Maulid Nabi Muhammad Saw

Maulid Nabi dan Nilai Reformasi
Oleh: Muhamad Akli * Alumnus IAIN Antasari Banjarmasin
Banjarmasinpost.co.id – Selasa, 15 Februari 2011 | Dibaca 143 kali | Komentar (0)

SUDAH menjadi tradisi, tiap datang Rabiul Awal umat Islam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, biasa disebut maulid Nabi. Hampir di seluruh pelosok daerah memperingatinya, termasuk instansi pemerintah.

Peringatan maulid Nabi pada hakikatnya untuk menunjukkan kecintaan sekaligus memuliakan Nabi Muhammad SAW.

Lahirnya Nabi Muhammad SAW merupakan rahmat bagi seluruh alam, terutama bagi yang bersedia dengan tulus untuk mengikuti ajarannya yang selanjutnya berisikan koreksi total terhadap keimanan, perilaku, dan akhlak manusia. Dan reformasi total terhadap sosio kultural, hukum, ekonomi, dan politik global.

Betapa tidak, ketika Nabi Muhammad SAW dilahirkan kondisi masyarakat Arab dalam kegelapan dan kebodohan (jahiliyah). Tatanan kehidupan sosial dan masyarakat kacau balau, perbudakan yang meruntuhkan martabat manusia, perekonomian dimonopoli oleh pemuka dan penguasa dalam kelompok (kabilah) yang kuat dan berpengaruh.

Dan kemusyrikkan mewarnai kehidupan mereka. Orientasi materi mendominasi penyembahan dan pengabdian mereka dengan alasan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Melihat kenyataan itu, Nabi Muhammad SAW diutus untuk melakukan reformasi.

Berpegang teguh pada kebenaran Islam, istiqamah, dan amanah dalam menegakkan kebenaran dan keadilan meski tantangan, tekanan dan hambatan begitu dahsyat. Bahkan, datang dari pihak keluarga besarnya untuk menekan dan mengintimidasi.

“Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan tugasku ini, sungguh aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah SWT membuktikan kemenanganku atau aku harus binasa karenanya”. Demikian pula dalam menegakkan keadilan, tidak tebang pilih.

Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri niscaya aku potong tangannya”. Pernyataan itu disampaikan beliau dalam kapasitasnya sebagai kepala negara di Madinah untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Menutup akses hubungan keluarga, kerabat, atau pendukung demi tegaknya hukum.

Untuk menyelesaikan persoalan kriminalitas, Nabi Muhammad SAW tidak hanya menyandarkan pada seruan moralitas atau akhlak belaka. Tetapi, memberlakukan sanksi yang tegas atas pelakunya.

Sanksi hukum tegas dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ketika orang Yahudi membunuh seorang laki-laki yang membela perempuan muslimah. Ketegasan sanksi hukum juga diberlakukan pada Ghamidiyah dan Maiz yang telah berzina dengan hukum rajam sampai mati.

Lalu, apakah ritual peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang tiap tahun diperingati mampu memberikan pencerahan dan efek positif reformasi? Atau terperangkap pada era jahiliyah modern?

Sementara ini, hanya sedikit di antara kita yang mampu menjadikannya hikmah dan pelajaran. Dan selebihnya, berupa seremonial tahunan yang hanya menyentuh sisi luar kehidupan masyarakat. Ironisnya lagi, dalam kehidupan bikrokrasi, ekonomi, dan politik. Bahkan dalam penegakan hukum demi keadilan.

Dalam reformasi birokrasi, yang mesti dilakukan adalah menumbuhkan sikap negarawan dan mengoptimalkan pelayanan publik. Reformasi birokrasi seperti itu merupakan agenda penting yang mestinya menjadi prioritas siapa pun yang memerintah dalam semua tingkatan.

Sebagaimana birokrasi yang dibangun Nabi Muhammad SAW dengan para sahabatnya, Menumbuhkan komunikasi yang bersahabat dan saling menunjang, bukan bermuka masam dan saling menyakiti dengan statemen kasar dan arogan, atau saling menjatuhkan.

Reformasi ekonomi mikro dibangun Nabi Muhammad SAW dengan amanah dan kepercayaan, mampu mendongkrak ekonomi kerakyatan. Sebab amanah dan kepercayaan adalah fondasi ekonomi mikro.

Ekonomi makro lebih menekankan pada kemakmuran yang riil, menutup akses kemakmuran semu, seperti pada sistem kapitalis.

Dari sisi reformasi politik, yang mesti dibangun adalah semangat Bhinneka Tunggal Ika. Jika sebelumnya berbentuk parsial, karena politik partai dengan beragam tujuan dan kepentingan, kini saatnya kembali ke politik yang menyejukkan agar terhindar atau paling tidak mengurangi egoisme, bersitegang urat leher, atau menjual wacana yang menciderai amanat rakyat.

Penegakkan supremasi hukum yang menjadi amanat reformasi kian terseok-seok di tengah badai jahiliyah modern. Betapa pun beratnya persoalan yang dihadapi, dengan semangat dan kesungguhan segera teratasi dengan tegaknya keadilan dan kebenaran.

Kini, masyarakat menanti terwujudnya agenda besar, reformasi. Baik reformasi birokrasi, pendidikan, ekonomi, politik dan hukum. Tegaknya reformasi sebagai bentuk koreksi terhadap pemerintah untuk tetap istiqamah dalam menjalankan fungsi dan nilai reformasi, demi kepentingan kehidupan masyarakat.

Masyarakat menanti tegaknya sebuah keadilan, terciptanya kehidupan yang aman, adil dan sejahtera. Semoga.
red: DhenySumber: Banjarmasin Post
Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: