Datu Kalampayan

Kumpulan beberapa tulisan ZULFAJAMALIE DAN LAINNYA
Islam di Tanah Banjar
Bermakna, Berbagi, dan Meyakini.
Rabu, Juli 30, 2008 by Zulfajamalie
PERJUANGAN AL-BANJARI MEMBERSIHKAN DAN MENJAGA TAUHID URANG BANJAR
Pengantar
Kebesaran, keilmuan, ketokohan, jasa, dan perjuangan Al-Banjari mendakwahkan Islam di Bumi Kalimantan tidak diragukan lagi. Jejak emas dan khazanah pemikiran keagamaan dan kemasyarakatan yang beliau tinggalkan hingga sekarang menjadi teladan dan inspirasi untuk membangun masyarakat. Popularitas Al-Banjari tidak hanya di Bumi Kalimantan ataupun Tanah Melayu, akan tetapi juga Asia Tenggara. Tahun ini adalah haul Al-Banjari yang ke-201 tahun. Terobosan apa yang bisa kita lakukan untuk menggali dan mewariskan keilmuan, perjuangan, serta semangat keislaman Al-Banjari?
Untuk membumikan Islam, bidang garapan dakwah Al-Banjari menyentuh banyak persoalan, mulai bidang keagamaan, kemasyarakatan, hingga kenegaraan. Salah satu bidang keagamaan yang menjadi perhatian Al-Banjari adalah masalah ketauhidan (keimanan), terkait dengan berbagai upacara, kepercayaan, dan ritual yang dilakukan oleh masyarakat Banjar pada masa dulu. Bagaimana upaya Al-Banjari dalam membersihkan dan menjaga ketauhidan urang Banjar? Inilah yang menjadi fokus dari tulisan berikut.

Menjaga Ketauhidan
Berbagai upaya telah dilakukan oleh Al-Banjari untuk meluruskan keimanan dan menjaga ketauhidan orang Islam Banjar dari segala hal yang membawa kemusyrikan, di antaranya:
Pertama, menyampaikan dakwah lisan secara tegas dan jelas kepada seluruh kelompok masyarakat melalui aktivitas dakwahnya. Baik dengan menjelaskan berbagai hal yang terkait dengan ketauhidan, hal-hal yang dapat merusak ketauhidan, upaya meningkatkan, sekaligus menjaga ketauhidan dari perilaku-perilaku yang membawa kesyirikan. Al-Banjari bahkan melibatkan pula kelompok istana untuk mendukung dakwahnya. Terutama ketika Al-Banjari menjelaskan dan menegaskan hukum upacara tradisional manyanggar banua dan mambuang pasilih yang biasa dilakukan oleh masyarakat Banjar yang masih terpengaruh oleh keyakinan nenek moyang saat itu.
Upacara manyanggar banua adalah semacam upacara bersih desa (di Jawa dikenal dengan istilah upacara ruwatan), maksudnya agar desa selamat dari marabahaya dan mendapat kesejahteraan (kemakmuran) bagi penduduknya. Sedangkan upacara mambuang pasilih merupakan semacam upacara memberi sesaji kepada roh halus (roh nenek moyang) dengan maksud agar mendapat bantuannya dalam kehidupan, seperti menyembuhkan penyakit, membawa keselamatan, menghilangkan sial, dan mensukseskan segala permintaan. Komunikasi dengan roh tersebut dilakukan melalui seseorang (dukun) yang kesurupan, karena dimasuki oleh roh halus tersebut dalam jasadnya, sehingga bisa berbicara dengan mereka untuk mengetahui segala permintaan yang disampaikan oleh roh halus tersebut. Permintaan roh itu dipenuhi dengan sesaji yang telah disajikan melalui upacara tertentu.
Menurut Al-Banjari, upacara manyanggar banua dan mambuang pasilih, hukumnya adalah bid’ah dhalalah yang amat keji, wajib atas orang yang mengerjakannya segera taubat daripadanya, dan wajib atas segala raja-raja dan orang besar menghilangkan dia, karena yang demikian itu daripada pekerjaan maksiat yang mengandung kemunkaran.
Menurut Al-Banjari ada tiga macam kemunkaran yang terdapat dalam kedua upacara tersebut. Pertama, membuang-buang harta pada jalan yang diharamkan sama dengan mubazir, orang yang mubazir adalah teman setan, sebagaimana ditegaskan oleh QS. Al-Israa 27. Kedua, dalam upacara tersebut terkandung makna mengikuti setan dengan memenuhi segala permintaannya, padahal dalam Alquran tegas-tegas dinyatakan larangan untuk mengikuti setan, misalnya dalam QS. Al-Baqarah 208. Ketiga, dalam kedua upacara tersebut sudah memenuhi atau mengandung unsur kemusyrikan (perbuatan syirik) dan bid’ah sayyi’ah yang dilarang karena bertentangan dengan ajaran Islam.
Dilihat dari segi akidah, hukum dari kedua upacara tersebut menurut Al-Banjari dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Bila diyakini bahwa tidak tertolak bahaya kecuali dengan upacara atau dengan kekuatan yang ada pada upacara tersebut, maka hukumnya kafir.
2. Bila diyakini bahwa tertolaknya bahaya adalah karena kekuatan yang diciptakan Allah pada kedua upacara tersebut, maka hukumnya bid’ah lagi fasik, tetapi tetap hukumnya kafir menurut ulama.
3. Bila diyakini bahwa kedua upacara tersebut tidak memberi bekas, baik dengan kekuatan yang ada padanya maupun dengan kekuatan yang dijadikan Tuhan padanya, tetapi Allah jua yang menolak bahaya itu dengan memberlakukan hukum kebiasaan (hukum adat) dengan kedua upacara tersebut, maka hukumnya tidak kafir, tetapi hukumnya bid’ah saja. Namun bila diyakini bahwa kedua upacara itu halal atau tiada terlarang maka hukumnya juga kafir.
Dalam memberantas upacara-upacara tradisional seperti tersebut di atas, Al-Banjari tidak saja memberikan keputusan hukum seperti telah diuraikan, dia juga berusaha mematahkan segala argumen yang mungkin ataupun dikemukakan oleh para pelakunya untuk membenarkan apa yang telah mereka lakukan dalam upacara tersebut. Secara dialogis, Al-Banjari menggambarkan hal itu dalam kitabnya Tuhfah al-Raghibin, antara lain dijelaskan sebagai berikut:
1. Para pelaku mengatakan bahwa mereka hanya memberi makan manusia yang gaib (tidak mati) pada zaman dahulu dari kalangan raja-raja. Mereka itu diberi makan dengan warna makanan yang disajikan, sehingga tidak mubazir. Dengan itu mereka mengatakan bahwa mereka tidak meminta tolong untuk minta bantuannya dalam kehidupan ini. Untuk alasan ini, Al-Banjari menjawab bahwa alasan seperti itu tidak berdasarkan pada Alquran, hadits, atau pendapat ulama, tetapi hanya berdasarkan pada mitos saja, yang tidak bisa diperpegangi oleh umat Islam dalam keyakinannya. Justru itu tidak boleh dikerjakan meskipun sesaji yang yang diletakkan di tempat manyanggar itu dimakan manusia atau binatang, maka tetap saja hukumnya haram dan bid’ah, karena mubazir dan kebid’ahannya.
2. Para pelaku memang beralasan dengan dasar mitos atau dari orang yang kasarungan (kerasukan) manusia-manusia gaib yang mengharuskan mereka melakukannya. Al-Banjari menegaskan bahwa kedua dasar itupun tidak bisa diterima. Mitos tidak bisa digunakan sebagai dalil keyakinannya, sedangkan yang manyarung tersebut adalah setan yang selalu membisikkan hal-hal yang negatif bagi agama. Sebab, hanya malaikat dan setan yang bisa manyarungi manusia, sedangkan malaikat selalu membisikkan hal-hal yang baik menurut agama, sebagai kebalikan dari seruan setan. Demikianlah penjelasan dari hadits Nabi yang dikutip Al-Banjari.
3. Para pelaku mengatakan pula bahwa yang mereka beri makan itu adalah setan juga, tetapi memberi makan mereka itu adalah seperti memberi makan kepada anjing, jadi suatu perbuatan yang mubah. Al-Banjari menjawab bahwa alasan itupun tidak logis, karena yang dikatakan itu tidak sesuai dengan yang ada dalam hati di mana mereka sangat menghormat kepada setan itu dengan bukti pemberian makanan tersebut yang penuh dengan keindahan dan makanan-makanan yang istimewa.
Mulai dari pendekatan hukum syar’i dan pendekatan akidah terhadap upacara-upacara tradisional yang masih banyak dilakukan oleh masyarakat, sampai kepada dialognya dengan para pelaku upacara untuk meruntuhkan argumentasi mereka yang membenarkan upacara tersebut, tampak sekali adanya pemikiran Al-Banjari tentang pemurnian akidah, yang diusahakannya sendiri dalam pelaksanaannya, di samping minta partisipasi para kaum bangsawan dan pembesar negeri untuk memberantasnya. Tindakan Al-Banjari yang terakhir ini memang tepat, sebab yang banyak melakukan upacara-upacara tersebut adalah dari kalangan kaum bangsawan, di mana dia sendiri termasuk dalam lingkungan masyarakat tersebut.
Kedua, mengirim, mengutus, dan menyebarkan kader-kader dakwah keberbagai daerah untuk menjadi penyuluh masyarakat. Kader dakwah yang telah dididik oleh Al-Banjari dengan ilmu-ilmu agama ini terdiri dari anak cucu dan murid-muridnya menjadi agen dakwah yang penting untuk lebih menyebarluaskan dan memeratakan dakwah Islam ke berbagai kelompok masyarakat dan pelosok daerah. Sehingga dengan upaya tersebut, akselarasi dakwah semakin luas dan terbuka. Melalui mereka ini pulalah, peningkatan dan pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam dan keimanan semakit ditingkatkan.
Ketiga, untuk lebih menguatkan dakwah lisannya tersebut, Al-Banjari juga menulis dan membahas hal-hal penting tentang keimanan (ketauhidan) dalam kitabnya yang berjudul Tuhfah ar-Raghibin min haqiqatil Imani wa Yufsiduhu.
Kitab ini ditulis oleh Al-Banjari pada tahun 1188 H (1774 M) dan pernah diterbitkan di Mesir pada 1353 H. Pernah terjadi perdebatan di antara kalangan tertentu berkenaan dengan kitab ini, yang mempersoalkan apakah karya tulis Al-Banjari atau Al-Palimbani. Misalnya, dalam disertasi (yang kemudian dijadikan buku “Mengenal Allah Suatu Studi Mengenai Ajaran Tasawuf Syekh Abdus Samad AI-Palimbani”), M. Chatib Quzwaini menyatakan bahwa kitab ini bukan tulisan Al-Banjari, tetapi tulisan dari sahabatnya, yakni Syekh Abdus Samad Al-Palimbani. Pernyataan dari M. Chatib Quzwaini mendapat sanggahan keras dari berbagai kalangan, terutama dari Wan Mohd. Shagir Abdullah (Pengkaji Naskah Ulama Melayu-Malaysia). Dengan tegas, berdasarkan fakta dan data-data yang ada, Wan Mohd. Shagir Abdullah menyatakan bahwa kitab tersebut adalah karya Al-Banjari, bukan Al-Palimbani. Menurut Shagir Abdullah, pernyataan M. Chatib Quzwaini yang mengutip pendapat dari P. Voorhoeve adalah keliru.
Ada beberapa alasan dan argumentasi yang dikemukakan oleh Wan Mohd Shagir Abdullah ketika membantah kekeliruan pendapat M. Chatib Quzwaini.
1. Dalam tulisan Syekh Daud bin Abdullah al-Fathani disebutkan: “Maka disebut oleh yang empunya karangan Tuhfatur Raghibin fi Bayani Haqiqati Imanil Mu’minin bagi ‘Alim al-Fadhil al-‘Allamah Syekh Muhammad Arsyad.”
2. Dalam tulisan Syekh Abdurrahman Shiddiq al-Banjari dalam Syajaratul Arsyadiyah dinyatakan: “Maka mengarang Maulana (maksudnya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari) itu beberapa kitab dalam bahasa Melayu dengan isyarat Sultan yang tersebut, seperti Tuhfatur Raghibin …” Pada halaman lain dinyatakan pula: “Maka Sultan Tahmidullah Tsani ini, ialah yang disebut oleh orang Penembahan Batu, dan ialah yang minta karangkan Sabilul Muhtadin lil Mutafaqqihi fi Amrid Din dan Tuhfatur Raghibin fi Bayani Haqiqati Imani Mu’minin wa Riddatil Murtaddin dan lainnya kepada jaddi (Maksudnya: datukku) Al-‘Alim al-‘Allamah al-‘Arif Billah asy-Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari”.
3. Dalam kitab Tuhfah ar-Raghibin yang diterbitkan oleh percetakan Istanbul dan kemudian dicetak kembali oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, Singapura tahun 1347 H, pada cetakan kedua dinyatakan: “Tuhfatur Raghibin … ta’lif al-‘Alim al-‘Allamah asy-Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari”. Di bawahnya tertulis, “Telah ditashhihkan risalah oleh seorang daripada zuriat muallifnya, yaitu Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad ‘Afif mengikut bagi khat muallifnya sendiri …”. Di bawahnya lagi tertulis: “ini kitab sudah cap dari negeri Istanbul fi Mathba’ah al-Haji Muharram Afandi”.
4. Terakhir sekali Mahmud bin Syekh `Abdurrahman Shiddiq al-Banjari mencetak kitab Tuhfah ar-Raghibin itu disebutnya cetakan yang ketiga, nama Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari tetap dituliskan sebagai pengarangnya.
Berdasarkan alasan di atas, pendapat yang menyatakan bahwa Kitab Tuhfaturraghibin merupakan karya tulis Al-Banjari lebih kuat dan meyakinkan untuk diikuti. Bahkan, jika melihat dari backround kitab tersebut, kita juga bisa simpulkan, betapa kental kultur Banjar yang ada di dalamnya. Ditambah lagi dengan istilah-istilah tertentu yang memang sudah umum dipakai oleh masyarakat Banjar. Karena itu, tidak diragukan lagi, kitab ini memang salah satu karya tulis Al-Banjari.
Kitab Tuhfah ar-Raghibin ini membicarakan masalah tauhid (keimanan). Isinya cukup ringkas, dan terdiri terdiri dari muqaddimah, tiga fasal, dan penutup. Pasal pertama berkenaan dengan hakikat iman, pasal kedua berkenaan dengan perkara-perkara yang merusak keimanan, dan pasal ketiga berkenaan dengan syarat yang menimbulkan murtad dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya. Tetapi dengan tiga pasal itu sudah dapat dipahami oleh masyarakat, makna tentang keimanan, kemudian hal-hal yang dapat merusak keimanan, baik dari segi membuat perkataan kufur, melakukan perbuatan yang kufur, ataupun keyakinan (i’tikad) yang kufur. Ketiga jenis hal yang merusak keimanan dimaksud, baik dilakukan dengan sengaja, dengan maksud bersenda gurau, ataupun berbantahan.
Menurut Al-Banjari, iman seseorang akan binasa atau rusak karena riddah (murtad). Riddah menurut bahasa berarti kembali dari sesuatu dan menurut syara’ berarti memutuskan Islam dengan perbuatan, perkataan, atau keyakinan yang mengkafirkan. Di antara perbuatan, perkataan, atau keyakinan yang dianggap Al-Banjari mengkafirkan atau membinasakan iman, ada yang hanya bersifat merusak iman zhahir, yaitu menyebabkan tidak diberlakukan hukum Islam terhadap yang memperbuatnya, meskipun dia masih tetap mempunyai iman bathin. Misalmya sujud kepada makhluk dengan menghantarkan dahi ke bumi dan bila tidak diiringi dengan keyakinan membesarkannya seperti Tuhan. Di antaranya ada yang hanya membinasakan kesempurnaan iman seseorang seperti bersalah-salahan sesama Islam lebih dari tiga hari atau tujuh hari, maksudnya tidak bertegur sapa sesama muslim selama itu. Ada pula yang betul-betul merusak iman secara keseluruhan (zahir dan bathin), seperti mengatakan dan mengitikadkan bahwa Allah suatu yang baharu, alam semesta adalah qadim, Allah tidak bersifat tahu, dan sebagainya.
Hal-hal yang dapat merusak atau membinasakan keimanan dimaksud, baik dari dari segi perkataan, perbuatan, atau keyakinan dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertama, perkataan kufur, yakni perkataan-perkataan yang diucapkan oleh seseorang baik dengan sengaja, bersenda gurau ataupun berbantahan yang bermakna tidak mengakui, mendustakan, menyangsikan (meragukan), menghinakan atau merendahkan hal-hal yang terkait dengan keislaman dan keimanan. Misalnya, berkata bahwa tidak akan mentaati suruhan Allah dan Rasul-Nya, mendustai risalah kenabian, menyangsikan Nabi apakah seorang manusia atau jin, mengecilkan satu anggota nabi dan menghinakannya, mengucap bismillah ketika berbuat maksiat, tidak takut dengan hari kiamat dan menganggapnya sepele, mengucap basmalah waktu akan berbuat maksiat, mengatakan bahwa Allah zalim karena menyuruhnya shalat meskipun sedang sakit, menyerupakan orang zalim dengan malaikat Zabaniyah, menyerupakan orang yang berparas jelek dengan malaikat Munkar dan Nakir, menghalalkan yang diharamkan oleh ijma’ seperti jual beli dan nikah, dan sebagainya.
Kedua, perbuatan kufur dimaksud misalnya, sujud kepada makhkuk dengan meletak dahi ke bumi, menghampirkan diri kepada makhluk dengan menyembelih kambing umpamanya, membuang Quran atau kitab syara’ di tempat najis dan keji, menafikan sifat-sifat dan ilmu Allah, mendustakan nabi dan malaikat, meringankan keduanya atau menyembah keduanya, mendustakan ayat-ayat Alquran, menolak yang diwajibkan dan mewajibkan yang tidak diwajibkan, mengaku diri sebagai nabi dan mengakui kenabian orang lain, mengatakan kafir kepada orang Islam tanpa bukti, dan lain-lain.
Ketiga, i’tikad atau kepercayaan kufur, misalnya, percaya ada Tuhan selian Allah, beriktikad sifat dirinya dekat dengan sifat Allah, beriktikad Allah memberi makan minum kepadanya tiada haram halal lagi, mengaku sampai kepada Allah dengan jalan lain daripada ubudiyyah atau memperhambakan diri kepada-Nya, mengaku dirinya sampai kepada maqam gugur hukum syara‘,membaca Alquran sambil memukul rebana, dan lain-lain.
Melihat banyaknya macam perbuatan, perkataan dan keyakinan yang bisa merusak iman seseorang, sebagaimana yang dideskripsikannya dalam Tuhfah al-Raghibin, maka jelaslah maksud Al-Banjari agar iman dan ketauhidan orang Banjar terjaga dari hal-hal yang dapat menodainya. Lebih dari itu, agar keimanan tersebut juga bersih dan berfungsi secara optimal dalam diri masyarakat. Sehingga dengan penjelasan yang terperinci, menjadi satu pelajaran penting bagi masyarakat dalam mengarahkan dan mengontrol segala tindakannya, perbuatan, perkataan, dan keyakinannya agar tidak melakukan hal-hal yang dapat membinasakan atau merusak keimanan tersebut, namun sebaliknya harus menjaga, memupuk, dan terus meningkatkan kesempurnaan keimanan.

Kesimpulan
Demikianlah, Al-Banjari telah berjuang dan mendakwahkan Islam untuk seluruh masyarakat. Perjuangan dakwah yang panjang, tak kenal lelah dan patut menjadi teladan kita semua, hingga kemudian batasan umur yang telah digariskan sampai. Setelah melakoni hidup, memenuhi kewajiban, dan memperjuangkan dakwah di bawah panji-panji Islam, meletakkan dasar-dasar Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, mewariskan khazanah keilmuan dan pemikiran melalui karya tulisnya, maka pada tanggal 6 Syawal 1227 H dalam usia 105 tahun, Syekh Muhammad Arsyad kembali ke-hadirat Allah Swt. Sesuai dengan amanatnya, beliau kemudian dimakamkan di desa Kalampayan Kecamatan Astambul Martapura.
“Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa” (QS. Yunus 62-63).
(Teriring Salam takzhim untuk Guru H.M. Irsyad Zein Dalam Pagar, Martapura)
Posted by zuljamalie@yahoo.co.id at 17:04:53 | Permanent Link | Comments (0) |
Minggu, September 09, 2007
Matahari Islam Kalimantan
Pengantar

Materi tulisan ini saya himpun ketika Tuan Guru K.H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani alias Guru Sekumpul masih hidup. Isinya merupakan apresiasi saya dalam mengkaji khazanah lokal Islam Kalimantan. Tulisan ini telah saya muat sebagai Epilog dalam buku suntingan saya bertajuk “SYEKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI: MATAHARI ISLAM KALIMANTAN”

SYEKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI
(Matahari Islam Kalimantan )*

Oleh Zulfa Jamalie**
(Pengurus elkisab = Lembaga Kajian Islam, Sejarah, dan Budaya Banjar)

Jika disebutkan nama Datu Kalampayan atau Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari tentu semua orang Banjar, terutama mereka yang berdiam di kawasan Kalimantan mengetahui siapa beliau. Ya, bagi masyarakat Banjar (Kalimantan Selatan), Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah icon peradaban dan perkembangan keislaman. Melalui jasa beliaulah Islam tersebar secara kepada masyarakat luas. Kealiman, aktivitas, dan produktivitasnya dalam berkarya dan berdakwah telah meninggalkan khazanah yang serasa tak pernah habis digali oleh generasi sekarang. Wajar jika kemudian Wan Mohd. Wan Shagir Abdullah (pengkaji naskah ulama Melayu) menjulukinya sebagai “Matahari Islam Nusantara”, K.H. Saifuddin Zuhri (mantan Menteri Agama RI periode 1962-1967) menjulukinya “Mercusuar Islam Kalimantan” oleh Gubernur Hindia Belanda di Batavia, ia dijuluki “Tuan Haji Besar”, dan bahkan Azyumardi Azra (1998: 251) memposisikannya sebagai orang yang memiliki peran penting dalam jaringan ulama nusantara, seorang ulama yang mula-mula mendirikan lembaga-lembaga Islam, dan mengenalkan gagasan-gagasan baru keagamaan di Kalimantan Selatan dalam seluruh bidang kehidupan masyarakat.
Syekh Muhammad Arsyad, putra terbaik Banjar ini dilahirkan pada tanggal 15 Shafar 1122 H atau 19 Maret 1710 M. Karena kecerdasan, bakat, dan kecakapannya membuat Sultan Banjar (Sultan Tahmidullah bin Sultan Tahlilullah) tertarik sehingga mengajaknya untuk tinggal di istana, ketika ia berumur lebih kurang 8 tahun. Kemudian, oleh Sultan Banjar, setelah dewasa (usia 30 tahunan) ia diberangkatkan ke Mekkah untuk menuntut dan memperdalam ilmu agama, setelah sebelumnya dinikahkan dengan perempuan istana, Tuan Bajut. Selama di Mekkah, Syekh Muhammad Arsyad tinggal di sebuah rumah yang khusus dibelikan oleh Sultan Banjar, terletak di kampung Samiyyah, yang kemudian dikenal sebagai Barhat Banjar. Di Haramain (Mekkah-Madinah), Al-Banjari belajar kepada sejumlah guru terkemuka, di antara guru-gurunya yang terkenal adalah, Syekh Muhammad bin Abdul Karim Samman al-Madani, Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi, Syekh Athaillah bin Ahmad al-Misri, Abdul al-Mun’im al-Damanhuri, Ibrahim bin Muhammad al-Ra’is al-Zamzami al-Makki, dan lain-lain.
Setelah melakoni belajarnya selama lebih kurang 30 tahun di Mekkah dan 5 tahun di Madinah, maka Syekh Muhammad Arsyad pun kembali ke Banua pada bulan Desember 1772 M (Ramadhan 1186 H bersama-sama dengan anak menantu sekaligus sahabatnya Syekh Abdul Wahab Bugis. Pada saat itu yang memerintah di Kerajaan Banjar adalah Pangeran Nata Dilaga bin Sultan Tamjidullah, sebagai wali putera mendiang Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah (1761-1787 M), yang kemudian sejak tahun 1781-1801 secara resmi memerintah sebagai Raja Banjar dan bergelar Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah.
Dengan dilatarbelakangi oleh situasi dan kondisi daerah tempat ia menuntut ilmu (Mekkah dan Madinah), membuat Al-Banjari tanggap dan kaya dengan pikiran-pikiran keagamaan dan kemasyarakatan, sehingga begitu kembali dan tiba di tanah air, Al-Banjari aktif berdakwah untuk membangun masyarakat Banjar melalui tiga bidang kegiatan, yakni bidang keagamaan, bidang sosial-kemasyarakatan, dan bidang kenegaraan.
Pertama, bidang keagamaan, adalah kegiatan-kegiatan yang secara khusus berhubungan langsung dengan masalah-masalah keagamaan. Di mana di samping mengajar dan mendidik anak, cucu, dan para muridnya, Syekh Muhammad Arsyad juga pergi berdakwah (“metode jemput bola”) kepada semua lapisan masyarakat, baik rakyat biasa maupun di kalangan para bangsawan dan kerajaan. Dalam konteks ini, strategi dakwah yang ia gunakan adalah menyatu dengan kelompok subjek dakwah, menggiatkan kaderisasi dan regenerasi juru dakwah, serta berusaha mewujudkan kesejahteraan hidup masyarakat dan mengikutsertakan pengaruh/kekuasaan kerajaan.
Melalui kegiatan pendidikan dan kaderisasi, Syekh Muhammad Arsyad berhasil mencetak kader-kader muda yang handal, di antaranya adalah Fatimah dan Muhammad As’ad. Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis ini adalah cucu perempuan pertama Syekh Muhammad Arsyad yang telah mewarisi ilmu-ilmu keislaman dari ayah dan kakeknya, ia dapat menguasai berbagai bidang ilmu, seperti Ilmu Arabiyah, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ushuluddin, Fikih, dan sebagainya dengan baik. Sehingga kemudian bersama-sama dengan saudaranya seibu Muhammad As’ad bin Usman, mereka di kenal sebagai “bunga ilmu” Tanah Banjar. Jika Muhammad As’ad menjadi guru bagi kaumnya, maka Fatimahpun menjadi seorang guru bagi kaum perempuan yang ingin belajar ilmu agama di zamannya. Fatimah pulalah yang sebenarnya telah menyusun kitab fikih berbahasa Melayu yang sangat populer, yakni Parukunan, namun nama yang dipakai sebagai penulis kitab ini bukan nama dia, tetapi nama pamannya, yakni Mufti H. Jamaluddin, sehingga kitab ini populer dengan nama Parukunan Jamaluddin. Kitab Parukunan ini pertama kali diterbitkan di Mekkah dan Singapura tahun 1318 H, dan dicetak ulang di Bombay, terakhir di Indonesia , hingga sekarang. Kitab Parukunan ini populer dan telah dipelajari oleh orang-orang Islam Melayu sebagai dasar pelajaran agama, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Malaysia, Philipina, Vietnam, Kamboja, dan Burma (Zafri Zamzam, 1979).

Dakwah yang beliau sampaikan tidak hanya secara lisan, akan tetapi juga melalui tindakan (action) nyata yang bisa dilihat dan dicontoh oleh masyarakat, bahkan melalui dakwah bil-qolam (karya tulis), beliau telah menuliskan berbagai pemikiran keagamaan yang menjadi tuntunan masyarakat untuk memahami secara lebih luas tentang agamanya, sehingga karya tulis itu sampai sekarang masih relevan dikaji dan dipelajari, sepeti kitab Sabil al-Muhtadin, Kanz al-Ma’rifah, Tuhfaturraghibin, dan lain-lain. Sehingga, melalui semua ini beliau juga berhasil membentuk masyarakat Islam Banjar yang memiliki kesadaran untuk berpegang pada ajaran agama Islam melalu dakwah bil-lisan, bil-kitabah, dan bil-hal, serta diteruskan kemudian oleh generasi dan kader-kader yang telah dibina melalui upaya pengiriman juru dakwah ke berbagai daerah yang masyarakatnya sangat memerlukan pembinaan agama. Dari sini akhirnya dakwah terus berkembang dan ajaran Islam semakin tersebar luas ke tengah-tengah masyarakat Banjar.

Kedua, bidang sosial-kemasyarakatan, antara lain aktivitas dakwah Syekh Muhammad Arsyad dapat dikaji melalui kegiatannya membuka perkampungan baru Dalam Pagar, membuat irigasi, dan penataan pembangunan rumah yang berwawasan lingkungan.

Kampung Dalam Pagar semula hanyalah tanah kosong semak belukar terletak di pinggiran sungai Martapura, yang diberikan kepada Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang memang berhak mendapatkannya selaku bubuhan kerajaan. Tanah ini disebut dengan istilah tanah lungguh. Kemungkinan dipilihnya lokasi pinggiran sungai adalah untuk memudahkan transportasi dan komunikasi dengan daerah lain, sebab waktu itu sungai merupakan sarana transportasi yang paling utama, di samping sebab yang lain, seperti pemanfaatan potensi sungai untuk pengairan sawah dan perkebunan, untuk kebutuhan hidup sehari-hari, sebagai sumber usaha (mencari ikan), dan lain-lain. Melalui usaha Al-Banjari, Dalam Pagar kemudian benar-benar menjelma menjadi daerah yang strategis, dan tidak mengherankan jika kemudian dalam waktu yang singkat daerah yang telah di bangun oleh Syekh Muhammad Arsyad dibantu oleh menantu (Syekh Abdul Wahab Bugis), anak dan cucunya ini berkembang menjadi pemukiman penduduk yang ramai, pusat penyebaran dan pendidikan Islam, mercusuar perkembangan ilmu-ilmu keislaman, serta menjadi locus dan kawah candradimuka paling penting untuk mendidik serta mengkader para murid yang kemudian hari menjadi ulama terkemuka di kalangan masyarakat Kalimantan, di samping pula menjadi daerah pertanian yang subur (lumbung padi) pada saat itu. Sekarang Kampung Dalam Pagar termasuk daerah Kecamatan Martapura dan terbagi menjadi dua desa, yakni Kampung Dalam Pagar dan Kampung Dalam Pagar Ulu.
Di Dalam Pagar pulalah kemudian Syekh Muhammad Arsyad bersama dengan anak menantu membangun surau, rumah tempat tingga sekaligus mandarasah (madrasah), yang menjadi tempat untuk belajar masyarakat, mengkaji dan menimba ilmu, sekaligus tempat untuk mendidik untuk dan membina kader-kader penerus dakwah Islam. Hal ini menjadi penanda awal lahirnya sistem pendidikan secara kelembagaan di Kalimantan Selatan, yang dikenal dengan sistem pondok pesantren. Sebab adanya unsur-unsur penting sistem pondok pesantren seperti kyai, asrama atau pondok, masjid atau surau, pola pengajaran dan pengajian kitab kuning yang memakai metode sorogan dan halaqah (kaji duduk) menjadi penanda aktivitas pendidikan di Dalam Pagar ini, karena itu boleh jadi inilah pesantren pertama yang pernah ada di bumi Kalimantan.
Mandarasah, adalah pusat pendidikan Islam yang serupa ciri-cirinya dengan surau di Padang Sumatera Barat, rangkang, meunasah dan dayah di Aceh, atau pesantren di Jawa. Bangunan tersebut terdiri dari ruangan-ruangan untuk belajar, pondokan tempat tinggal para santri, rumah tempat tinggal Tuan Guru atau kyai, dan perpustakaan. Oleh Humaidy (2003) lembaga pendidikan Islam ini, sebagaimana istilah yang biasa dipakai di kawasan dunia Melayu, seperti Riau, Palembang, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Fattani (Thailand) disebut punduk. Menurut Humaidy, walaupun mandarasah atau punduk, yang dibangun oleh Syekh Muhammad Arsyad itu serupa ciri-cirinya dengan pesantren di Jawa namun hal ini bukan berarti sama. Sebab punduk memiliki perbedaan yang jelas dengan pesantren, seperti proses pemunculannya yang lebih bernuansa Timur Tengah, punduk tidak didirikan semata-mata oleh Tuan Guru atau Kyai, tetapi atas partisipasi seluruh masyarakat sehingga punduk tidak mutlak milik Tuan Guru sendiri, di dalam punduk Tuan Guru tidak memiliki kuasa penuh terhadap santrinya, punduk tidak mengharuskan santri hanya mengkaji ilmu pada seorang Tuan Guru, tetapi bisa sekaligus kepada beberapa orang, Tuan Guru dan punduk menyatu dengan masyarakat luar komunitas mereka.
Syekh Muhammad Arsyad juga seorang petani yang handal, hal ini terlihat dari keberhasilan usaha beliau membuka persawahan dan perkebunan di Kalampayan, dekat Lok Gabang. Daerah ini semula hanyalah merupakan lahan rawa “tidur” yang sangat luas dan belum dimanfaatkan, karena selalu tergenang air, sebab tidak ada saluran pembuangan air (kanal). Maka untuk kepentingan masyarakat banyak serta dalam rangka meningkatkan tarap hidup mereka melalui usaha pertanian, beliau kemudian membuat saluran air sepanjang 8 kilometer. Selanjutnya, oleh masyarakat tabukan sungai yang dibuat ini kemudian disebut “Sungai Tuan”, (dan sekarang jadi satu nama kampung; Kampung Sungai Tuan) untuk memberikan penghormatan kepada beliau.
Di samping itu beliau secara taktis juga memberi contoh kepada masyarakat, bagaimana membangun rumah yang yang baik, berwawasan lingkungan dan berdasarkan hitungan yang matang, dari segi lokasi maupun posisi sehingga terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, baik banjir ataupun gangguan binatang.
Ketiga, bidang kenegaraan, di mana melalui hubungan kekerabatan, akses yang luas ke dalam Istana, serta keberhasilannya dalam membangun dan menggerakan masyarakat memicu simpatik Sultan Banjar (Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidillah) untuk memberikan keleluasaan kepada Syekh Muhammad Arsyad untuk lebih memantapkan dan mengembangkan Islam di Tanah Banjar secara melembaga, agar agama Islam benar-benar menjadi way of life, keyakinan dan pegangan masyarakat Banjar khususnya, dan Kalimantan umumnya.
Pada akhirnya, Sultanpun berkeinginan pula untuk menertibkan dan menyempurnakan peraturan yang telah dibuat berdasarkan hukum Islam, wadah atau badan yang menjaga agar kemurnian hukum dapat diterapkan, dan yang lebih penting lagi adalah agar roda pemerintahan di kerajaan benar-benar dapat dilaksanakan dengan baik sesuai dengan tuntunan agama. Sehingga bermula dari sinilah kemudian timbul lembaga-lembaga dan jabatan-jabatan keislaman dalam pemerintahan, semacam Mahkamah Syar’iyah, yakni Mufti dan Qadli. Mufti adalah sebuah istilah jabatan yang berarti hakim yang tertinggi, pengawas peradilan pada umumnya. Di bawah Mufti ada Qadli, yaitu pelaksana hukum dan pengatur jalannya pengadilan agar hukum berjalan dengan wajar dan benar. Mufti memimpin sebuah Mahkamah Syar’iyah, guna mengawasi pengadilan umum (masyarakat). Pejabat Mufti adalah orang yang betul-betul alim ilmu agama dan mengerti seluk-beluk hukum Islam secara mendalam. Sedangkan secara kelembagaan, Mufti adalah suatu lembaga yang bertugas memberikan nasihat atau fatwa kepada sultan masalah-masalah keagamaan, jabatan mufti kerjaan Banjar yang pertama dipegang oleh H. Muhammad As’ad bin Usman (cucu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari). Sedangkan qadli adalah mereka yang mengurusi dan menyelesaikan segala urusan hukum Islam, terhadap masalah perdata, pernikahan, dan waris, jabatan qadli yang pertama dipegang oleh H. Abu Su’ud bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Sampai akhirnya Syariat Islam diterapkan sebagai hukum resmi yang mengatur kehidupan masyarakat Islam di tanah Banjar pada masa pemerintahan Sultan Adam al-Watsiq Billah bin Sultan Sulaiman al-Mu’tamidillah (1825-1857 M), yang dikenal dengan nama Undang-Undang Sultan Adam (UUSA). UUSA ini ditetapkan pada tanggal 15 Muharram 1251 H atau tahun 1835 M, kemudian seiring dengan terjadinya perebutan kekuasaan dalam kerajaan Banjar akibat campurtangan Belanda tahun 1857 sesudah wafatnya Sultan Adam, dan berujung pada dihapuskannya kerajaan pada tahun 1860 oleh Belanda, maka pada waktu itu pula pemberlakukan UUSA dihapuskan dari seluruh wilayah Tanah Banjar.
Dibentuk dan diberlakukannya UUSA ini bertujuan untuk mengatur agar kehidupan beragama masyarakat menjadi lebih baik, mengatur agar akidah masyarakat lebih sempurna, mencegah terjadinya persengketaan, dan untuk memudahkan para hakim dalam menetapkan status hukum suatu perkara.
UUSA ini antara lain berisikan, Pasal 1 sampai dengan pasal 2 berbicara tentang dasar negara yakni Islam yang Ahlus Sunnah wal Jamaah, pasal 4 sampai dengan pasal 22 menerangkan peraturan dalam peradilan berdasarkan mazhab Syafi’i, pasal 23 sampai pasal 27 berbicara tentang hukum tanah garapan, penjualan tanah, penggadaian, peminjaman dan penyewaan tanah yang harus dilakukan secara tertulis, serangkap di tangan hakim dan serangkap lagi di tangan yang berkepentingan. Gugatan terhadap tanah yang terjadi sebelum diberlakukan undang-undang dapat diajukan sebelum duapuluh tahun semenjak undang-undang ditetapkan, sedang tanah atau kebun yang terjual atau telah dibagi kepada ahli waris, dapat digugat selama sepuluh tahun dari tahun penjualan atau pembagian sampai undang-undang diberlakukan. Orang yang menang dalam perkara tidak boleh mengambil sewa selama berada di tangan tergugat.
Demikianlah, setelah melakoni hidup, memenuhi kewajiban, dan perjuangan dakwah di bawah panji-panji Islam, meletakkan dasar-dasar Islam dalam kehidupan masyarakat dan negara, mewariskan khazanah keilmuan dan pemikiran melalui karya tulisnya, maka pada tanggal 6 Syawal 1227 H bertepatan dengan tanggal 13 Oktober 1812 M pada usia 105 tahun, Syekh Muhammad Arsyad kembali ke-hadirat Allah SWT.
Kesimpulan, melalui usaha bidang keagamaan Syekh Muhammad Arsyad telah meninggalkan sejumlah warisan berharga (ide, pemikiran, karya tulis) untuk dikaji dan dipelajari oleh para cendikiawan keagamaan. Melalui usaha bidang sosial-kemasyarakatan Al-Banjari meninggalkan sejumlah karya nyata (atsar) yang berguna untuk masyarakat luas dan bisa ditiru oleh change agent, social worker, community developmentalist, untuk membangun, menggerakan, serta memberdayakan masyarakat melalui berbagai pendekatan yang arif bijaksana, berwawasan sosial, budaya dan lingkungan. Dan melalui usaha bidang kenegaraan Al-Banjari juga telah meninggalkan khazanah berharga tentang penerapan sistem dan perundang-undangan Islam sebagai sistem yang paling sempurna guna mengatur kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan berbangsa pada masa sekarang, besok, dan masa akan datang.

Catatan:
* Haul ke198 Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari tahun ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 7 Syawal 1425 H, bertepatan dengan tanggal 20 Nopember 2004, dipusatkan di Masjid Tuhfaturraghibin Dalam Pagar Martapura. Menandai haul ke-198 ini oleh Menteri Agama RI (H.M.Maftuh Basuni) diresmikan Museum Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang berisikan sejumlah benda peninggalan beliau serta kitab-kitab karya tulis beliau, seperti Sabil al-Muhtadin, Mushaf Alquran, Tuhfah ar-Raghibin, dan lain-lain.
**Salam takzhim untuk Tuan Guru Sekumpul dan Ustadz K.H. M. Irsyad Zein Dalam Pagar Martapura

Posted by zuljamalie@yahoo.co.id at 15:46:50 | Permanent Link | Comments (0) |
Cari

*

my advertisement
zuljamalie@yahoo.co.id

* Location:Banjar

Tag Cloud

* Ulama Banjar
* Ramadhan
* Guru Sekumpul
* Sultan Banjar
* Datu Kalampayan

My Music
Komentar terakhir

* You are thinking, lots of hard work, much clearer, super pro
* great capture,beautiful composition with rich colours.
* Thanks so very much for taking your time to create this very
* Tidak ada komentar, mohon di kirimkan copy kitab Barencong
* Kepada pembaca blog ini dipersilakan pula untuk membaca tuli
* Terimakasih atas apresiasi anda, sayangnya, sampai saat ini
* Ma’af kami tidak memberikan komentar tapi minta infomasinya

Blogroll

* Cahaya-Sufi
* Islam-Banjar

May, 2009
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6
Arsip

* Juli – 2008
* September – 2007

* Random Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: