan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW.

Prosesi mengayun anak (maayun anak) pada tradisi baayun maulid sesungguhnya menggambarkan adanya akulturasi budaya antara unsur kepercayaan lama dan Islam.

Tradisi asalnya dilandasi oleh kepercayaan Kaharingan. Dalam perkembangannya, upacara maayun anak mengalami akulturasi dengan agama Hindu dan Islam. Hal tersebut dapat dibedakan dari: (a) Maksud dan tujuan upacara; (b) Pelaksanaan upacara; (c) Perlengkapan upacara; (d) Perlambang atau simbolika yang dipengaruhi oleh unsur kepercayaan Kaharingan, Hindu, dan Islam.

Berdasarkan tradisi asalnya, tata cara maayun anak dalam upacara baayun maulid sebenarnya berasal tradisi bapalas bidan sebagai tradisi yang berlandaskan kepada kepercayaan Kaharingan.

Ketika agama Hindu berkembang di daerah ini, maka berkembang pula budaya yang serupa dengan baayun anak yakni baayun wayang (didahului oleh pertunjukan wayang), baayun topeng (didahului oleh pertujukan topeng) dan baayun madihin (mengayun bayi sambil melagukan syair madihin).

Ketika Islam masuk dan berkembang, upacara bapalas bidan tidak lantas hilang, meski dalam pelaksanaannya mendapat pengaruh unsur Islam.

Selain dilaksanakan oleh masyarakat Banjar yang tinggal di perdesaan, upacara bapalas bidan juga dilaksanakan oleh orang Dayak Meratus. Setelah bayi lahir, orang Dayak Meratus melaksanakan upacara bapalas bidan, yakni memberi hadiah (piduduk) berupa lamang ketan, sumur-sumuran (aing terak), beras, gula dan sedikit uang kepada bidan atau balian yang menolong. Biasanya sekaligus pemberian nama kepada sang bayi. Termasuk nantinya saat anak mulai berjalan (turun) ke tanah dari rumah (umbun) juga dengan upacara mainjak tanah, tetap dipimpin oleh balian.

Pelaksanaan bapalas bidan, biasanya dilakukan ketika bayi berumur 40 hari. Bapalas bidan selain dimaksudkan sebagai balas jasa terhadap bidan, juga merupakan penebus atas darah yang telah tumpah ketika melahirkan.

Pada upacara bapalas bidan, anak dibuatkan buaian (ayunan) yang diberi hiasan menarik, seperti udang-udangan, belalang dan urung ketupat berbagai bentuk, serta digantungkan bermacam kue seperti cucur, cincin, apam, pisang dan lain-lain.

Kepada bidan yang telah berjasa menolong persalinan, diberikan hadiah segantang beras, jarum, benang, seekor ayam (jika bayi lahir laki-laki, maka diserahkan ayam jantan dan jika perempuan diberikan ayam betina), sebiji kelapa, rempah-rempah dan bahan untuk menginang seperti sirih, kapur, pinang, gambir, tembakau dan berupa uang.

Karena berasal dari tradisi pra-Islam, maka di antara perlengkapan baayun maulid seperti ayunan dan piduduk mempunyai persamaan dengan perlengkapan langgatan pada acara tradisional aruh ganal yang dilaksanakan orang Dayak Meratus.

Ketika Islam datang ke daerah ini, acara bapalas bidan dan maayun anak tidak dilarang, hanya kebiasaan yang tidak sesuai sedikit demi sedikit ditinggalkan. Begitupula berbagai perlengkapan, maksud dan tujuan, dan perlambang (simbolika) juga disesuaikan atau diisi dengan nilai-nilai Islam. Maayun anak kemudian dilaksanakan bersama-sama di masjid bersamaan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW.

Baayun maulid di masjid Banua Halat sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam. Umat Isal melaksanakannya sebagai pencerminan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat bagi sekalian alam.

Adanya puji-pujian dan salawat yang menyertai peringatan maulid nabi merupakan simbol akan kecintaan kepada nabi dan sekaligus harapan umat Islam yang selalu mengenang, meneladani kehidupan, dan mengharap syafaat dari Rasulullah.

Terlepas dari motifnya apa, maksud maayun anak bersamaan dengan peringatan maulid nabi adalah untuk membesarkan nabi sekaligus berharap berkah atas kemuliaan Nabi Muhammad SAW, disertai doa agar sang anak yang diayun menjadi umat yang taat, bertakwa kepada Allah SWT dan RasulNya, serta kehidupannya selalu terpaut untuk salat berjemaah di masjid.

Mengacu pada contoh penyelenggaraan baayun maulid di Banua Halat, jelas bahwa penyelenggaraan baayun maulid di Kompleks Makam Sultan Suriansyah yang notabene kompleks pekuburan kurang selaras dengan filosofi agar anak yang diayun hatinya terpaut dengan mesjid.

Apalagi orang Banjar mempunyai pamali atau pantangan dengan menyatakan jangan maayun anak dekat kuburan nanti kapidaraan (diganggu makhlus halus/roh orang mati).

Sehubungan dengan hal tersebut, maka seyogianya tradisi baayun maulid di Kompleks Makam Sultan Suriansyah dipindah lokasinya ke Masjid Sultan Suriansyah. Sedangkan lokasi yang ditinggalkan difungsikan sebagai lokasi haul Sultan Suriansyah dan keluarga raja-raja Banjar lainnya.
red: DhenySumber: BANJARMASIN POST Edisi cetak
Share
Cetak
Kirim Artikel
Redaksi Bpost Group: 0511 3354370
Email : redaksi@banjarmasinpost.co.id atau banjarmasin_post@yahoo.com
Iklan : 08115003012
Sirkulasi & Promosi : 08115002002

Dapatkan kabar Banua terbaru melalui ponsel, blackberry anda di: http://m.banjarmasinpost.co.id
1 dari 1 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Komentar dari: Ramli Nawawi | Sabtu, 19 Februari 2011
Sepertinya memang masih banyak hal-hal yang dikaitkan dengan kegiatan2 keagamaan (Islam)yang perlu diluruskan.
POSTING TANGGA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: