Guru Sekumpul Dan Wacana Nur Muhammad

Oleh: Zulfa Jamalie

ALIMUL Fadhil H Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari (Guru Sekumpul) dalam ceramahnya pernah menyinggung wacana tentang Nur Muhammad.
ntuk membutiri kembali pandangan tentang Nur Muhammad dimaksud, seiring dengan peringatan haul beliau yang ke-5 tahun ini (5 Rajab 1431 H 17 Juni 2010 M), berikut tulisan ini dihadirkan guna pencerahan. Apakah

Guru Sekumpul memulai penjelasannya dengan ungkapan yang sangat dikenal dalam dunia tasawuf, di mana untuk mengenal Tuhan seseorang harus terlebih dahulu mengenal akan dirinya.

Maksudnya, untuk sampai kepada pengenalan terhadap Tuhan, haruslah terlebih dahulu dipahami dua hal. Pertama, ia harus terlebih dahulu mengenal asal mula akan kejadian dirinya sendiri. Dari mana, di mana dan bagaimana ia dijadikan?

Kedua, harus terlebih dahulu mengetahui apa sesuatu yang mula-mula dijadikan oleh Allah Swt. Kedua perkara itu menjadi prasyarat kesempurnaan bagi penuntut ilmu tasawuf (salik) dalam mengenal (makrifah) kepada Allah.

Yang mula-mula dijadikan oleh Allah adalah Nur Muhammad Saw lalu dijadikanlah roh dan jasad alam semesta. Roh (dan roh manusia) diciptakan Allah, sedangkan jasad manusia diciptakan mengikut kepada dan dari jasad Nabi Adam as.

Karena itu, Nabi Muhammad Saw nenek moyang roh, sedangkan Nabi Adam as adalah nenek moyang jasad. Hakikat dari penciptaan Adam as sendiri berasal dari tanah, tanah berasal dari air, air berasal dari angin, angin berasal dari api, dan api berasal dari Nur Muhammad.

Pada prinsipnya roh manusia diciptakan dari Nur Muhammad, jasad atau tubuh manusia pun hakikatnya berasal dari Nur Muhammad. Jadilah kemudian cahaya di atas cahaya (QS An-Nuur 35). Di mana roh yang mengandung Nur Muhammad ditiupkan kepada jasad yang juga mengandung Nur Muhammad. Bertemu dan meleburlah kemudian roh dan jasad yang berisikan Nur Muhammad ke dalam hakikat Nur Muhammad yang sebenarnya.

Bersumber pada satu wujud dan nama yang sama, maka roh dan jasad tersebut haruslah disatukan dengan mesra menuju kepada pengenalan Yang Maha Mutlak. Zat Wajibul Wujud yang memberi cahaya kepada langit dan bumi, dan yang semula menciptakan, sebagaimana mesranya hubungan antara air dan tumbuhan. Di mana ada air di situ ada tumbuhan, dan dengan airlah segala makhluk dihidupkan (QS Al-Anbiya 30).

Guru Sekumpul menjelaskan bahwa Nur Muhammad sumber segala penciptaan berikutnya. Syarat dan jalan untuk makrifah kepada Allah. Pengetahuan terhadap Nur Muhammad merupakan ilmu yang sempurna.

Bagaimana pandangan tokoh sufi terhadap Nur Muhammad? Dalam kitab asalnya, yakni Hikayat Nur Muhammad diceritakan bahwa tubuh manusia (anak Adam) mengandung tiga unsur, yakni jasad, hati dan roh. Di dalam roh terdapat hakikat, tersimpan rahasia yang dinamakan makrifah Allah.

Di dalam makrifah ada zat yang tidak menyerupai sesuatu pun. Rahasia atau makrifah Allah itu dinamakan insan kamil. Insan Kamil dijadikan dari nur yang melimpah dari zat Haqq Taala.

Al Hallaj yang mencetuskan teori hulul menyatakan bahwa Nur Muhammad mempunyai dua bentuk, yakni Nabi Muhammad yang dilahirkan dan menjadi cahaya rahmat bagi alam dan yang berbentuk nur.

Nur Muhammad adalah cahaya semula yang melewati dari Nabi Adam ke nabi yang lain bahkan berlanjut kepada para imam maupun wali. Cahaya melindungi mereka dari perbuatan dosa (maksum) dan mengaruniai mereka dengan pengetahuan tentang rahasia ketuhanan.

Allah menciptakan Nur Muhammad jauh sebelum diciptakan Adam as. Lalu, Allah menunjukkan kepada para malaikat dan makhluk lainnya. “Inilah makhluk Allah yang paling mulia”.

Oleh karena itu, harus dibedakan antara konsep nur (Muhammad) sebagai manusia biasa (seorang nabi) dan nur muhammad secara dimensi spiritual yang tidak dapat digambarkan dalam dimensi fisik dan realita.

Menurut sufi, Muhyiddin Ibn Arabi penulis kitab Futuhal Makkah, Nur Muhammad sebagai prinsip aktif di dalam semua pewahyuan dan inspirasi. Melalui nur itu pengetahuan yang kudus itu diturunkan kepada semua nabi, tetapi hanya kepada roh Muhammad saja diberikan jawami al qalim (firman universal).

Sedangkan menurut pencetus teori insan kamil, Abdul Karim bin Ibrahim al-Jili (1365-1428 M) menyatakan bahwa lokus tajalli al-Haq yang paling sempurna adalah Nur Muhammad. Ada sebelum alam ini ada, ia bersifat qadim lagi azali.

Nur Muhammad berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam berbagai bentuk para nabi, yakni Adam, Nuh, Ibrahim, Musa hingga dalam bentuk nabi penutup, Muhammad Saw.

Membandingkan apa-apa yang digambarkan oleh Guru Sekumpul berkenaan dengan Nur Muhammad dengan uraian ulama terdahulu, tampaknya tidak jauh berbeda sebagaimana pandangan umum para sufi dalam melihat Nur Muhammad sebagai yang terawal diciptakan kemudian menjadi sumber segala penciptaan.

Di samping itu, menurut Guru Sekumpul maqam Nur Muhammad adalah maqam paling tinggi dari pencarian dan pendakian sufi menuju makrifah kepada Allah. Tiada lagi maqam atau stasiun paling tinggi sesudah itu. Oleh karena itu, berbahagialah orang-orang yang dapat menyandingkan penyatuan sumber asal mula penciptaannya dalam satu harmoni, yakni Nur Muhammad.

* Pengurus Lembaga Kajian Islam, Sejarah, dan Budaya Banjar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: