Lailatul Qadr

Islam di Tanah Banjar
Bermakna, Berbagi, dan Meyakini.
Sabtu, September 29, 2007
Malam Pencerahan
LAILATUL QADAR, MALAM KEMULIAAN SERIBU BULAN

Oleh Zulfa Jamalie

(Pelajar di Universiti Utara Malaysia, Sintok, Kedah)
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Alquran pada malam kemuliaan. Tahukah kamu, apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Di mana pada malam itu, turun para malaikat dan malaikat Jibril as dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan, malam itu penuh kesejehteraan hingga terbit fajar” (QS. al-Qadar 1-5)

Salah satu kelebihan dan kemuliaan bulan Ramadhan bagi umat Islam adalah diturunkannya suatu malam yang penuh kemuliaan, yakni Lailatul Qadar. Lailatul Qadar merupakan tema menarik dibicarakan, terlebih di sepuluh akhir bulan Ramadhan, sebagai waktu turunnya menurut sebagian besar pendapat ulama.

Berita tentang Lailatul Qadar di samping tercantum dalam surah al-Qadar, biasanya juga disandarkan pada satu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Rasulullah pernah bercerita bahwa beliau mendapatkan wahyu dari Allah tentang seorang laki-laki Bani Israel yang bernama Syam’un yang berjihad di jalan Allah selama seribu bulan tanpa henti. Rasululah SAW sangat kagum, kemudian berdoa: “Tuhanku, Engkau telah menjadikan umatku orang-orang yang berumur pendek dan sedikit amalan”. Allah kemudian menjawab dan memberi keutamaan kepada Rasulullah SAW dengan Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan yang telah dihabiskan oleh laki-laki Bani Israil tersebut. Apa arti malam kemuliaan atau Lailatul Qadar itu dan mengapa malam itu dinamakan malam kemuliaan?

Menurut pakar tafsir, Prof. Dr. Quraisy Shihab, dalam Membumikan Alquran (1994: 312), ada tiga kelompok yang memahami qadar dalam konteks berbeda sebagai kata kunci yang terkandung dalam kalimat tersebut.

Kelompok pertama mengartikan qadar dengan penetapan dan pengaturan, sehingga Lailatul Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Dasar yang dijadikan argumentasi pendapat golongan ini adalah firman Allah dalam surah ad-Dukhaan 3: “Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan”. Ada ulama yang yang memahami penetapan itu dalam batas setahun. Alquran yang turun pada saat Lailatul Qadar diartikan bahwa pada malam itu Allah SWT mengatur dan menetapkan khittah dan strategi bagi Nabi Muhammad SAW guna mengajak manusia kepada agama yang benar, yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusa, baik sebagai individu maupun masyarakat.

Kelompok kedua mengartikannya dengan malam kemuliaan, karena malam tersebut adalah malam mulia yang tidak ada bandingannya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Alquran serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Sementara, di dalam Alquran sendiri, kata qadar yang berarti mulia dapat ditemukan dalam surah al-An’am 91, “Dan mereka tidak memuliakan (menghormati) Allah dengan kemuliaan yang semestinya…”

Kelompok ketiga berpendapat bahwa qadar itu berarti malam yang sempit, disebabkan turunnya ribuan Malaikat ke bumi, sebagaimana yang ditegaskan dalam surah al-Qadar sendiri. Kemudian dalam surah ar-Ra’d 26 juga ditemukan qadar dalam artian sempit, yakni “Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa saja yang Dia kehendaki”.

Turunnya ribuan Malaikat ke bumi, menurut Imam Fakhrurrazi dikarenakan keinginan mereka untuk menyaksikan secara langsung dua amal manusia yang menakjubkan, yang kedua amal tersebut hanya bisa dilakukan oleh penduduk bumi, tidak pada penduduk langit. Kedua amal tersebut adalah, pertama orang-orang yang membagikan rezekinya kepada orang-orang yang miskin, dan kedua orang-orang atau para pendosa yang merintih, mengakui segala dosa atau kesalahan yang telah mereka lakukan. Ramadhan adalah bulan dan waktu yang mustajab untuk berdoa dan beristigfar, waktu untuk memohon ampunan Allah. Itulah sebabnya untuk mencari Lailatul Qadar, biasanya orang melakukan i’tikaf, yakni berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah dan merenung (tadabbur), dan introspeksi diri. I’tikaf berarti mengkonsentrasikan diri untuk beribadah di bulan Ramadhan dengan tinggal di masjid, berdiam diri di masjid dan berada di dalam masjid, atau mengkhususkan diri pada waktu tertentu untuk hanya berada di dalam masjid. “Barangsiapa menghidupkan malam Lailatul Qadar, melaksanakan shalat dua rakaat, dan memohon ampunan Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan mencurahkan rahmat-Nya. Malaikat Jibril pun akan membelai dengan syapnya, sehingga ia akan masuk sorga” (Hadits dari Aisyah).

Menanggapi ketiga pengertian qadar menurut tiga kelompok di atas, selanjutnya Quraisy Shihab menjelaskan bahwa ketika pengertian yang disampaikan oleh masing-masing golongan tersebut pada hakikatnya dapat menjadi benar, karena malam kemuliaan itu apabila dapat diraih maka ia akan menetapkan masa depan manusia, dan pada malam itu ribuan Malaikat juga turun memenuhi bumi membawa kedamaian, ketenangan, dan kesejahteraan.

Lebih jauh, menurut tafsir The Holy Quran, Abdullah Yusuf Ali, Lailatul Qadar sebagai malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan sebenarnya tidak perlu diartikan secara harfiah –seribu seribu bulan kurang lebih sama dengan bilangan 80 tahun– karena ia hanya merupakan ilustrasi atau metafora untuk waktu yang tidak terbatas. Karena itu Lailatul Qadar adalah suatu peristiwa atau suatu malam yang mempunyai nilai mistis.

Sebagai peristiwa yang bernilai mistis, Lailatul Qadar bisa dialami oleh setiap orang yang terpilih, di mana mereka akan mengalami perbedaan yang jelas antara yang benar dan yang salah. Akibatnya ia akan mengalami transformasi spiritual dengan timbulnya kesadaran mendalam bahwa ada sesuatu yang benar dalam hidup ini yang ketika diproyeksikan dalam pengalaman hidupnya mengakibatkan semacam pengkhususan dari masa lalunya, dan orang yang bersangkutan merasa mengalami kelahiran kembali. Karena malam ini menjadi lebih baik daripada seribu bulan, lebih baik dari seluruh umur hidup manusia. Momen itulah yang disebut momen mistis, momen ketika seseorang dengan pertolongan dan rahmat Allah sampai kepada semacam pengalaman teofanik atau pengalaman metafisik menemukan kebenaran hakiki dikarenakan keridhaan Allah terhadap taqarrub, mujahadah, dan pengalaman ibadahnya yang intensif pra maupun selama Ramadhan.

Ada pula yang menyatakan bahwa Lailatul Qadar adalah sebuah peristiwa titik balik yang dialami oleh seseorang setelah ia mengalami pengembaraan jiwa di luar lingkaran cahaya keilahian. Karena itu bagi mereka, Lailatul Qadar adalah simbolis yang menunjukkan kembalinya “si anak” hilang ke kandang, setelah mengalami proses penyadaran diri ketika ditampakkan oleh Allah ayat-ayat-Nya kepada mereka. Karena itu siapapun dapat mengalami peristiwa ini, seperti halnya peristiwa-peristiwa yang pernah dialami di kalangan dunia sufi, seperti yang dialami oleh Fudhail bin Iyadh.

Sebelum terkenal sebagai seorang sufi yang saleh, dan guru dari Ibrahim bin Adham, Fudhail dikenal sebagai seorang berandal yang suka melakukan perbuatan maksiat. Hingga suatu malam, ia mendengar seorang wanita yang sedang membaca Alquran tersebut, dan ia semakin tertegun ketika bacaan Alquran wanita tersebut sampai pada ayat: “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka guna mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka” (QS. al-Hadid 16). Fudhail merasa bahwa ayat itu seakan-akan dipukulkan kepadanya, sehingga bergetarlah jiwanya, ia kemudian merasakan ada iman dalam lubuk hatinya yang selama ini telah terselubungi oleh hawa nafsu. Ambruklah saat itu juga segala syahwat yang memuncak, ia segera lari menuju masjid untuk bertaubat kepada Tuhannya. Sejak itu berubahlah hidupnya menjadi manusia yang shalih dan kembali kepada fitrahnya, persis ketika ia dilahirkan dan berada dalam perjanjian pengakuan akan ketuhanan.

Malam tatkala Fudhail bin Iyadh mendengar ayat Alquran yang menjadi titik balik kesadaran jiwanya, bergetar hatinya, berubah perilakunya itulah makna metamorfosa Lailatul Qadar. Peristiwa yang dialami Fudhail bin Iyadh sendiri adalah peristiwa ulangan dari sejumlah peristiwa yang pernah dialami oleh orang-orang besar lainnya, seperti Umar bin Khattab ketika mendengar bacaan surah Thahaa, Hasan al-Basri, Ibrahim bin Adham yang asalnya hidup dalam kemewahan, Imam Al-Ghazali (Hujjatul Islam), Profesor Nizhamiyah yang hidup dalam popularitas, dan sederet tokoh-tokoh lainnya yang telah mengalami pencerahan jiwa untuk kembali kepada kebenaran Tuhannya.
Kesimpulan, inti dari Lailatul Qadar adalah password atau entry point dalam mencontoh sifat-sifat Tuhan, karena itu ia harus dipahami sebagai suasana batin feminim, indah, lembut, penuh kepasrahan, dan kehangatan dengan Tuhan. Ia adalah malam pencerahan, di mana orang menemukan kesadaran atau fitrahnya, bahwa Tuhan telah menjadikannya untuk mengabdi dan pasti kembali kepada-Nya. Sudahkah kita merasakannya?
Posted by zuljamalie@yahoo.co.id at 11:27:32 | Permanent Link | Comments (1) |
Sorga-Ramadhan
RAMADHAN BULAN KASIH SAYANG

Oleh Zulfa Jamalie

(Pelajar di Universiti Utara Malaysia, Sintok Kedah)

Pada salah satu tulisannya di harian Republika, K.H. Hasyim Muzadi dengan sangat indah menggambarkan Ramadhan sebagai sepotong sorga yang melayang-layang ke alam di dunia, yang di bawa oleh para bidadari untuk dipersembahkan kepada umat Islam yang telah tercerahkan etos iman, ilmu, amal, dan ihsannya. Siapa mereka? Mereka ini, oleh Rasul Saw digambarkan sebagai orang yang berpuasa karena mengharap ridha Allah, beristighfar, dan mengisi Ramadhan dengan amal-amal yang diperintahkan. “Barangsiapa yang puasa pada bulan Ramadhan dan menghidupkan malamnya dengan amal ibadah karena keimanan dan mengharap ridha Allah, maka diampunkan segala dosa-dosanya yang telah lalu” (Al-Hadits).

Jika kita merenung secara dalam, kita akan sampai pada satu kesimpulan betapa maha luar biasanya kasih dan sayang Allah kepada kita. Kemahakasih dan sayang Allah itu tidak dapat kita hitung, tidak dapat kita gambarkan, dan tak akan terlintas atau terbayang dalam rasa dan pikir kita. Dan Ramadhan adalah salah satu wujud dari kasih sayang Allah tersebut kepada kita. Itulah sebabnya, dalam hadits Qudsi dikatakan: “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya”, demikian janji Allah.

Ramadhan sebagai manifestasi kasih sayang Allah juga dapat kita butiri dari berbagai kelebihan yang telah diberikan oleh Allah khusus pada bulan ini. Kelebihan-kelebihan tersebut tidak kita temukan pada bulan yang lain. Beberapa hadits berikut menggambarkan beberapa kelebihan yang diberikan Allah di bulan Ramadhan.

“Hai manusia! Telah datang kepada kamu satu bulan yang mulia, bulan rahmat, di mana bulan ini mewajibkan kamu berpuasa di siang hari dan mendirikan shalat pada malamnya. Barangsiapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan segala amalan sunnat di bulan ini, maka ia akan menerima ganjaran seperti melakukan amalan wajib di bulan lain. Ramadhan merupakan bulan kesabaran dan kesabaran itu imbalannya sorga. Ramadhan juga bulan sedekah dan bulan di mana rezeki orang beriman bertambah” (HR. Ibnu Khuzaimah). “Apabila telah tiba bulan Ramadhan, dibuka pintu-pintu sorga dan ditutup segala pintu neraka dan diikat segala setan” (HR. Bukhari-Muslim). “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan niscaya akan diampuninya segala dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari-Muslim). “Shalat yang difardhukan kepada shalat yang sebelumnya merupakan penebus dosa antara keduanya, dan Jumat kepada Jumat yang sebelumnya merupakan penebus dosa antara keduanya, dan bulan Ramadhan kepada Ramadhan sebelumnya merupakan kaffarah atas dosa antara keduanya, melainkan tiga golongan: Syirik kepada Allah, meninggalkan sunnah, dan melanggar perjanjian atau sumpah” (HR. Imam Ahmad). “Setiap amalan anak Adam baginya melainklan puasa maka ia untuk-Ku kata Allah dan Aku akan membalasnya. Dan puasa adalah perisai, maka apabila seseorang berada pada hari puasa maka dia dilarang jima’ pada hari itu dan tidak meninggikan suara. Sekiranya dia dihina atau diserang maka dia berkata: Sesungguhnya aku berpuasa demi Tuhan yang mana diri Nabi Muhammad ditangan-Nya, maka perubahan bau mulut orang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari qiamat daripada bau kasturi, dan bagi orang berpuasa ada dua kegembiraan, yakni kegembiraan waktu berbuka dan ketika bertemu Tuhannya, dia gembira dengan puasanya (HR. Bukhari-Muslim), dan sebagainya.

Pada bulan Ramadhan juga Allah menunrunkan Alquran dan menganugerahkan malam qadar, satu malam kemuliaan yang lebih baik daripada seribu bulan, bagi umat Islam yang menghidupkan malam tersebut dengan peribadahan.

Demikianlah, begitu banyak kasih sayang Allah tercurah di bulan Ramadhan ini. Karena itu sangat rugi jika kita tidak bisa menggunakan waktu dan umur yang telah diberikan Allah untuk merasakan kasih sayang-Nya.

Hanya orang-orang yang merenung dan menyadari betapa besarnya kasih sayang Allah sajalah yang mampu merasakan emanasi kasih sayang-Nya tersebut, dan kemudian membaginya kepada seluruh alam, sebagai Nabi kita yang rahmatan lil’alamin. Kasih sayang kepada Allah wujud dalam kepatuhan dan ketundukan kepada-Nya, kasih sayang kepada tumbuhan berarti merawat dan menjaganya, kasih sayang kepada hewan berarti tidak menyakitinya, dan kasih sayang kepada manusia (apalagi sesama Muslim) berarti tidak menyakiti hatinya, tiadak menganiaya haknya, dan tidak berbuat zhalim kepadanya.
Karena Ramadhan adalah bulan kasih sayang, berarti bulan bagi untuk membersihkan diri dan rohani kita dari sifat-sifat yang bertentangan dengan kasih sayang. “Penjarakan dan kuburkan, seluruh sifat-sifat burukmu; iri, dengki, takabur, riya’, ‘takjub pada diri sendiri, menuruti nafsu syahwat, menuruti kesenangan dunia, kemunafikan, berbuat aniaya kepada orang lain, menzalimi orang lain, dan kemusyrikan hati. Jika sesekali hendak muncul sifat-sifat itu, cepat-cepatlah beristighfar dan kau lawan dengan segala caramu, katakanlah aku sedang berpuasa”.
Posted by zuljamalie@yahoo.co.id at 10:37:53 | Permanent Link | Comments (0) |
Derajat Puasa
MENINGKATKAN DERAJAT PUASA

Oleh Zulfa Jamalie

(Pelajar di Universiti Utara Malaysia, Sintok, Kedah)

“Barangsiapa yang puasa pada bulan Ramadhan dan menghidupkan malamnya dengan amal ibadah karena keimanan dan mengharap ridha Allah, maka diampunkan segala dosa-dosanya yang telah lalu” (Al-Hadits).

Puasa pada prinsipnya adalah self restraint (pengendalian diri) untuk tetap berada pada posisi yang ditentukan Allah Swt, yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah imsak-an artinya menahan diri dan imsak-bi artinya berpegang teguh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Dengan kata lain puasa berarti upaya untuk mengendalikan diri dan mengendalikan hawa nafsu karena mentaati perintah Allah. Sehingga yang menjadikan puasa dipandang sebagai ibadah adalah apabila ia dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Itulah sebabnya puasa disebut pula sebagai amal badani (berhubungan dengan jasmani), amal nafsi (berhubungan dengan jiwa) dan amal ijabi (amal positif yang sangat besar pahalanya).

Dalam sebuah haditsnya, Rasul Saw mengingatkan: “Banyak sekali orang yang berpuasa, tetapi tidak ada yang diperolehnya dari puasa itu kecuali hanya lapar dan haus saja” (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah).

Para ulama berbeda pendapat dalam memahami hadits ini, sebagian ada yang menyatakan bahwa orang yang hanya mendapatkan lapar dan haus dari puasanya adalah orang yang berbuka dengan makanan yang diharamkan. Ada pula yang berpendapat, bahwa orang itu adalah mereka yang suka menggunjing orang lain (ghibah), atau mereka yang suka berbuat maksiat, padahal sedang berpuasa. Mereka bersandar pada suatu riwayat yang menjelaskan bahwa, Rasulullah Saw menyuruh seorang perempuan untuk berbuka puasa disebabkan perempuan tersebut telah memaki-maki budaknya. Rasul kemudian menyatakan: “Puasa bukanlah sekadar menahan makan dan minum saja, tetapi juga menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang tercela, perbuatan atau perkataan yang dapat merusak puasa, apalagi berbuat kemaksiatan”.

Jelas, berdasarkan hadits di atas, puasa sejatinya tidaklah sekadar menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa atau menahan diri dari makan-minum, akan tetapi juga menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan pahala puasa. Puasa bermakna mempuasakan seluruh anggota tubuh, mengendalikan hati dari segala yang tidak diridhai Allah, serta menjaga konsentrasi pikiran dan rohani agar tetap tertuju kepada Allah.

Puasa perut berarti hanya menahan diri dari makan-minum, jima’, sementara anggota tubuhnya yang lain tetap bebas tanpa kontrol dan kendali, oleh Imam Al-Ghazali jenis puasa seperti ini disebut puasa awam. Puasa lisan berarti puasa perut yang diikuti dengan upaya pengendalian mata, telinga, lidah, dan seluruh anggota tubuhnya dari segala yang diharamkan oleh Allah, yang disebut pula dengan puasa khushus. Sedangkan puasa hati berarti menahan diri dari segala yang membatalkan puasa (puasa perut), yang membatalkan pahala (puasa lisan), dan menjaga segala pikiran yang dapat mengakibatkan orang jatuh kepada perbuatan dosa. Dalam Ihya Ulumuddin, puasa seperti ini disebut dengan puasa khushush al-khushus, yakni puasa dari segala kecenderungan yang rendah dan pikiran yang bersifat duniawi, serta memalingkan diri segala sesuatu selain Allah. Karena itu, puasa sudah dianggap batal hanya lantaran pikiran tertuju kepada sesuatu selain Allah.

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menyebutkan enam cara untuk imsak-an (menahan diri) guna meningkatkan derajat puasa kita. Pertama, menahan pandangan dan tidak mengumbarnya pada hal-hal yang menyibukkan hati, sehingga lupa kepada Allah. Kedua, menjaga lidah dari ucapan yang sia-sia, seperti berbohong, mengupat, memfitnah, bertengkar dan membiasakan untuk diam serta menyibukkan lidah dengan zikir kepada Allah. Ketiga, menahan pendengaran dari hal-hal yang dibenci oleh ajaran agama. Keempat, menahan seluruh anggota dari perbuatan dosa, misalnya perut dari makanan yang haram, tangan (kekuasaan) dari menganiaya orang, kaki (kepemimpinan) dari menginjak-injak hak orang, lidah dari mengumpat atau mengghibah orang lain, dan seterusnya. Kelima, menahan diri untuk tidak makan berlebih-lebihan walaupun dengan makanan yang halal. Keenam, sesudah berbuka hendaklah hatinya selalu berada di antara khauf (cemas) dan raja’ (harap) kepada Allah akan puasa yang telah dilaksanakan, apakah diterima atau tidak.
Di samping itu, kita juga harus melakukan empat hal penting lainnya, sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasul Saw. Pertama, memperbaharui niat (tajdidun niyat), dan meluruskannya agar hanya tertuju untuk Allah. Kedua, memenuhi syarat dan rukun puasa sesempurna mungkin, sesuai dengan kemampuan kita. Ketiga, menahan diri dari segala sesuatu yang dilarang atau tidak diridhai Allah. Keempat menghidupkan Ramadhan dengan amal-amal kebajikan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, baik yang bersifat vertikal maupun yang bersifat horizontal. Seperti mendirikan shalat, memperbanyak doa karena doa pada bulan Ramadhan mustajab, memperbanyak membaca Alquran, mengkaji, dan memahami isi kandungannya secara baik, mengkaji hadits dan sirah Nabi Saw, melalui pengajian agama atau majelis ta’lim, memperbanyak bersedekah, banyak zikir dan beristighfar, menjaga lisan dan menyelesaikan sengketa sesama kaum muslimin, i’tikaf dalam masjid, dan sebagainya. Wallahua’lam.
Posted by zuljamalie@yahoo.co.id at 10:26:05 | Permanent Link | Comments (0) |
1 2
Cari

*

my advertisement
zuljamalie@yahoo.co.id

* Location:Banjar

Tag Cloud

* Ulama Banjar
* Ramadhan
* Guru Sekumpul
* Sultan Banjar
* Datu Kalampayan

My Music
Komentar terakhir

* You are thinking, lots of hard work, much clearer, super pro
* great capture,beautiful composition with rich colours.
* Thanks so very much for taking your time to create this very
* Tidak ada komentar, mohon di kirimkan copy kitab Barencong
* Kepada pembaca blog ini dipersilakan pula untuk membaca tuli
* Terimakasih atas apresiasi anda, sayangnya, sampai saat ini
* Ma’af kami tidak memberikan komentar tapi minta infomasinya

Blogroll

* Cahaya-Sufi
* Islam-Banjar

May, 2009
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6
Arsip

* Juli – 2008
* September – 2007

* Random Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: