Guru Sakumpul

Islam di Tanah Banjar
Bermakna, Berbagi, dan Meyakini.
Rabu, Juli 30, 2008
ABAH FALAK BOGOR DAN ABAH GURU SEKUMPUL
Berturut-turut untuk mengenang dan haul Tuan Guru Al-‘Alimul Fadhil H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari atau Guru Sekumpul, saya telah mempublikasikan 2 tulisan tentang beliau, yakni: “MENGENANG 1 TAHUN WAFATNYA GURU SEKUMPUL” dan “MEMBACA KEILMUAN, KEULAMAAN, DAN KETELADANAN GURU SEKUMPUL”. Berikut apresiasi saya memperingati haul tahun ke-3 wafatnya Guru Sekumpul, bertepatan dengan 5 Rajab 1429 H ─ 8 Juli 2008 M.
Dalam buku berjudul ‘Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Tuan Haji Besar)’, dinyatakan bahwa Guru Sekumpul telah mendapatkan sanad berbagai bidang ilmu dan tarekat dari berbagai orang guru, salah seorang di antaranya adalah dari K.H. Falak Bogor. Bahkan dikatakan pula bahwa K. H. Falak Bogor adalah “Guru Khusus dan guru pertama secara rohani” dari Guru Sekumpul: “Guru pertama secara rohani Guru sekumpul adalah Al-‘Alimul ‘allamah Ali Junaidi (Berau) bin ‘Alimul Fadhil Qadhi H. Muhammad Amin bin ‘Alimul ‘allamah Mufti H. Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad, dan ‘Alimul ‘allamah H. Muhammad Syarwani Abdan (Bangil). Kemudian ‘Alimul ‘allamah H. Muhammad Syarwani Abdan menyerahkan kepada Kyai Falak Bogor dan seterusnya Kyai Falak menyerahkan kepada ‘Alimul ‘allamah Asy-Syekh As-Sayyid Muhammad Amin Qutby, kemudian beliau menyerahkan kepada Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang selanjutnya langsung dipimpin oleh Rasulullah Saw (Abu Daudi, 1996: 145-146).
Siapakah K.H. Falak Bogor? Tulisan singkat ini mencoba membutiri kembali informasi tentang sosok K.H. Falak Bogor.
Semasa hidupnya, K.H. Falak Bogor atau populer dengan sebutan Abah Falak dikenal sebagai seorang ulama yang dermawan. Banyak orang yang datang kepada beliau untuk meminta tolong dan beliau selalu memberikan pertolongan kepada orang-orang yang meminta pertolongan. Abah Falak juga dikenal sebagai seorang ulama besar yang kharismatik dan memilki kedalaman ilmu serta pengaruh yang sangat luas. Beliau tidak hanya ahli zikir dan Ilmu Tarekat, akan tetapi juga ahli dalam Ilmu Kasyaf dan Falak. Itulah sebabnya, berkat kepintaran dalam cabang Ilmu Kasyaf dan Falak, oleh Syekh Sayyid Afandi Turqi di Mekkah, beliau diberikan gelar ‘falak’, hingga kemudian gelar itu populer dan melekat pada nama beliau.
Nama sebenarnya dari Abah Falak yang dilahirkan di Pandeglang Banten pada tahun 1842 M – 1258 H ini adalah Tubagus Muhammad. Ayahnya bernama K.H. Tubagus Abas dikenal sebagai seorang ulama besar di Banten dan pendiri Pondok Pesantren Tabi. Sedangkan ibunya bernama Ratu Kuraisin. Berdasarkan garis silsilah dari ayahnya, Abah Falak berasal dari keturunan keluarga besar kesultanan di Banten. Itulah sebabnya kenapa di depan namanya memakai gelar kebangsawanan Banten, ‘Tubagus’ sebagaimana pula nama ayahnya. Bahkan merujuk kepada silsilah keluarganya, Abah Falak masih keturunan dari salah seorang walisongo, yakni Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati).
Sejak kecil, Abah Falak dikenal sebagai seorang yang sangat mencintai ilmu dan gigih dalam belajar. Dia mulai mendapat pendidikan agama yang ketat dari ayahnya dalam bidang bidang baca tulis Alquran dan akidah Islam. Pelajaran agamanya semakin bertambah seiring dengan bertambahnya usia. Oleh ayahnya ia juga diajarkan ilmu tarekat. Dalam usia yang masih muda, Abah Falak sempat mengembara selama 15 tahun untuk menggali dan menuntut ilmu ke beberapa ulama besar yang ada di daerah Banten dan Cirebon.
Pada tahun 1857, ketika berusia 15 tahun, oleh ayahnya, Abah Falak diberangkatkan ke Mekkah untuk belajar dan memperdalam ilmu agama kepada sejumlah ulama besar ketika itu. Di antaranya, sanad Ilmu Hadits diterima dari Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi. Syekh Nawawi adalah ulama besar Indonesia yang mukim dan mengajarkan ilmu di Mekkah. Karena itu, kebanyakan ulama besar Indonesia pada masa itu pernah berguru dan menuntut ilmu kepada beliau. Salah seorang ulama besar yang juga menjadi murid beliau dari Syekh Abdurrahman Siddiq al-Banjari (mufti Kerajaan Indragiri Riau) yang merupakan cicit (keturunan keempat atau kelima) dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Dengan demikian, Syekh Abdurrahman Siddiq pernah berguru (seguru) dengan Abah Falak. Kemudian, sanad Ilmu Khasyaf dan Falak diterima dari Syekh Sayyid Afandi. Abah Falak juga sempat berguru kepada Syekh Abdul Karim dan beberapa ulama besar lainnya yang ada di Jazirah Arab.
Selama menuntut ilmu di Mekkah, Abah Falak tinggal bersama Syekh Abdul Karim, dan dari Syekh Abdul Karim ini beliau mendapatkan kedalaman Ilmu Tarekat dan Tasawuf. Bahkan kemudian, oleh Syekh Abdul Karim yang dikenal sebagai seorang Wali Agung dan ulama besar dari tanah Banten yang menetap di Mekkah ketika itu, Abah Falak dibai’at hingga mendapat kepercayaan sebagai mursyid (guru besar) dalam tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.
Setelah mukim kurang lebih 21 tahun di Mekkah dan menuntut berbagai cabang ilmu agama dari banyak ulama, pada tahun 1878, Abah Falak kembali ke tanah air. Sebelum mendirikan Pesantren Al-Falak Pagentongan, selama beberapa pekan K.H. Falak tinggal di tempat kelahirannya Pandeglang Banten dan mendapat kepercayaan untuk memimpin pesantren ayahnya. Kemudian, setelah dikawinkan dengan Hj. Fatimah (putri K.H Romli) yang berasal dari Pagentongan, Abah Falak kemudian pindah ke Pagentongan. Di sinilah beliau kemudian mendirikan masjid dan pondok pesantren ‘Al-Falak‘ desa Pagentongan pada tahun 1901.
Setelah mengabdikan ilmunya kepada masyarakat luas, memperjuangkan dakwah, dan mendidik umat, Abah Falak wafat pada tahun 1972, dalam dalam usia kurang lebih 130 tahun. Beliau dimakamkan di areal komplek pemakaman Pondok Pesantren Al-Falak yang berlokasi tidak jauh dari masjid Al-Falak, desa Pagentongan, Bogor Barat. Beliau meninggal karena sakit ringan. Ketika wafat, banyak ulama dan Habaib dari berbagai daerah yang datang bertakziah, menshalatkan, dan ikut mengantarkan beliau ke kubur.
Pengabdian dan jerih payah Abah Falak sebagai seorang pendidik, telah banyak melahirkan santri-santrinya menjadi ulama yang kemudian meneruskan jejaknya dengan mendirikan majelis-majelis taklim, pondok pesantren, madrasah-madrasah dan berbagai lembaga ilmu pengetahuan Islam, tersebar tidak hanya di daerah Jawa Barat, tetapi juga diberbagai wilayah lainnya di Indonesia, bahkan sampai ke mancanegara. Ketinggian ilmu, kelembutan bahasa, dan kebaikan budi pekerti Abah Falak membuat beliau dikagumi oleh semua orang. Wajar jika banyak tuan guru dan ulama yang menyauk ilmu kepada beliau.
Sesudah anda berziarah ke Sekumpul Martapura dan kemudian mengikuti wisata religius ke daerah Banten, Cirebon, Bandung, Bogor, dan sekitarnya, saya sarankan agar tidak lupa untuk berziarah pula ke Pondok Pesantren Al-Falak dan makam Abah Falak, yang terletak di desa Pagentongan Bogor Barat, berjarak lebih kurang 5 Km dari pusat Kota Bogor. (Teriring Salam takzhim untuk Guru H. M. Irsyad Zein, Dalam Pagar Martapura)

Posted by zuljamalie@yahoo.co.id at 17:07:29 | Permanent Link | Comments (2) |
Jumat, September 21, 2007
MENGENANG TUAN GURU H.M. ZAINI ABDUL GHANI AL-BANJARI
Oleh: H.M. Irsyad Zein, Dalam Pagar, Martapura)
(Zuriat ke-6 Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari)
Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. Muhammad Zaini Abdul Ghani bin Al ‘arif Billah Abdul Ghani bin H. Abdul Manaf bin Muhammad Seman bin H. M. Sa’ad bin H. Abdullah bin ‘Alimul ‘allamah Mufti H. M. Khalid bin ‘Alimul ‘allamah Khalifah H. Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Guru Sekumpul), dilahirkan pada, malam Rabu 25 Muharram 1361 H (11 Februari 1942 M).
Nama kecil beliau adalah Qusyairi. Sejak kecil beliau sudah termasuk dari salah seorang yang mahfuzh, yaitu suatu keadaan yang sangat jarang sekali terjadi, kecuali bagi orang-orang yang sudah dipilih oleh Allah SWT.
Beliau adalah salah seorang anak yang mempunyai sifat-sifat dan pembawaan yang lain daripada anak-anak yang lainnya, di antaranya adalah bahwa beliau tidak pernah ihtilam.
‘Alimul ‘allamah Al Arif Billah Asy-Syekh H. Muhammad Zaini Abdul Ghani sejak kecil selalu berada di samping kedua orang tua dan nenek beliau yang benama Salbiyah. Beliau dididik dengan penuh kasih sayang dan disiplin dalam pendidikan, sehingga di masa kanak-kanak beliau sudah mulai ditanamkan pendidikan Tauhid dan Akhlaq oleh ayah dan nenek beliau. Beliau belajar membaca Alquran dengan nenek beliau. Dengan demikian guru pertama dalam bidang ilmu Tauhid dan Akhlaq adalah ayah dan nenek beliau sendiri.
Meskipun kehidupan kedua orang tua beliau dalam keadaan ekonomi yang sederhana, namun mereka selalu memperhatikan untuk turut membantu dan meringankan beban guru yang mengajar anak mereka membaca Alquran, sehingga setiap malamnya beliau selalu membawa bekal botol kecil yang berisi minyak tanah untuk diberikan kepada guru yang mengajar Alquran.
Dalam usia kurang lebih 7 tahun beliau sudah mulai belajar di madrasah (pesantren) Darussalam Martapura.
Guru-guru ‘Alimul’allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani, antara lain adalah:
1. Di tingkat Ibtida adalah: Guru Abdul Mu’az, Guru Sulaiman, Guru Muh. Zein, Guru H. Abdul. Hamid Husin, Guru H. Mahalli, Guru H. Rafi’i, Guru Syahran, Guru H. Husin Dakhlan, Guru H. Salman Yusuf
2. Di tingkat Tsanawiyah adalah: ‘Alimul Fadhil H. Sya’rani’Arif, ‘Alimul Fadhil H, Husin Qadri, ‘Alimul Fadhil H. Salilm Ma’ruf, ‘Alimul Fadhil H. Seman Mulya, ‘Alimul Fadhil H. Salman Jalil.
3. Guru di bidang Tajwid ialah: ‘Alimul Fadhil H. Sya’rani ‘Arif, ‘Alimul Fadhil Al Hafizh H. Nashrun Thahir, ‘Al-Alim H. Aini Kandangan.
4. Guru Khusus adalah: ‘Alimul’allamah H. Muhammad Syarwani Abdan Bangil, ‘Alimul’allamah Asy Syekh As Sayyid Muhammad Amin Qutby. Sanad sanad dalam berbagai bidang ilmu dan Thariqat, antara lain diterima dari:
Kyai Falak Bogor (Abah Falak), ‘Alimul’allamah Asy-Syekh Muhammad Yasin Padang (Mekkah), ‘Alimul’allamah Asy-Syekh Hasan Masysyath, ‘Alimul’allamah Asy- Syekh Isma’il Yamani dan ‘Alimul’allamah Asy-Syekh Abdul Qadir Al-Baar.
5. Guru pertama secara Ruhani ialah: ‘Alimul ‘allamah Ali Junaidi (Berau) bin ‘Alimul Fadhil Qadhi H. Muhammad Amin bin ‘Alimul ‘allamah Mufti H. Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad, dan ‘Alimul ‘allamah H. Muhammad Syarwani Abdan (Bangil). Kemudian ‘Alimullailamah H. Muhammad Syarwani Abdan menyerahkan kepada Kyai Falak Bogor dan seterusnya Kyai Falak menyerahkan kepada ‘Alimul’allamah Asy-Syekh As-Sayyid Muhammad Amin Qutby, kemudian beliau menyerahkan kepada Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang selanjutnya langsung dipimpin oleh Rasulullah Saw. Atas petunjuk ‘Alimul’allamah Ali Junaidi, beliau dianjurkan untuk belajar kepada ‘Alimul Fadhil H. Muhammad (Gadung Rantau) bin ‘Alimul Fadhil H. Salman Farisi bin ‘Allimul’allamah Qadhi H. Mahmud bin Asiah binti Syekh Muhammad Arsyad, untuk mengenal masalah Nur Muhammad; maka dengan demikian di antara guru beliau tentang Nur Muhammad antara lain adalah ‘Alimul Fadhil H. M. Muhammad tersebut di atas.
Dalam usia kurang lebih 10 tahun, sudah mendapat khususiat dan anugerah dari Tuhan berupa Kasyaf Hissi yaitu melihat dan mendengar apa-apa yang ada di dalam atau yang terdinding. Dan dalam usia itu pula beliau didatangi oleh seseorang bekas pemberontak yang sangat ditakuti masyarakat akan kejahatan dan kekejamannya. Kedatangan orang tersebut tentunya sangat mengejutkan keluarga di rumah beliau. Namun apa yang terjadi, laki-laki tersebut ternyata ketika melihat beliau langsung sungkem dan minta ampun serta memohon untuk dikontrol atau diperiksakan ilmunya yang telah ia amalkan, jika salah atau sesat minta dibetulkan dan diapun minta agar supaya ditobatkan.
Mendengar hal yang demikian beliau lalu masuk serta memberitahukan masalah orang tersebut kepada ayah dan keluarga, di dalam rumah, sepeninggal beliau masuk kedalam ternyata tamu tersebut tertidur. Setelah dia terjaga dari tidurnya maka diapun lalu diberi makan dan sementara tamu itu makan, beliau menemui ayah beliau dan menerangkan maksud dan tujuan kedatangan tamu tersebut. Maka kata ayah beliau tanyakan kepadanya apa saja ilmu yang dikajinya. Setelah selesai makan lalu beliau menanyakan kepada tamu tersebut sebagaimana yang dimaksud oleh ayah beliau dan jawabannva langsung beliau sampaikan kepada ayah beliau. Kemudian kata ayah beliau tanyakan apa lagi, maka jawabannyapun disampaikan beliau pula. Dan kata ayah beliau apa lagi, maka setelah berulang kali di tanyakan apa lagi ilmu yang ia miiki maka pada akhirnya ketika beliau hendak menyampaikan kepada tamu tersebut, maka tamu tersebut tatkala melihat beliau mendekat kepadanya langsung gemetar badannya dan menangis seraya minta tolong ditobatkan dengan harapan Tuhan mengampuni dosa-dosanya.
Pernah rumput-rumputan memberi salam kepada beliau dan menyebutkan manfaatnya untuk pengobatan dari beberapa penyakit, begitu pula batu-batuan dan besi. Namun kesemuanya itu tidaklah beliau perhatikan dan hal-hal yang demikian itu beliau anggap hanya merupakan ujian dan cobaan semata dari Allah SWT.
Dalam usia 14 tahun, atau tepatnya masih duduk di Kelas Satu Tsanawiyah, beliau telah dibukakan oleh Allah Swt atau futuh, tatkala membaca ayat: Wakanallahu syami’ul bashiir.
‘Alimul’allamah Al-‘Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani, sejak kecilnya hidup di tengah keluarga yang shalih, maka sifat-sifat sabar, ridha, kitmanul mashaib, kasih sayang, pemurah dan tidak pemarah sudah tertanam dan tumbuh subur di jiwa beliau; sehingga apapun yang terjadi terhadap diri beliau tidak pernah mengeluh dan mengadu kepada orang tua, sekalipun beliau pernah dipukuli oleh orang-orang yang hasud dan dengki kepadanya. Beliau adalah seorang yang sangat mencintai para ulama dan orang orang yang shalih, hal ini tampak ketika beliau masih kecil, beliau selalu menunggu tempat tempat yang biasanya ‘Alimul Fadhil H. Zainal Ilmi lewati pada hari-hari tertentu ketika hendak pergi ke Banjarmasin semata-mata hanya untuk bersalaman dan mencium tangan tuan Guru H. Zainal Ilmi.
Di masa remaja ‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M Zaini Abdul Ghani pernah bertemu dalam rukyah (mimpi) dengan Saiyidina Hasan dan Saiyidina Husien (cucu Nabi Saw) yang keduanva masing-masing membawakan pakaian dan memasangkan kepada beliau lengkap dengan sorban dari lainnya. Dan beliau ketika itu diberi nama oleh keduanya dengan nama Zainal ‘Abidin. Setelah dewasa, maka tampaklah kebesaran dan keutamaan beliau dalam berbagai hal dan banyak pula orang yang belajar. Para Habaib yang tua-tua, para ulama dan guru-guru yang pernah mengajari beliau, karena mereka mengetahui keadaan beliau yang sebenarnya dan sangat sayang serta hormat kepada beliau.
‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani adalah seorang ulama yang menghimpun antara wasiat, thariqat dari haqiqat, dan beliau seorang yang hafazh Alquran beserta hafazh tafsirnya, yaitu tafsir Alquran Al-‘Azhim lil-Imamain Al-Jalalain. Beliau seorang ulama yang masih termasuk keturunan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan menghidupkan kembali ilmu dan amalan-amalan serta thariqat yang diamalkan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Karena itu majelis pengajian beliau, baik majelis ta’lim maupun majelis ‘amaliyahnya di Komplek Raudah Sekumpul seperti majelis Syekh Abdul Kadir al-Jailani.
Sifat lemah lembut, kasih sayang, ramah tamah, sabar, dan pemurah sangatlah tampak pada diri beliau, sehingga beliau dikasihi dan disayangi oleh segenap lapisan masyarakat, sahabat dan anak murid. Kalau ada orang yang tidak senang melihat akan keadaan beliau dan menyerang dengan berbagai kritikan dan hasutan maka beliaupun tidak pernah membalasnya. Beliau hanya diam dan tidak ada reaksi apapun, karena beliau anggap mereka itu belum mengerti, bahkan tidak mengetahui serta tidak mau bertanya.
Tamu-tamu yang datang ke rumah beliau, pada umumnya selalu beliau berikan jamuan makan, apalagi pada hari-hari pengajian, seluruh murid murid yang mengikuti pengajian yang tidak kurang dari 3.000-an, kesemuanya diberikan jamuan makan. Sedangkan pada hari hari lainnya diberikan jamuan minuman dan roti.
Beliau adalah orang yang mempunyai prinsip dalam berjihad yang benar-benar mencerminkan apa apa yang terkandung dalam Alquran, misalnya beliau akan menghadiri suatu majelis yang sifatnya dakwah Islamiyah, atau membesarkan dan memuliakan syi’ar agama Islam. Sebelum beliau pergi ke tempat tersebut lebih dulu beliau turut menyumbangkan harta beliau untuk pelaksanaannya, kemudian baru beliau datang. Jadi benar-benar beliau berjihad dengan harta lebih dahulu, kemudian dengan anggota badan. Dengan demikian beliau benar-benar mengamalkan kandungan ayat Alquran yang berbunyi: Wajaahiduu bi’amwaaliku waanfusikum fii syabilillah.
‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani adalah satu-satunya Ulama di Kalimantan, bahkan di Indonesia yang mendapat izin untuk mengijazahkan (bai’at) thariqat Sammaniyah, karena itu banyaklah yang datang kepada beliau untuk mengambil bai’at thariqat tersebut, bukan saja dari Kalimantan, bahkan dari pulau Jawa dan daerah lainnya.
‘Alimul’allamah Al ‘Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani dalam mengajar dan membimbing umat tidak mengenal lelah dan sakit. Meskipun dalam keadaan kurang sehat, selama masih mampu, beliau masih tetap mengajar dan memberi pengajian.
Dalam membina kesehatan para peserta pengajian dalam waktu-waktu tertentu beliau datangkan dokter spesialis untuk memberiikan penyuluhan kesehatan sebelum pengajian dimulai, seperti dokter spesialis jantung, paru paru, THT, mata, ginjal, penyakit dalam, serta dokter ahli penyakit menular dan lainnya. Dengan demikian beliau sangatlah memperhatikan kesehatan para peserta pengajian dan kesehatan lingkungan tempat pengajian.
Berbagai karomah (kelebihan) telah diberikan oleh Allah kepada beliau. Ketika beliau masih tinggal di Kampung Keraton (Martapura), biasanya setelah selesai pembacaan maulid, beliau duduk-duduk dengan beberapa orang yang masih belum pulang sambil bercerita tentang orang orang tua dulu yang isi cerita itu untuk dapat diambil pelajaran dalam meningkatkan amaliyah.
Tiba tiba beliau bercerita tentang buah rambutan, pada waktu itu masih belum musimnya; dengan tidak disadari dan diketaui oleh mereka yang hadir beliau mengacungkan tangannya kebelakang dan ternyata di tangan beliau terdapat sebiji buah rambutan yang masak, maka heranlah semua yang hadir melihat kejadian akan hal tersebut. Dan rambutan itupun langsung beliau makan.
Ketika beliau sedang menghadiri selamatan dan disuguhi jamuan oleh shahibul bait (tuan rumah) maka tampak ketika, itu makanan, tersebut hampir habis beliau makan, namun setelah piring tempat makanan itu diterima kembali oleh yang melayani beliau, sesudah dilihat, ternyata makanan yang tampak habis itu masih banyak bersisa dan seakan-akan tidak pernah dimakan oleh beliau.
Pada suatu musim kemarau yang panjang, di mana hujan sudah lama tidak turun sehingga sumur-sumur sudah hampir mengering, maka cemaslah masyarakat ketika itu dan mengharap agar hujan bisa segera turun. Melihat hal yang demikian banyak orang yang datang kepada beliau mohon minta doa beliau agar hujan segera turun, kemudian beliau lalu keluar rumah dan menuju pohon pisang yang masih berada di dekat rumah beliau waktu itu, maka beliau goyang-goyangkanlah pohon pisang tersebut dan ternyata tidak lama kemudian, hujanpun turun dengan derasnya.
Ketika pelaksanaan Haul Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang ke 189 di Dalam pagar Martapura, kebetulan pada masa itu sedang musim hujan sehingga membanjiri jalanan yang akan dilalui oleh ‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syeikh H. M. Zaini Abdul Ghani menuju ke tempat pelaksanaan haul tersebut. Keadaan itu sempat mencemaskan panitia pelaksana haul tersebut, namun dan tidak disangka sejak pagi harinya jalanan yang akan dilalui oleh beliau yang masih digenangi air sudah kering, sehingga dengan mudahnya beliau dan rombongan melewati jalanan tersebut; dan setelah keesokan harinya jalanan itupun kembali digenangi air sampai beberapa hari kemudian.
Banyak orang orang yang menderita sakit seperti sakit ginjal, usus yang membusuk, anak yang tertelan peniti, ibu yang sedang hamil dan bayinya jungkir (sungsang) serta meninggal dalam kandungan, di mana semua kasus ini menurut keterangan dokter harus dioperasi. Namun keluarga sisakit kemudian pergi minta didoakan oleh ‘Allimul’allamah ‘Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani. Dengan air yang beliau berikan kesemuanya dapat tertolong dan sembuh tanpa dioperasi.
Demikianlah di antara karamah dan kekuasaan Tuhan yang ditunjukkan kepada diri seorang hamba yang dikasihi-Nya.
Sebelum wafat, Tuan Guru H.M. Zaini Abdul Ghani telah menulis beberapa buah kitab, antara lain:
– Risalah Mubaraqah.
– Manaqib Asy-Syekh As-Sayyid Muharnmad bin Abdul Karim Al-Qadiri Al-Hasani As-Samman Al-Madani.
– Ar-Risalatun Nuraniyah fi Syarhit Tawassulatis Sammaniyah.
– Nubdzatun fi Manaqibil Imamil Masyhur bil Ustadzil a’zham Muhammad bin Ali Ba’alawy.
Beliau juga sempat memberikan beberapa pesan kepada seluruh masyarakat Islam, yakni:
1. Menghormati ulama dan orang tua
2. Baik sangka terhadap muslimin
3. Murah hati
4. Murah harta
5. Manis muka
6. Jangan menyakiti orang lain
7. Mengampunkan kesalahan orang lain
8. Jangan bermusuh-musuhan
9. Jangan tamak atau serakah
10.Berpegang kepada Allah, pada kabul segala hajat
11.Yakin keselamatan itu pada kebenaran.
Setelah sempat dirawat selama lebih kurang 10 hari di rumah sakit Mount Elizabeth Singapura, karena penyakit ginjal yang beliau derita, pada hari Rabu, 5 Rajab 1426 H bertepatan dengan 10 Agustus 2005, beliau pun kembali menghadap Allah SWT. Innalillahi wa Inna Ilaihi Raaji’un, telah diangkat oleh Allah SWT ilmu melalui kewafatan seorang ulama.
Seluruh masyarakat Kalimantan merasa kehilangan seorang Tuan Guru yang menjadi panutan, penerang, dan penyuluh kehidupan umat. Kini umat Islam di Martapura dan Kalimantan Selatan umumnya, menantikan kembali, hadirnya generasi baru –ulama panutan– yang akan menggantikan atau paling tidak memiliki kharisma dan ilmu sebagaimana yang dimiliki oleh Guru Sekumpul, untuk memimpin dan membimbing umat menuju kedamaian di bawah ridha Allah SWT.
Posted by zuljamalie@yahoo.co.id at 13:51:11 | Permanent Link | Comments (1) |
Kamis, September 06, 2007
MEMBACA KEILMUAN, KEULAMAAN, DAN KETELADANAN GURU SEKUMPUL
Masih kuat dalam ingatan masyarakat Banjar, bagaimana rasa kehilangan dan kesedihan atas
wafatnya Al-Allimul Fadhil K.H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari yang populer dipanggil dengan nama Guru Sekumpul, dua tahun yang lalu. Generasi ketujuh dari ulama besar Banjar, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari ini wafat pada tanggal 5 Rajab 1426 H bertepatan dengan 10 Agustus 2005.
Beliau adalah sosok ulama kharismatik dan mumpuni, yang keharumanan nama dan keilmuannya
tidak hanya dikenal di Banua, namun juga sampai ke negara jiran, seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Kehadiran beliau di Bumi Kalimantan telah memberikan warna dan cahaya terang terhadap pengembangan dakwah dan syiar Islam, yang gemanya tidak hanya bergaung di banua, akan tetapi sampai keberbagai daerah di Indonesia. Dengan ilmu dan amal yang telah ditebarkannya,
kharisma dan keharuman Guru Sekumpul seakan ber-emanasi dan menyentuh hati ribuan jamaah yang menghadiri pengajiannya. Jamaahnya yang datang dari berbagai kota di Kalimantan Selatan
saban pengajian dilaksanakan, rela untuk berdesakan guna menyauk ilmu yang terus mengalir di Komplek Ar-Raudhah Sekumpul.
Guru Sekumpul adalah seorang ulama besar yang yang sulit dicarikan gantinya. Karena, beliau pergi dengan membawa ilmunya, “Sesungguhnya dicabut ilmu itu oleh Allah Swt dengan kewafatan ulama”. Beliau banyak meninggalkan teladan yang patut untuk kita contoh, beliau meninggalkan kebaikan
yang layak untuk dikenang, dan beliau meninggalkan warisan publik yang patut untuk diikuti. Kehadiran beliau di tengah masyarakat Banjar terasa sangat luar biasa. Kini, tidak terasa dua tahun sudah beliau meninggalkan kita semua. Tentu, bagi mereka yang pernah dekat dan berhubungan beliau, memiliki kesan dan kenangan tersendiri.
Umumnya, dalam komunitas Islam diberbagai daerah kehadiran ulama dalam memberi warna kehidupan
masyarakat memang sangat signifikan. Ulama memiliki kedudukan sangat penting di tengah-tengah masyarakatnya, sehingga kata-katanya dipatuhi dan perilakunya diikuti. Dalil utama yang sering menjadi sandaran atas peran penting ulama, sehingga mereka menjadi tokoh kunci (key people) adalah: “Ulama adalah pewaris para Nabi”.
Menurut bahasa, ulama merupakan bentuk plural dari kata alim, berarti orang yang mempunyai sifat tahu, mengerti, terpelajar, berilmu atau ilmuwan. Dalam Alquran seperti tercantum dalam surah Asy Syuraa 197 dan Al-Fathir 28 dijelaskan bahwa makna ulama yang terkandung dalam ayat tersebut tidak merujuk kepada pengertian khusus yang berarti sebagai orang-orang yang berpengetahuan agama saja, namun ia bersifat umum. Karena itu jika kita telusuri ulama hanyalah salah satu kelompok atau sinonim dari apa yang disebut dengan istilah ulil albab “orang-orang yang berakal, mempunyai pikiran, cendikiawan, ulama”, yakni sebagai “men of understanding and men of wisdom”. Kata-kata ulil albab disebut enam belas kali dalam Al Qur’an antara lain ia disebut sebagai orang yang diberi hikmah (Al-Baqarah 269), orang yang sanggup mengambil pelajaran (Yusuf 111), kritis mendengarkan pemikiran orang lain (Az-Zumar 18), orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu (Ali Imran 109), yang mengambil pelajaran dari kitab yang diwahyukan oleh Allah (As-Shaad 29, Al-Mu’min 54 dan Ali Imran 7) dan yang
takut kepada Tuhannya.
Karena itulah, Ali Syariati (seorang sosiolog Muslim Iran) menjuluki kelompok ulil albab tersebut sebagai pemikir yang mencerahkan. Ulama diibaratkan tongkat pemandu jalan di siang hari dan obor penerang di malam Karena itu, kehadirannya tidak hanya concern dengan peran keulamaannya (Tuan Guru), tetapi mestinya jugaterpanggil untuk melaksanakan kebenaran guna memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi mereka, merumuskan bahasa yang dapat dipahami mereka, serta siap menawarkan
strategi dan alternatif solusi terhadap berbagai problem yang dihadapi oleh masyarakat. Inilah tugas utama ulama kata Syariati. Untuk itu ia tidak hanya pandai dalam ilmu-ilmu agama, akan tetapi ia juga harus tahu ilmu-ilmu pengetahuan lain guna menunjang tugas yang diembannya selaku waratsatul anbiyaa.
Imam Ali ra menegaskan bagaimana strategisnya kedudukan ulama di tengah-tengah masyarakat.
Menurut Imam Ali: “Ulama adalah lampu Allah di bumi, maka barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, dia akan memperoleh cahaya (ilmu) itu darinya. Kedudukan ulama bagaikan pohon kurma, engkau menunggu kapan buahnya jatuh kepadamu. Jika seorang ulama meninggal, maka terjadi lubang dalam Islam yang tidak tertutupi sehingga datang ulama lain yang menggantikannya. Kesalahan
yang dilakukan ulama seperti pecahnya sebuah kapal, yang tidak hanya menenggelamkan dirinya, akan tetapi juga orang-orang yang ikut bersamanya”.
Kecintaan murid, jamaah, dan masyarakat Banjar terhadap sosok Guru Sekumpul semasa hidupnya tidak diragukan lagi. Bahkan, dengan ilmu, kealiman, akhlak, perilaku, beliau sudah dianggap sebagai
seorang “wali”, dengan “karamah” tertentu yang diberikan oleh Allah SWT. Sehingga ada di antara masyarakat yang bersikap terkesan agak berlebihan, bahkan terkadang mengarah kepada pengkultusan). Misalnya, ada pernyataan yang menegaskan bahwa: “Bagaimanapun tingginya ilmu seseorang atau gelar akademik yang dicapainya, dianggap belum sempurna jika belum menyauk ilmu di Sekumpul”.
Bertemu, bersalaman, dan bahkan berfoto dengan Guru Sekumpul adalah sesuatu yang sangat luar biasa (dan dianggap sebagai suatu keharusan). Inilah yang kemudian ada tuduhan tidak laik, bahwa siapapun yang bersalaman atau berfoto dengan beliau dikenakan bayaran. Benda apapun yang pernah dipakai atau berhubungan dengan Guru Sekumpul dianggap memiliki tuah atau manna, sehingga merupakan sesuatu keberuntungan atau sesuatu yang luar biasa jika memilikinya. Dan sebagainya”
Boleh jadi memang sikap itu adalah manifestasi kecintaan dan penghormatan mereka kepada Guru Sekumpul. Karena itu, tidak salah sikap dan perilaku masyarakat dalam mencintai, menghormati, dan meneladani Guru Sekumpul. Namun, apapun alasannya harus tetap dalam konteks kewajaran dan koridor yang semestinya, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, bukan untuk pengkultusan. Karena pengkultusan tidak diperbolehkan dalam Islam.
Pasca dua tahun wafatnya Guru Sekumpul dan di tengah peringatan haulnya yang kedua, penulis
jadi teringat beberapa apresiasi tentang beliau yang dimuat dalam majalah Sufi ketika profil beliau (yang bersumber dari tulisan Ayahnda K.H.M. Irsyad Zein, Dalam Pagar Martapura) dimuat dalam majalah ini dan kemudian mendapat tanggapan dari berbagai kalangan pembaca, yang sempat penulis baca melalui akses internet. Semua orang memang berhak mengatakan ini dan itu tentang beliau, namun terasa kurang etis jika ada yang meragukan keulamaan beliau.Ataupun menjelek-jelekan beliau hanya karena tidak suka. Karena yang terpenting adalah bagaimana bisa mengikuti jejak perjuangan dan meneladani beliau sesuai dengan koridor yang semestinya, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasul SAW.
Sejatinya dan sudahnya seharusnya jika manifestasi kecintaan kita terhadap Guru Sekumpul dalam rangka mengenang kewafatannya adalah dengan mengingat petuah dan nasihatnya, mengamalkan ilmu dan pengajarannya, serta mengikuti teladan kebaikan yang telah ditinggalkannya. “Semoga Allah Swt senantiasa mencurahkan rahmat, kasih sayang, dan ampunan-Nya kepada beliau dan kepada kita semua”. Amin.
(Teriring Salam takzhim untuk Guru K.H. M. Irsyad Zein, Dalam Pagar Martapura)
Posted by zuljamalie@yahoo.co.id at 11:06:31 | Permanent Link | Comments (0) |
1 2
Cari

*

my advertisement
zuljamalie@yahoo.co.id

* Location:Banjar

Tag Cloud

* Ulama Banjar
* Ramadhan
* Guru Sekumpul
* Sultan Banjar
* Datu Kalampayan

My Music
Komentar terakhir

* You are thinking, lots of hard work, much clearer, super pro
* great capture,beautiful composition with rich colours.
* Thanks so very much for taking your time to create this very
* Tidak ada komentar, mohon di kirimkan copy kitab Barencong
* Kepada pembaca blog ini dipersilakan pula untuk membaca tuli
* Terimakasih atas apresiasi anda, sayangnya, sampai saat ini
* Ma’af kami tidak memberikan komentar tapi minta infomasinya

Blogroll

* Cahaya-Sufi
* Islam-Banjar

May, 2009
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6
Arsip

* Juli – 2008
* September – 2007

* Random Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: