Hamid Abulung

skip to main | skip to sidebar
ISLAM BANJAR

Rabu, 2008 Oktober 22
RISALAH TASAWUF SYEKH ABDUL HAMID ABULUNG Oleh : Sahriansyah’
A. Pendahuluan
Naskah Risalah Tasawuf Syekh Abdul Hamid Abulung ini dianggap sebagai salah satu representasi dari berbagai sumber lokal yang paling otoritatif dan otentik dalam memberikan informasi tentang perkembangan ajaran tasawuf falsafi yang berkembang di Kalimantan Selatan pada abad ketujuh belas dan delapanbelas..
Ajaran tasawuf falsafi yang diajarkan H. Abdul Hamid Abulung ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan komunitas Banjar saat itu. Oleh karena itu, Muhammad Arsyad al-Banjari mempelajari secara mendalam dan akhimya memfatwakan bahwa ajaran Syekh Abdul Hamid Abulung adalah salah, sesat dan merusak kehidupan beragama.
Untuk menjaga stabiltas dan gangguan yang membahayakan negara dan berdasarkan fatwa Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari di atas, maka Sultan Tahmidullah II mengambil keputusan untuk rnenghukum mati Syekh Abdul Hamid Abulung dan dimakamkan di tepian sungai Abulung di kampung Sungai Batang Martapura (Basuni, 1986 : 50-51).
Dari berbagai informasi yang diperoleh bahwa Syekh Abdul Hamid Abulung telah berjasa dalam merintis dakwah Islam di daerah kesultan Banjar bahkan agama Islam diakui sebagai agama resmi kerajaan Banjar. Diketahui bahwa komunitas rakyat Banjar sebelum memeluk agama Islam adalah sebagai penganut agama Hindu atau Kaharingan. Oleh karena itu, dakwah Islam yang disampaikan Abdul Hamid Abulung melalui ajaran tasawuf mendapat resfek yang baik dari kalangan rakyat Banjar. Ajaran tasawuf yang diajarkan Abdul Hamid tidak terlalu jauh berbeda dengan ajaran yang dianut rakyat Banjar saat itu. Karena itu konversi atau perpindahan agama rakyat Banjar ke agama Islam secara
‘Penulis adalah Peneliti pada Pusat Penelitian IAIN Antasari Banjarmasin.

damai, tidak menimbulkan gejolak yang berarti dalam masyarakat. Namun, harus diakui secara jujur bahwa Abdul Hamid Abulung belum mampu mengajarkan Islam secara murni sesuai dengan yang terdapat dalam Alquran dan hadis. Tapi jasanya tak boleh dilupakan bahkan dipinggirkan dalam lintasan sejarah Islam Kalimantan. Daya pesona ajaran tasawuf inilah yang banyak memikat rakyat Banjar pindah kepada Agama Islam, tetapi akidah mereka masih bercampur aduk dengan kepercayaan agama yang dianut sebelumnya. Bahkan sampai saat ini keberagamaan masyarakat Banjar masih banyak mempercayai tahayul dan khurafat yang notabenenya bertentangan dengan akidah Islam. Rasionalisasinya setelah Muhammad. Arsyad al-Banjari mengajarkan Islam sesuai dengan Alquran dan hadis belum juga mampu merubah keyakinan masyarakat Banjar secara totalitas. Di samping itu Abulung juga telah meninggalkan warisan yang tertulis untuk dipelajari dan dipahami oleh masyarakat Islam, yaitu sebuah kitab Risalah Tasawuf^ karena itu kitab tersebut perlu dikaji secara mendalam dan dijadikan obyek penelitian ini.
Studi naskah ini hanya mencoba menterjamahkan dan menganalisis secara deskriptif tentang isi naskah Risalah Tasawuf Abdul Hamid Abulung. Terjemah yang dilakukan adalah melalaui terjemahan agak bebas, yaitu menterjemahkan secara bebas, tetapi masih dalam standar ilmiah. Dengan kata lain, penulis menterjamahkan ide tulisan dengan tidak terlalu tarikat dengan susunan kata demi kata. Penterjamahkan mencoba mengungkap secara obyektif dan tidak memaksakan pendapat lain dalam terjemahannya. (Nabilah Lubis, 2001 :82).
Dalam membahas dan menganalisa kitab Risalah Tasawuf tersebut penulis tidak sampai kepada kritik naskah secara tuntas, karena dibatasi oleh waktu dan tenaga, namun pnulis secara tidak langsung dalam analisa dan gambaran atau deskripsi naskah telah mengkritik naskah tersebut.
Menurut hasil pengumpulan data dilapangan bahwa Risalah Tasawuf yang ditulis Syekh Abdul Hamid Abulung penukilan ada dua orang, yaitu Bahransyah bin Muhammad Daman, ia hanya menukil kitab tersebut satujilid, namun penulkulanya tidak memakai tahun (tahun tidak diketahui). dan H. Zaini

Muhdar, ia telah menukil kitab Risalah Tasawuf tersebut terdiri dari dua jilid, jilid pertama sebanyak 25 pasal dan jilid kedua sebanyak 4 pasal. Kitab itu dinukilnya sejak tahun 1974. Hasil nukilan kedua kitab tersebut isinya sama dan jugaditulis huruf Arab Malayu dengan tulisan tangan dan tinta hitam, namun yang lebih lengkap kitab tersebut adalah yang ditulis oleh H. Zaini Muhdar. Hasil nukilah H. Muhdar inilah yang dijadikan obyek penelitian naskah klasik ini.
Permasalahan penelitian adalah.isi naskah kitab Risalah Tasawuf termasuk nomor kode, asal naskah, ukuran, tebal naskah, huruf, bahasa, bentuk tulisan dan kitab tersebut apakah berisi tentang nuansa keilmuan Islam, seperti kerukunan, pendidikan moral, pembinaan HAM dan lain-lain. B. Deskripsi Risalah Tasawuf
Risalah Tasawuf peninggalan Syekh Abdul Hamid Abulung terdiri dari dua jilid, jilid pertama terdiri 25 pasal dan 88 halaman dan jilid kedua terdiri dari 4 pasal dan 37 halaman.
Kitab Risalah Tasawuf ini dinukil oleh H. Zaini Muhdar Sungai Batang Martapura atas kehendak dan perintah Syekh Abdul Hamid Abulung. Penukilan risalah tasawuf tersebut diterima melalui mimpi yang bertemu dengan Abulung. Risalah Tasawuf itu ditulis dengan huruf Melayu Arab (pegon) dalam bahasa Melayu. Menurut H. Zaini Muhdar bahwa Risalah Tasawuf jilid I dinukil pada tahun 1974-1975. Sedangkan Risalah tasawuf jilid II dinukil pada 2 Rajab 1406 H/14 Maret 1986 kumpulan dari berbagai kitab seperti Ad-Dur Nafts, Al-Hikam. Kitab Risalah Tasawuf ini tidak pernah dicetak dan diterjemahkan. Walaupun tidak pernah dicetak dan diterjemahkan, kitab ini telah beredar dan dipelajari oleh masyarakat Banjar. Baik masyarakat dari kalangan menengah dan awam.
H. Zaini Muhdar lahir di Sungai Batang Martapura pada tahun 1936, Sedangkan pendidikan yang pernah dilaluinya adalah di Pesantren Babus Salam di Sungai Batang Martapura dan mengaji duduk mempelajari kitab-kitab klasik/kuning kepada Tuan Guru yang ada di seputar Kota Martapura.
H. Zaini Muhdar juga pemelihara Makam.dan keluarga dekat Syekh Abdul Hamid Abulung. . Menurut penuturan H. Zaini Muhdar sendiri, ia selalu

mengadakan haulan Syekh Abdul Hamid Abulung setiap tanggal 12 Dzulhijjah di makam Syekh Abdul Hamid Abulung.
Kendatipun Kitab Risalah Tasawufditulis dalam bahasa Melayu, namun banyak kata-kata yang diambil dari bahasa daerah seperti bahasa Banjar. Di samping itu tulisannya mempergunakan huruf pegon. Hal itu kemungkinan karena dua faktorvyang menyebabkan kitab ini di masyarakat Banjar kurang mendapat perhatian, terutama di kalangan generasi muda dan masyarakat intelek.
Menurut kami, bahwa Kitab Risalah Tasawuf karya tulis oWr Abulung adalah sebuah kitab tasawuf dalam bahasa Melayu yang cukup tersebar di masyarakat Islam Banjar, jelain tebal, uraiannya cukup luas, dianggap sebagai salah satu representasi dari berbagai sumber lokal yang paling otoritatif dan otentik dalam memberikan informasi tentang perkembangan ajaran tasawuf falsafi yang berkembang di Kalimantan Selatan pada abad ketujuh belas dan delapan belas. Pada era itu keberagamaan masyarakat Banjar (Kalimantan Selatan) masih dalam suasana sinkeritis artinya ajaran Islam yang dianut masyarakat masih bercampur aduk dengan kepercayaan Animisme, Dinamisme, Hindu dan Budha. ^hamun sangat disayangkan kitab itu tidak ada kitab yang menjadi rujukannya, layaknya kita-kitab termashur lainnya, seperti Kitab Sabilal Muhtadin dan lain-lainnya. Dalam mengemukakan pendapat selalu diiringi dengan dalil^baik dari Alquran dan Sunnah. C. Analisis
Mencermati sebagian ajaran Abulung itu secara hati-hati :”Tiada yang maujud melainkan hanyalah Dia, tiada aku melainkan Dia, Dialah Aku, dan Aku adalah Dia”. Kesan dari kata-kata di atas seakan-akan Abulung mengajarkan tasawuf wujudiyah (ittihad, hulul dan wihdatul \vujud). Perlu diketahui bahwa ajaran wujudiyah dimunculkan dan dikembangkan oleh Abu Yazid al-Bisthami, Al-Hallaj dan Ibnu Arabi.
Ajaran ini dalam memaknai keesaan Tuhan memang terasa seakan-akan sangat berlebihan yaitu adanya kesatuan Tuhan dan makhluk. Tuhan dapat turun memilih tubuh manusia tertentu dan mengambil tempat padanya, setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada di dalam tubuh tersebut dilenyapkan. Hal itu bisa terjadi

karena Tuhan mempunyai dua sifat, lahut (ketuhanan) dan nasut (kemanusiaan). Lebih dan itu, segala yang ada (wujud) selalu mempunyai sifat ketuhanan dan kemakhlukan. Dalam ungkapan lain, pada Tuhan ada sifat kemakhlukan dan pada makhluk terkandung sifat ketuhanan. Sebelum Tuhan menjadikan makhluk, la hanya sendirian, Tuhan hanya melihat diri-Nya dengan segala kemuliaan dan ketinggian-Nya, dan lapun cinta kepada zat-Nya sendiri. Cinta Tuhan itulah yang menjadi sebab wujud dan keadaan yang banyak ini. Dengan demikian makhluk adalah merupakan cermin Tuhan manakala Tuhan ingin melihat diri-Nya, di luar diri-Nya. Di kala Dia ingin melihat diri-Nya, la melihat kepada makhluk-Nya. Oleh karena makhluk mengandung diri-Nya, maka Dia memandang diri-Nya sendiri sebab diri-Nya adalah satu jua. Dengan demikian dapat berwujud persatuan Tuhan dengan makhluk dalam bentuk inkarnasi termasuk pada manusia dan alam semesta.
Dengan demikian apakah ajaran Abulung termasuk ke dalam tasawuf wujudiyah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka terlebih dahulu dibandingkan dengan kata-kata Abu Yazid al-Bisthami sebagai tokoh aliran Ittihad. Abulung masih berjarak dengan Tuhan ketika mengatakan aku adalah Dia, sedangkan Abu Yazid sudah bersatu dengan Tuhan ketika ia mengatakan ;”Tuhan berfirman : semua merka kecuali Engkau adalah makhluk-Ku. Akupun berkata Aku adalah Engkau, Engkau adalah Aku dan Aku adalah Engkau.
Kata kunci perbedaan adalah Abulung masih berDia-Dia, sedangkan Abu Yazid sudah sampai ber-Engkau-Engkau dengan Tuhan. Kata Dia masih terasa jauh dan berjarak, sementara kata Engkau jelas sudah sedemikian dekat dan terasa sudah bersatu.
Dapat dikatakan bahwa ajaran Abulung tidak bisa dimasukkan ke dalam aliran Ittihad. Dia masih berada pada tingfcat A/-fana wal baqa yang masih bisa diterima dalam pandangan syariat. Kedua, jika dibanding ajarannya dengan ajaran Al-Hallaj tokoh aliran Hulul, terdapat juga perbedaan yang signifikan bahkan sangat prinsipil. Ketika Abulung mengatakan: Tiada Aku melainkan Dia, terasa betul ia telah melenyapkan dirinya yang tertinggal hanya wujud Tuhannya, Berbeda dengan Al-Hallaj mengatakan ‘”Padu sudah roh-Mu dengan rohkujadi

satoi bagaikan khamat dengan air bening terpadu Monday jika sesuatu menyentuh-Mu tersentuhlah aku karena itu Kai, dalam segata hat adalah aku”
Al-Hallaj telah lebur jadi satu dengan Tuhan, yang dalam istilah tasawuf telah mencapai Hulul. Artinya, Tuhan ada di dalam din Al-Hallaj dan Al-Hallaj ada dalam Tuhan. Jelas ajaran Abulung tidak bisa disamakan begitu saja dengan aliran Hulul ajaran Al-Hallaj, karena ia tidak lebur ke dalam Tuhan, ia tetap masih berjarak dengan Tuhan.
Selanjutnya, jika dibandingkan ajarannya dengan ajaran Ibnu Arabi tokoh aliran Wihdatul Wujud, juga terdapat perbedaan yang jauh sekali. Kalau Abulung mengatakan : Dialah aku, jelas masih terdapatjarak dengan Tuhan, karena masih berDia-Dia, sedangkan bagi Ibnu Arabi sudah berEngkau-Engkau dengan tidak lagi memakai kalimat aku karena Tuhan meliputi segala-galanya seperti katanya : “7a Allah, dari diri-Mulah asal dari segala sesuatu, Engkau Tuhan, mengapa Engkau jadikan semuanya satu, Engkau jadikan barangyang tak berhenti adanya, Baik di tempat sempit maupun lapang, Kau ada di sana”
Di antara tiga aliran tasawuf di atas meskipun kelihatannya serupa namun sebenarnya terdapat perbedaan-perbedaan. Perbedaan Ittihad dengan Hulul adalah dalam Ittihad diri Abu Yazid hancur dan yang ada hanya Diri Allah, sedangkan dalam Hulul diri Al-Hallaj tidak hancur. Juga dalam Ittihad yang dilihat hanya satu wujud, sedangkan Hulul yang dilihat ada dua wujud, tetap bersatu dalam satu tubuh. Sementara dengan Wihdatul Wujud, Tuhan meliputi segalanya. la adalah mutlak yaitu zat yang mandiri, yang keberadaan-Nya tidak disebabkan oleh sesuatu apapun.
Jadi sudah semakin jelas bahwa ajaran Abulung berbeda sekali dengan aliran Ittihad, Hulul dan Wihdatul Wujud, maka tentunya, tidak bisa digolongkan sebagai aliran wujudiyah, ia sekali lagi masih berada pada atau mirip aliran Al-Fana wal-Baqa dari Dzunun al-Mishri.
Kalau boleh disederhanakan perbedaan antara keempat tokoh ini, bisa berbentuk kalimat : “Abulung sebatas aku adalah Dia, Abu Yazid sudah memasuki Aku adalah Engkau, Al-Hallaj lebih ke dalam Aku dalam Engkau, Engkau dalam Aku, Ibnu Arabi sudah mencapai kesatuan Engkau-Engkau”.

Ajaran Abulung ini masih bisa ditolerir oleh syariat, bahkan ittihad menurut As-Sulaimi, At-Tusi dan Al-Qusyairi masih sejalan dengan Alquran dan As-Sunnah. Demikian juga aliran Hulul dan Wihdatul Wujud masih sesuai dengan ajaran Islam bahkan menurut Abdussamad Al-Palembani cocok bagi orang yang sudah mencapai tingkat muntahi yaitu orang yang telah sampai pengetahuan hakikatnya. Hatinya telah dibukakan oleh Allah. la telah dilimpahi ilmu ladunni dan telah mencapai makrifat dengan ainulyaqin dan haqqulyaqin,
Untuk tidak mudah mengkafirkan dan menyesatkan seseorang, kata K.H. Muslih Abdurrahman dalam menyikapi ucapan para sufi apalagi yang sudah mencapai tingkat makrifat-yang ditinjau dari kalimat lahiriyahnya bertentangan dengan syariat, maka kita berhenti saja di situ, tidak usah mengambil kesimpulan yang salah, bahkan kalau perlu mohonlah petunjuk kepada Allah agar kita mengerti maksud yang sebenarnya, karena sebagian ucapan dari ahli sufi yang sudah sampai ditingkat kesempurnaan itu adalah isyarat-isyarat yang samar dan tidak mudah dipahami.
Kata Ahli sufi tidak boleh diartikan harfiah seperti kata Syekh Abdul Qadir Al-Jailani : “Anta \vahidun fis sama-i \va Ana wahidunfil ardli”^ tidak diartikan Engkau Maha Esa di langit, sedangkan aku Maha Esa di bumi, melainkan diartikan: Ya Allah Engkau zat Maha Esa, yang menguasai langit dan bumi, adapun saya adalah orang yang mempersatukan seluruh jiwa ragaku di bumi ini semata-mata untuk musyahadah, munasabah dan menyembah ke pada-Mu.
Susunan kalimat seperti yang diucapkan Abdul Qadir ini dalam tata bahasa Arab menurut ilmu balaghah disebut badi’ mitsyakalah yakni makna yang jauh dari pengertian harfiahnya. Atau bisa juga dalam memahami ucapan-ucapan aneh para sufi tersebut sebagai kalimat syatahat (theo pattrical stamering) yakni, ucapan itu muncul pada seorang sufi dalam kata ganti orang pertama di luar sadarnya. Hal ini berarti bahwa dia telah fana dari dirinya sendiri serta kekal dalam zat yang Maha Besar, bukan ucapannya sendiri. Ungkapan-ungkapan yang diucapkan seorang sufi dalam kondisi begini, tidak ia ucapkan dalam kondisi

normal. Sebab jika ungkapan demikian terjadi dalam keadaan normal, jelasakan ditolak sendiri oleh orang yang mengucapkannya.
Kondisi tidak normal di sini berarti seorang sufi berbicara di bawah pengaruh ketidaksadaran dari ekstasi, di mana ia berada dalam keadaan dikendalikan Tuhan. Apa yang dia ucapkan sebenarnya bukan ucapan dia lagi, tetapi sudah ucapan Tuhan yang meminjam ucapannya.
Begitulah cara memahami tokoh-tokoh sufi yang kelihatan sepintas bertentangan dengan syariat, tetapi sebenarnya justru memberi roh kehidupan sedemikian bermakna pada syariat. Abulung (termasuk Hamzah Fansuri, Siti Jenar, Suhrawardi, Ibnu Arabi, Al-Hallaj dan Abu Yazid) dia tidak kafir dan sesat, masih berjalan di atas rel ajaran Islam.
Abulung tampaknya juga menganut faham Nur Muhammad, menurutnya bahwa asal kejadian makhukini berasal dari Nur Muhammad. Meskipun banyak kalangan yang menentang begitu keras tentang konsep ini, terutama kelompok Muhadditsin dan ulama yang rasional dan menempatkan pemahaman yang bersifat detail mengenai berbagai ajaran agama terutama jika didudukkan dalam konteks penegasan dan pemahaman akan dalil agama. Namun, adasebagian kaum sufi yang memegang konsep ini, yaitu aliran tasawuf falsafi.
Selanjutnya, Abulung mengatakan bahwa manusia akan melihat kesempurnaannya Zat Wajibul Wujud. Karena tubuh manusia yang kasar ini sekali-kali tidak dapat mengenai Allah. Sebab fana yang dapat mengenai Allah adalah dengan Nur Muhammad saw. Maka barang siapa mengenai atau meresapkan Nur Muhammad saw. berarti ia mengenai atau meresapkan Tuhannya, karena itu merupakan kenyataan wujud Allah yang kita miliki, seperti : penglihatan, pendengaran, pengrasaan, dan sebagainya, baginya yaitu Nur jua.(Abulung, 1975 :47).
Dalam kitab Risalah Tarawwfdikatakan yang dimaksud dengan fana al-fana artinya bersatunya batin manusia (syuhud) dengan Allah, bukan bersatunya zat manusia dengan zat Tuhan. Karena, antara manusia dan Tuhan merupakan dua eksistensi yang berbeda. Adapun cara mematikan diri itu ialah seperti diiktikadkan dengan tiada yang kuasa dan tiada yang berkehendak dan tiada

yang mengetahui tiada yang hidup dan tiada yang mendengar dan tiada yang melihat dan tiada yang berkata-kata hanya Allah sendiripada hakikatnya.
Menurut Humaidi, Syekh Abdul Hamid Abulung termasuk penganut tarekat Naqsyabandiyah yang sejak pemunculannya terkenal sangat berpegang teguh pada syariat. Namun berdasarkan isi Risalah Tasawuf Abulung sendiri tampaknya ia menganut tarekat Syatariyah. Pada intinya kedua analisis ini sama-sama memiliki argumen yang kuat karena kebiasaan ulama sufi tidak hanya berguru kepada seorang tokoh sufi saja atau lazimnya mempejari dan mengikuti beberapa tarekat.
Dalam kitab Risalah Taxawuf juga diungkapkan tentang Tuhan, manusia dan zikir . Zikir tersebut dibaginya kepada tiga, yaitu : zikir JU yaitu 4J1V -iiVl, zikir ^sL± yaitu tiada kata dengan lidah hanya ingat A\ -M – M , dan zikir pin “‘” yaitu umpama kucing mengintai tikus hingga didapatnya, maka ia lenyap pada zikir hati. Sedang zikir 4—*_£ yaitu tiada lain seperti zikir »J^, sebab ia mengenal dan senantiasa ia berzikir seperti firman Allah artinya : Dimana hadap kamu di sanalah zat Allah swt.
Aku sir (jiilj—«) – Aku J—* j*» Aku >* bapak = Aku sir ibu maka berdirilah kalimat La ila illallah dan mesrakan pada jasad kita. Zat umpama air La hakikat Allah yang sebenar-benarnya Allah itu. Rahasia la, adalah akal itu
bayang-bayang af al Allah. Zikirnya la ilaha illallah yakni ilmu al-yaqin.
Melihat zikir yang diajarkan oleh Abulumg tersebut maka diduga bahwa
zikir Abulung itu lebih cenderung ke tarekat Syatariyah, karena tarekat ini juga membicarakan tujuh macam zikir Ketujuh macam zikir ini diajarkan agar cita-cita manusia untuk kembali dan sampai kepada Allah dapat selamat dengan mengendarai tujuh nafsu itu. Ketujuh macam zikir itu sebagai berikut:
1. Zikir Thawaf, yaitu zikir dengan memutar kepala, mulai dari bahu kiri menuju bahu kanan, dengan mengucaokan laa ilaha ( 4JIV) sambil menahan nafas. Setelah sampai di bahu kanan, nafas di tank lalu mengucapkan illallah (<&W) yang dipukulkan ke dalam hati sanubari yang letaknya kira-kiraduajari di bawah susu kiri, tempat bersarangnya nafsu lawwamahL

10
2. Zikir nafi itsbat, yaitu zikir dengan (
memasukkan suara ke dalam Empunya asma Allah.
\ \ \
3. Zikir itsbat faqat, yaitu berzikir dengan ( &\ VI ), (<&' VI), (<&l VI), yang
dihujamkan ke dalam hati sanubari.
4. Zikir ismu zat, yaitu berzikit dengan ( •&!), (<3il), (Jil), yang dihujamkan ke tengah-tengah dada, tempat bersemayamnya roh yang menandai adanya hidup
dan kehidupan manusia.
\ \
5. Zikir Taraqi, yaitu zikir ( a &\ ,« <3it), Zikir Allah diambil dari dalam dada dan
Hu dimasukkan ke dalam bait al-Makmur (otak, markas pikiran). Zikir ini dimaksudkan agar pikiran selalu tersinari oleh Cahaya Tlahi.
6. Zikir Tanazul, yaitu zikir ( <5)l «,^Jl »),. Zikir Hu diambil dari bait al-makmur^ dan Allah dimasukkan ke dalam dada. Zikir ini dimaksudkan agar seorang salik senantiasa memiliki kesadaran yang tinggi sebagai insan Cahaya Ilahi.
7. Zikir Isim Ghaib, yaitu zikit ( « ,« , «)» dengan mata dipejamkan dan mulit dikatupkan kemudian diarahkan tepat ke tengah-tengah dada menuju ke arah ke
dalam rasa.(Salahuddin, 2001; 32-33 dan Masyhudi, 1998 ; 124-127)
Salah satu ajaran Syekh Abd. Al-Hamid Abulung yang cukup unik
adalah mengenai salat daim, Salat daim adalah salat lima waktu sehari semalam yang dilakukan oleh muslimin dan muslimat selama hidupnya secara terus-menerus, kecuali bila azal telah tiba. Namun, di kalangan sufi falsafi yang dimaksud salat daim adalah selalu ingat atau zikir kepada Allah tanpa putus-putusnya. Jadi, hakikat salat itu adalah untuk selalu ingat dan dekat kepada Allah. Maka hendaklah sembahyang Qadha al-Fawail dikerjakan setiap malam Jumat, kalau tak bisa mengerjakannya pada setiap malam Jumat, hendaknya dikerjakan sebulan sekali, kalau tidak bisa, hendaknya dikerjakan setahun sekali, jika tidak bisa juga, maka hendaknya dikerjakan sekali dalam seumur hidupnya.(Abulung, 11, 1986 : 28-30).

Salat dalam pandangan kaum syariat atau tasawuf Sunni merupakan kewajiban seorang hamba kepada Allah. Tujuannya agar manusia selalu ingat dan dekat kepada Allah agar terhindar dari perbuatan munkar. Salat merupakan amal orang Islam yang paling utama dan yang pertama dihisab di hari pembalasan nanti. Bahkan merupakan tiang agama, barang siapa yang melaksanakan secara kontuitas, maka ia telah memperkokoh agama Islam. Dan barang siapa yang meninggalkannya atau tidak melakukan salat berarti merusak agama Islam.
Salat daim dalam pandangan kaum sufi merupakan suatu ibadat yang wajib dilakukan kaum niuslimin. Namun pelaksanaan salat daim melalui tahapan-tahapan tertentu, bagi orang awam harus membiasakan atau melatih diri melakukannya dari setiap malam Jumat (seminggu sekali) sebagaimana tata cara tersebut di atas. Tujuan salat daim adalah untuk menghapuskan dosa-dosa yang dia tidak kerjakan. Sedangkan bagi kalangan arifbillah salat daim hanya dilaksanakan sekali dalam seumur hidup.
Berdasarkan pemahaman di atas, ajaran salat daim mempunyai dayak tarik tersendiri, terutama kalangan awam dari komunitas Islam. Karena mereka mempelajari ajaran salat daim atau qadha al-fa\vait ini, sehingga mereka juga tidak melaksanakan salat lima waktu sehari sebagaimana yang diwajibkan kepada umat Islam.
Ajaran salat daim ini telah mewabah di kalangan masyarakat Islam kelas bawah, khususnya di Kalimantan Selatan. Salat daim dikenal di kalangan masyarakat muslim Banjar dengan istilah llmu Sabuku, yaitu orang tnuslim cukup melakukan salat sekali seumur hidup atau salat bisa ditamatkan (sembahyang hatamat\ seperti umat Islam mempelajari Alquran yang bisa ditamatkan. D. Kesimpulan dan saran.
Dalam Risalah Tasawuf Abdul Hamid Abulung, sekurang-kurangnya terdapat empat hal yang cukup penting untuk di kaji secara mendalam, yaitu : Pertama, ajaran Nur Muhammad menurutnya adalah sebenar-benar kejadian manusia (alam semesta)ini berasal dari roh dan roh itu berarasal dari Nur Muhammad. Kedua, Fana ialah bersatunya manusia dengan Tuhan, tetapi bukan bersatunya zat manusia dengan Tuhan. Ketiga, memperhatikan zikir yangada

12
pada Risalah Tasawuf kearah tarekat Syatariyah, walaupun Abdul Hamid Abulung tidak mengatakan tarekat yang dianutnya. Keempat, Safat Daim ialah salat yang dilakukan untuk mengingat kepada Allah, tetapi dilakukan seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali atau bila tidak bisa melakukannya cukup sekali seumur hidup. Dalam bahasa Banjar dikenal dengan istilah ilmu sahuku ialah melakukan salat sekali seumur hidup.
Dalam penelitian naskah kono (klasik Islam) ini, penulis mnyampaikan saran-saran sebagai berikut:
1. Kepada masyarakat terutama masyarakat Muslim di daerah ini dihimbau dalam mempelajari kitab Risalah Tasawuf yang ditulis oleh Syekh Abdul Hamid Abulung hendaknya berhati-hati, karena kitab tersebut dianggap mengajarkan dokrin tasawuf yang menyesatkan (menyebarkan ilmu sahuku) serta bisa mengakibatkan orang menjadi bid'ah, sesat, zindik dan kafir.
2. Kepada masyarakat terutama masyarakat Muslim di daerah ini dihimbau dalam memilih dan mempelajari kitab-kitab dan ajaran-ajaran tasawuf harus selektif, agar terhindar dari ajaran-ajaran tasawuf yang bertentangn dengan Alquran dan Sunnah, karena telah banyak beredar kitab-kitab dan ajaran-ajaran tasawuf yang dipegang dan dianut serta dipelajari di masyarakat.
3. Kepada para pengambil kebijakan terutama MajelisUlama Indonesia (MUI) Propinsi Kalimantan Selatan dan Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Kalimantan Selatan diharapkan untuk meningkatkan pengawasan dan pembinaan terhadap kitab-kitab dan pengajian-pengajian tasawuf yang adadi masyarakat, karena telah banyak kitab-kitab yang beredar dan pengajian tasawuf yang menyimpang dari syariat agama Islam, pada hal ajaran tasawuf merupakan salah satu solusi dalam menghadapi kehidupan modern dewasa ini.
4. Diharapkan ada yang berminat untuk mengadakan penelitian lebih lanjut terutama pada pemikiran tasawuf Abdul Hamid Abulung. Karena sampai saat ini belum ada penelitian yang komprehensif tentang figur Ulama sufi ini.

r
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Hamid Abulung, Risalah Tasawuf, Jilidl dan //, Banjarmasin, 1986.
Abdul Karim al-Qusyairiyah, Al-Risalah al-Qusyairiyah ft llmu Tasawuf, Karo, 1966.
Abdul Mujib, Fitrah Dan Kepribadian Islam, Sebuah Pendekatan Psikologis, Jakarta, Darul Falah, 1999.
Abdul Shamad al-Palimbani, Sayr al-Salikin, Dar al-Ihya al-Kutub al-Arabiyah Juz III.
Abdul Hadi W.M., Hamzah Fansuri, Risalah Tasawuf dan Puisi-Puisinya, Bandung, Mizan, 1995.
Abdul Muis, Masuk dan Tersebarnya Islam di Kalimantan Selatan, Makalah yang disampaikan pada Pra Seminar Sejarah Kalimantan Selatan, Banjarmasin, 1973.
Abu Bakar Aceh, Pengantar llmu Tasawuf Solo, Ramadhani, 1984.
Abu Daudi, Riwayat HidupSyekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Makalah yang di sampaikan pada Seminar Internasional Pemikiran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari di Banjarmasin, 2003.
Abu Hamid Muhammad al-Gazali, Ihya Ulum al-Din, Kairo, Dar al-Sya'b, t.t.
Ahmad al-Santanawi (et-al), Dairul al-Maarif al-lslamiyah, Beirut, Dar al-Fikr, t.tp.
Ahmad Basuni, Nur Islam di Kalimantan Selatan, Surabaya, Bina llmu, 1986.
Ahmadi Isa, Ajaran Tasawuf Muhammad Nafis Dalam Perbandingan, Jakarta, Sri Gunting, 2001
Al-Attas, Sayed Muhammad Naguib, The Mysticism of Hamzah Fansuri, Kuala Lumpur University of Malayu Press, 1970
Al-Fani Daud, Beberapa ciri Etos Budaya masyarakat Banjar, Banjarmasin, IAIN Antasari, 2001.
Asmaran AS., Pengantar Studi Tasawuf, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1990. Asywadie Syukur, M., llmu Tasawuf, Surabaya, Bina llmu, 1988.

, Kritik Terhadap Hadis Nur Riwayat Abdurrazak, Banjarmasin, IAIN
Antasari Fakultas Dakwah, t.tp.
Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara A bad XVH-XVllI, Bandung, Mizan, 1994.
Fathullah Gulen, Kunci-Kunci Rahasia Sufi, Jakarta, Sri Gunting, 2001.
Hamka, Tasawuf; Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta, Pustaka, Panjimas, 1979.
Hamzah Fansuri, Risalah Tasawuf, Bandung, Mizan, 1995.
Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1973.
Hasan, Abdul Hakim, at-Tasawuf Fis Syi'ril Arabi, Mesir, Maktabul Anjalul Misriyah, 1954.
Humaidy, Tragedi Datu Abulung: Manipulasi Kuasa Atas Agama, Dalam Jurnal Kebudayaan Kandil Melintas Tradisi, Edisi 2, Tahun I September 2003.
Ibn Arabi, Al-Futuhat al-Makiyyahy Kairo, Al-Haat al-Muhriyat al-Amanah al-Kitab, 1972/1392.
————, Fushusul Hi/cam, Kairo, Mustaia Babil Halabi, 1967. Ibrahim Basuni, Nasat al-Tasawuffil Islam, Kairo, Dar al-Maarif. 1969. Ibrahim Madkur, Aliran dan Teori Filsafat Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1995. Ilyas Ismail, A., Pintu-Pintu Kebaikan, Jakarta. Raja Graflndo Persada, 1997.
Mashudi, Tare/cat Qadariyah, Rifaiyah, Naqsyabandiyah, Syathariyah Dalam Naskah Kono Dari Penegeri Tandes, Gresek, 1998.
Masignon, Lois, al-Halajj, Sang Sufi Syahid, Terj. Devvi Camdraningrum, Yogyakarta, Fajar Pustaka Baru, 2000.
Nabillah Lubis, Naskah, Teks dan Metode Peneiitian Filologi, Jakarta, Yayasan Media Ala Indonesia, 2001,
Rivay Sireger, A., Tasawuf Dari Sufisme Klasik Ke Neo-Sufisme, Jakarta, Raja Gratmdo Persada, 1999.

Salahuddin, Tarekat Syathariyah Dalam Majalah Sufi, 12/Tahun IJ/Mei 2001.
Simuh Tasawuf dan Perkembangannya Dalam Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1996.
Syahrudi, Nur Muhammad Antara Fiisafat Dan Tasawuf, Dalam Tabloid Jumat Serambi Ummah No.186, tanggal 6-12 Juni 2003.
Tim, Ensikolopedia Islam Indonesia, Jakarta, IA1N Syarif Hidayatullah, 1992. Tim, Pengantar llmu Tasawuf, Medan, IAIN Sumatera Utara, 1982.
Yusnaril Ali, Membersihkan Tasawuf Dari Bid'ah dan Khurafat, Jakarta, Pedoman Ihnu Jaya, 1992.
____, Pllar-Pilar Tasawuf, Jakarta, Kalam Mulia, 1999.
Yusuf Halidi, Ulama Besar Kalimantan Selatan, Banjarmasin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Surabaya, Al-Ihsan, 1972..
Zamzam, Zafri, Syekh Muhammad Arsyad ai-Banjari; Ulama Besar Juru Dakwah, Banjarmasin, Karya, 1979.
Zurkani Jahja, Hubungan Ajaran tare/cat Sammaniyah Dengan tare/cat yang Lainnya, Makalah seminar Bulanan Lembaga kaj ian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3), Jumat, 19 April 2002.
Diposkan oleh Sahriansyah di 22.10.08
0 komentar:

Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka
Langgan: Poskan Komentar (Atom)
Arsip Blog

* ▼ 2008 (5)
o ▼ Oktober (4)
+ RIWAYAT HIDUP DATU SANGGUL
+ RISALAH TASAWUF SYEKH ABDUL HAMID ABULUNG Oleh : S…
+ AJARAN TASAWUF SYEKH ABDURRAHMAN SHIDDIQ AL-BANJAR…
+ SEJARAH MUHAMMADIYAH PCM DAHA SELATAN KAB. HSS KAL…
o ► September (1)
+ Etnis Banjar

Mengenai Saya

Sahriansyah

Lihat profil lengkapku
Benarkah etnis banjar religius ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: