Abdurrahman Shiddiq

skip to main | skip to sidebar
ISLAM BANJAR

Rabu, 2008 Oktober 22
AJARAN TASAWUF SYEKH ABDURRAHMAN SHIDDIQ AL-BANJARI
Bahran Noor Haira 

Abstract

The concept of Abdurrahman Shiddiq’s sufistic on Taubat, zuhud, tawakkal, shabar, ridha, shiddiq, mahabbah, zikr al-maut covers sufistic teaching with moral sufistic style (tasawuf akhlaqi) that he named as the way of worship (Tarikat). Otherside, it is also found the concept of ma’rifah, that is, a teaching that has tauhid concept by dzauqi. He underlines that the truth is not matter of belief as believed publicly, or mutakallimin,s intelllectual conclusion, but it is exatly fact that gained by insight and heart experience. Heart experience gained by wahdaniyat Allah (tauhid af’al, asma, sifat dan zat). From this maqam, someone find maqamfana and move to maqam baqa. On this maqam, someone will look at various thing, it will be easy to understand that everything is the mercy of God. This sense, according to Abdurrahman Siddiq, that someone has reached maqam ma’rifah. The writer concludes that Abdurrahman Shiddiq’s teaching is categorized wahdat al-syuhud sufistic, because of his thought to God is connection between Creator and Creation, not emanation. And the utility with God, only offer a perception theory.

Keywords: wahdaniyat Allah, ma’rifah, wahdat al-syuhud

PENDAHULUAN

Martin Van Bruinessen mengatakan; bahwa tasawuf dan berbagai terekat telah memainkan peran penting dalam islamisasi di Indonesia. Menurut dia; sejak abad XI M. berlangsungnya islamisasi di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) berbarengan masa merebaknya tasawuf abad pertengahan, dan pertumbuhan tarekat-tarekat . Peranan tasawuf sangat besar sekali dalam penyebaran Islam di Indonesia. Bahkan, setidak-tidaknya hingga akhir abad ke- 17 M., Islam tasawuf bila dibandingkan Islam fikih, Islam bercorak tasawuf masih tetap unggul .
Pada abad XVII M. menurut Taufik Abdullah, umumnya naskah keagamaan, baik yang berbahasa Arab atau terjemahan dari bahasa Arab, maupun aslinya dalam bahasa Arab melayu, adalah pembahasan mengenai tasawuf yang ditulis oleh berbagai penulis dalam berbagai macam tarekat Islam, yang sebagian oleh penulis-penulis pribumi, dan sebagian lainnya oleh penulis asing Di antara penulis-penulis pribumi tercatat nama Abdussamad al-Palimbani dengan karyanya “Hidayat as-Salikin” dan “Siyar as-salikin,” Muhammad Nafis bin Ideris al-Banjari dengan karyanya “Al-Durr al-Nafis”, H.Abdurrahman Siddiq dengan karyanya “Risalah ‘Amal Ma’rifah”. Nama sufi yang terakhir (Abdurrahman Shiddiq) ini tidak kalah populernya di Nusantara, khususnya di propensi Kalimantan Selatan dan propensi Pekanbaru. Dia seorang ulama, pendidik, dan penulis yang banyak menulis kitab keagamaan, baik dalam bidang tauhid, fikih, maupun di bidang tasawuf. Berdasarkan hasil penelitian Muhammad Nazir, jumlah karya tulisnya tidak kurang dari duapuluh buah. Dari duapuluh karya tulisnya itu, baru empatbelas buah judul yang dapat diinventarisasi, selebihnya masih dicari keberadaannya Di bidang tasawuf, karyanya yang bernama “Risalah ‘Amal Ma’rifah”, tidak pernah luput dalam perbincangan pada forum-forum seminar tingkat regional yang dilaksanakan beberapa kali oleh Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari Banjarmasin. Dalam seminar-seminar itu terdapat dua pendapat dan penilaian terhadap kandungan kitabnya itu. Ada yang berpendapat, bahwa kitab Risalah ‘Amal Ma’rifah itu bercorak wahdat al-wujud, dan sebagian berpendapat bercorak wahdat al-syuhud. Demikian pula dari beberapa penelitian, diantaranya penelitian terhadap karyanya yang berjudul Syair Ibarat dan Khabar Kiamat berkesimpulan bahwa dalam syair-syair Abdurrahman Siddiq mengandung unsur wahdat al-wujud, kendatipun tidak sekental ajaran Ibnu Arabi atau Hamzah Fansuri. Menurut penulis kesimpulan tersebut menunjukkan adanya indikasi kelemahan dalam analisa yang tidak menggunakan kematangan konsep wahdat al-wujud dan konsep wahdat al-syuhud. Berangkat dari ketidakpastian corak tasawuf Abdurrahman Shiddiq ini, maka diperlukan penelitian secara holistik terhadap ajaran tasawufnya, baik yang terkandung dalam kitabnya Risalah ‘Amal Ma’rifah maupun karya tulisnya yang lain seperti “Syair Ibarat dan Khabar Kiamat”, maupun karya-karya lainnya yang ada hubungannya dengan ajaran tasawuf, terutama yang berkaitan dengan masalah akidah. Masalah pokok dalam penelitian ini mempersoalkan corak tasawuf Abdurrahman Shiddiq. Masalah ini dirumuskan dalam tiga rumusan (i) Bagaimana ungkapan, gagasan dan uraian ajaran tasawuf yang terkandung dalam beberapa karyanya itu. (ii) Apakah pandangannya terhadap Tuhan dan dunia merupakan hubungan sebab akibat (Khaliq dan Makhluq), atau merupakan hubungan Yang Tunggal dengan emanasi. (iii) Apakah dalam kebersatuan dia menawarkan kerangka keyakinan, ataukah menawarkan kerangka persepsi. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban masalah pokok, yaitu untuk mengetahui corak tasawuf Abdurrahman Shiddiq, apakah bercorak tasawuf wujudi ataukah bercorak tasawuf syuhudi. Hasil penelitian ini akan memberikan manfaat pada dua aspek: (i) Aspek keilmuan; hasil penelitian ini diharapkan dapat dipertanggung jawabkan secara akademis, dan menjadi sumbangan dalam pengembangan ilmu keislaman, khususnya dalam kajian ilmu tasawuf, (ii)Bidang sosial, dengan diketahuinya kejelasan corak ajaran tasawufnya, akan membantu masyarakat dalam memahami dan menangkap maksud ungkapan-ungkapan (ta’birat shufiyah) serta ajaran/pikiran yang dimaksudkan oleh sang sufi (Abdurrahman Shiddiq).
Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, dan yang menjadi subyeknya adalah karya-karya tulisnya. Karya-karya tulis yang dimaksud adalah Risalah ‘Amal Ma’rifah”, “Syair Ibarat dan Khabar Kiamat”, “Tadzkirah li Nafsi wa li Amtsa li min al-Ikhwan”, Asrar al-Shalat min ‘Iddat Kutub al-Mu’tamadah, yang ada keterkaiannya langsung dengan obyek penelitian, yaitu tentang pikiran dan ajaran tasawuf Abdurrahman Shiddiq. Di samping karya tulisnya yang berhubungan dengan tasawuf, juga karya tulisnya yang berhubungan dengan masalah ketuhanan (akidah), seperti ‘Aqaid al-Iman dan Pelajaran Kanak-Kanak pada Agama Islam. Kedua karya tulisnya yang terakhir ini, fokus obyek penilitian hanya pada masalah hubungan antara Pencipta dan ciptaan.
Langkah pertama, melakukan pengkajian terhadap karya tulisnya yang memuat ajaran tasawuf. Selanjutnya memaparkan dan menggambarkan secara lengkap dan utuh tentang ajaran tasawufnya. Langkah kedua, memahami hubungan antara Khalik dan makhluk. Apakah merupakan hubungan antara Pencipta dan ciptaan sebagaimana yang diyakini para teolog, atau hubungan antara Yang Tunggal dengan emanasi (pancaran-Nya) seperti diyakini sufi wujudi. Langkah ini untuk memahami pemikiran Abdurrahman Shiddiq, apakah dia mengatakan bahwa “tiada Tuhan selain Allah” atau “tiada sesuatu selain Allah”. Dalam masalah ini karya tulisnya yang berhubungan dengan ketuhanan sangat membantu untuk memahami corak pemikiran tasawufnya. Langkah ketiga, akan lebih fokus menyoroti pengalaman kebersatuan. Dalam koteks ini dipersoalkan, apakah pengalaman kebersatuannya hanya merupakan masalah penglihatan (syuhudi-persepsi). Dalam istilah lain, apakah dia hanya menawarkan kerangka persepsi (‘ain al-yaqin). Sebaliknya, apakah pengalaman kebersatuannya merupakan kenyataan. Maksudnya apakah dia menawarkan suatu kerangka keyakinan

RIWAYAT HIDUP SYEKH ABDURRAHMAN SHIDDIQ AL-BANJARI
Abdurrahman Shiddiq Al-Banjari adalah seorang ulama, juru dakwah, pendidik, petani, Mufti Kerajaan Indragiri, penulis dan guru di Mesjidil Haram (Mekkah) . Nama lengkapnya Syekh Abdurrahman Shiddiq bin Haji Muhammad Afif bin Haji Anang Mahmud bin Haji Jamaluddin bin Kyai Dipa Sinta Ahmad bin Fardi bin Jamaluddin bin Ahmad al-Banjari . Dia dilahirkan pada tahun 1284 H/1857 M., di Kampung Dalam Pagar Martapura, Kabupaten Banjar, Propensi Kalimantan Selatan. Ibunya bernama Safura binti Syekh Mufti Haji Muhammad Arsyad bin Syekh Mufti Haji Muhammad As’ad .
Abdurrahman Shiddiq keturunan kaum bangsawan, karena ayahnya keturunan sultan-sultan dari Kerajaan Banjar, yaitu seorang menteri pada zaman Sultan Banjar. Dia juga tergolong keturunan ulama terkenal, baik dari pihak ayahnya maupun dari pihak ibunya, ia adalah keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, seorang ulama yang dimiliki Nusantara pada abad ke 18 .
Abdurrahman Shiddiq menuntut ilmu ke Mekkah pada tahun 1889 M., dari hasil penelitian lain ada kemungkinan ia pergi ke Mekkah pada tahun 1882/1883 M . Di Mekkah Abdurrahman Shiddiq mempelajari ilmu-ilmu agama Islam dengan ulama-ulama terkemuka, baik di Mesjidil Haram maupun di luar mesjid. Di antara gurunya yang banyak memberikan motivasi dan bimbingan adalah Syekh Sayid Bakri al-Shata’, Syekh Sayid Bahasyil dan Syekh Nawawi Banten .
Setelah belajar di Mekkah selama kurang lebih 5 tahun ia dianugerahi oleh gurunya (Syekh Sayid Bakri al-Shata) gelar ash-Shiddiq, dan diminta agar disebutkan di akhir namanya . Dapat diduga pemberian gelar ini berhubungan dengan penguasaan Abdurrahman Shiddiq dalam ilmu-ilmu Islam yang ditekuninya serta akhlaknya yang terpuji. Kendatipun ia mendapat pengakuan dari gurunya di Mekkah, ia tetap melanjutkan pelajarannya ke Madinah.
Dia kembali ketanah air pada tahun 1890/1891, dan ada yang berpendapat pada tahun 1897. Selama berada di Martapura, kehadirannya sudah diperhitungkan sebagai ulama dan pendapat-pendapatnya dipertimbangkan oleh para ulama, khususnya ulama-ulama Kalimantan Selatan. Setelah delapan bulan bermukim di daerah asalnya (Martapura) dia pergi ke Bangka (Sumatera) menyusul ayahnya dan sanak keluarganya yang hijrah dari Martapura pada awal paruh kedua abad ke 19 M. Selama15 tahun tinggal di Bangka dia pindah ke Indragiri pada tahun 1909 M, dari sumber lain menyebutkan tahun 1912 M. Di Indragiri dia dipercayakan menjabat jabatan Mufti selama 27 tahun .
Kehadiran Abdurrahman Shiddiq di Sapat (Indragiri) telah membawa perubahan besar dalam berbagai hal. Orang-orang Banjar yang berasal dari Kalimantan Selatan berdatangan ke daerah Indragiri Hilir. Mereka membuka hutan untuk perkebunan kelapa, sehingga daerah tersebut merupakan penghasil kopra nomor dua di Indonesia sesudah Sulawesi Utara. Abdurrahman Shiddiq sendiri memiliki 120 baris atau 4800 batang kelapa. Sebanyak 70 baris atau 2800 batang dia wakafkan untuk kepentingan umat dan khususnya buat pendidikan. Pertama kali dibinanya dari hasil kebun itu adalah mesjid di sebelah rumah tempat tinggalnya, kemudian membangun maderasah serta tidak kurang seratus pondok di sekitar madersah dan mesjid untuk para santeri tanpa dipungut bayaran, bahkan ia membantu keperluan hidup bagi santeri yang tidak mampu
Abdurrahman Shiddiq wafat pada tanggal 4 sya’ban 1358 H. bertepatan dengan 10 Maret 1939 M dalam usia 82 tahun. Dia dimakamkan tidak jauh dari mesjid yang dibinanya di Kampung Hidayat, Sapat Indragiri, Propensi Pekanbaru . Dia meninggalkan beberapa karya tulisnya, yaitu; ‘Aqa’id al-iman, Pelajaran Kanak-kanak pada Agama Islam, Jadwal Sifat Dua Puluh, Menerjemahkan Sitti n Mas’alah dan Juru mi yah, Fath al-‘alim fi Tartib al-Ta’lim, Risalah Takmilat Qawl al-Mukhtashar, Kitab al-Fara’id, Bay’ al-Haywa Lil-Kafirin, Maw’izah Li Nafsi wa Li Amtsa li min al-Ikhwan, Majmu’ al-ayat wa al-ahadits fi fadha’il al-‘ilm wa al-‘ulama wa al-muta’alllimin wa al-mustamin, Risalah al-Arsyadiyah wa ma ‘Ulhiqa biha, Sejarah Perkembangan Islam di Kerajaan Banjar, Dam Ma’a Madkhal fi “ilm al-Sharf, Beberapa Khutbah Mutlaqiah.

AJARAN TASAWUF ABDURRAHMAN SHIDDIQ AL-BANJARI
Ajaran tasawuf yang dibangunnya pada dasarnya ada yang bercorak akhlaki dan yang bercorak falsafi, dan masing-masing corak ditujukan kepada tingkat keperluan dan disesuaikan dengan kemampuan para penerimanya. Tasawuf Akhlaki
Ajaran tasawuf akhlak yang dimaksud dalam deskripsi ini, adalah konsep ajaran dan pembahasannya tentang hubungan antara syariat dengan akhlak. Dalam kitab Risalah Amal Ma’rifah, Abdurrahman Shiddiq menyebutkan bahwa akhlak seperti taubat, zuhud tawakal, shabar, ridha, shidiq , mahabbah, dan zikr al-maut, merupakan jalan yang menyempurnakan syariat.
Akhlak menurut pandangan Abdurrahman Shiddiq merupakan implementasi dari keadaan jiwa. Untuk meraih akhlak yang baik itu, diperlukan sikap mental seperti taubat, zuhud, tawakal, shabar, ridha, shidiq, mahabbah, zikr al-maut, dan lain sejenisnya. Sebab jaran-ajaran itu, yang ia sebut tarekat (jalan) berfungsi menyempurnakan syariat. Dan ajaran itu berkaitan dengan hati, serta akan nampak pada tingkah laku. Dari ajaran itu akan melahirkan jiwa yang bebas dari pengaruh hawa nafsu, dan akan melahirkan akhlak terpuji. Sebaliknya, jiwa yang dipengaruhi oleh hawa nafsu akan melahirkan akhlak tercela
Menurutnya akhlak erat hubungannya dengan seluruh ajaran agama Islam, baik dalam bidang akidah maupun dalam bidang syariah. Akhlak dapat mempengaruhi kondisi keimanan seseorang. Akhlak mulia akan meningkatkan keimanan, sedangkan akhlak yang tercela akan merusak keimanan seseorang
Dalam kitabnya “Risalah Amal Ma’rifah” menjelaskan, bahwa akhlak terpuji seperti taubah, tawakal, shabar, ridha, shidiq, mahabbah, dan zikr al-maut adalah merupakan jalan yang menyempurnakan syariat. Demikian pula dalam kitabnya “Pelajaran Kanak-Kanak pada Agama Islam” dijelaskan, bahwa ada empat perkara yang menjadi syarat sahnya Islam seseorang, yaitu shabar melaksanakan hukum Allah, ridha akan qadha Allah, yakin dan ikhlas, dan patuh dengan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian, bahwa kesempurnaan Islam seseorang menurut dia adalah sangat ditentukan oleh akhlaknya.
Selanjutnya dia mempertegas adanya hubungan yang erat antara akhlak dengan amal ibadat. Dijelaskannya, bahwa ibadat yang disyariatkan pada dasarnya bertujuan membina akhlak yang mulia. Abdurrahman Shiddiq mencontohkan, bahwa salat dapat menerangkan hati dan mencegah diri dari perbuatan keji dan munkar. Sedangkan perbuatan-perbuatan keji dan munkar, seperti dengki, khianat, aniaya, dan lain sejenisnya itu akan merusak ibadat salat dan ibadat-ibadat lainnya.
Dalam lirik-lirik syairnya menjelaskan, bahwa semua macam perbuatan tercela akan merusak amal ibadah seseorang . Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa masalah akhlak dalam pandangannya, adalah masalah yang fundamental dalam Islam
Menurut Abdurrahman Shiddiq, untuk menjaga kesucian jiwa diperlukan mujahadah, riyadhah, dan muraqabah. Mujahadah adalah memerangi hawa nafsu dengan menentang apa-apa yang dikehendakinya. Riyadhah adalah mengerjakan amal ibadah, seperti melakukan khalwat , puasa dan amal ibadah lainnya. Muraqabah adalah selalu merasa diawasi oleh Allah , dan untuk itu harus melazimkan zikir. Zikir menurut Abdurrahman Shiddiq terbagi kepada empat macam: zikir jahar (terang), zikir sirr (perlahan), zikir nafsi (dalam hati), dan zikir dalam segala keadaan (berdiri, duduk, dan berbaring).
Sebagaimana ulama tasawuf pada umumnya, Abdurrahman Shiddiq juga membicarakan sifat-sifat terpuji (keutamaan) dalam beberapa karya tulisnya. Sifat-sifat terpuji atau yang ia bicarakan adalah seperti paparan berikut ini.
1. Tafakkur dan Taubah
Tafakkur yang dimaksudkan Abdurrahman Shiddiq adalah berpikir yang mengandung pengakuan dan penyesalan terhadap kesalahan-kesalahan serta bertaubat dari segala dosa. Cara bertafakur menurut dia, adalah dengan membaca Dua Kalimah Syahadah secara perlahan-lahan dan menghayati maknanya. Selanjutnya melakukan tiga perkara dalam tafakkur yaitu:
1.1. ‘Ibrah, yaitu mencari-cari kesalahan diri sendiri, menyesalinya, dan berjanji tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan itu lagi.
1.2. Khawf, yaitu takut akan murka Allah dan siksa-Nya serta takut tidak diterima amalnya.
1.3. Raja’, yaitu berharap akan rahmat dan ampunan Allah serta berharap akan diterima segala amalannya.
2. Al-Zuhd
Menurut Abdurrahman Shiddiq, bahwa kehidupan yang kekal adalah kehidupan di akhirat, sedangkan kehidupan di dunia harus dijadikan bekal ke akhirat. Selanjutnya dia peringatkan agar hidup jangan tertipu dan terpedaya dengan dunia, peringatannya itu tertuang dalam bait syairnya pada halaman 3 dan 9 dalam kitabnya Syair Ibarat dan Khabar Kiamat.
3. Tawakkal
Tawakal menurut Abdurrahman Shiddik adalah menyerahkan diri. Dalam lirik syairnya “menyerahkan diri jangan menyesal” dapat diartikan rela terhadap apa yang dikehendaki Allah SWT. Penjelasannya ini sejalan dengan pendapat Bisyr Al-Hafi yang dikutip Al-Qusyairi mengatakan “Saya bertawakal kepada Allah SWT., sedang orang lain berbohong kepada-Nya. Seandainya dia bertawakal kepada Allah SWT., maka pasti dia rela terhadap apa yang dikerjakan (dikehendaki) oleh Allah SWT”.
4. Shabar
Manusia perlu senantiasa bersabar, baik bersabar dalam menggunakan nikmat, bersabar melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan, maupun bersabar dalam menerima cobaan atau hal-hal yang tidak diingini. Abdurrahman Shiddiq menganjurkan agar senantiasa dapat bersabar dan menahan marah, sebab sifat sabar mendatangkan banyak mamfaat. Anjurannya untuk senantiasa bersabar itu terdapat dalam sya’irnya pada halaman 16 di kitab Syair Ibarat.
Selanjutnya dijelaskannya, bahwa orang yang tidak mempunyai sifat sabar akan mudah dihinggapi sifat marah. Menurut dia, ada beberapa kerugian sebagai akibat dari sifat marah. Pertama, hilang akal dan keseimbangan jiwa, sehingga akan salah dalam mengambil sikap dan tindakan. Kedua, hilangnya atau berkurangnya iman seseorang. Ketiga, kehilangan sahabat .
5. Ikhlash dan menjauhi riya
Menurut Abdurrahman Shiddiq, ikhlash adalah bersih amal kepada Allah, dan sifat ini merupakan syarat untuk mendapatkan pahala amal ibadah. Dia membagi ikhlash dalam dua macam, yaitu ikhlash al-abrar dan ikhlash al-muqarrabin. Ikhlash al-abrar adalah seseorang beramal karena semata-mata menjunjung perintah Allah SWT. tanpa mengharapkan apapun selain daripada Allah, termasuk tidak mengharapkan surga dan juga tidak memohon dijauhkan dari api neraka. Sedangkan ikhlash al-muqarrabin adalah seseorang beramal, tetapi tidak mengakui dan tidak merasa bahwa amalan-amalan itu sebagai usaha ikhtiarnya, bahkan dalam ma’rifatnya semuanya itu adalah semata-mata amalan Allah dan atas taufik-Nya. Ikhlash al-abrar disebut ikhlash li Allah (ikhlas karena Allah), sedangkan ikhlash al-muqarrabin disebut ikhlash bi Allah (ikhlas dengan pertolongan Allah). Ikhlash al-muqarrabin merupakan pengertian ikhlash menurut pandangan ulama tasawuf, di mana para sufi menyebutkan bahwa ikhlash adalah melepaskan diri dari pada daya dan upaya. Apabila keikhlasan seseorang bisa sampai pada peringkat kedua ini, maka ia akan terhindar dari pada sifat riya, ‘ujub, dan sum’ah
Dalam kitabnya Risalah fi Aqaid al-Iman Abdurrahman Shiddiq membagi riya dalam dua macam, yaitu riya jali (yang nyata) dan riya khafi (yang tersembunyi). Riya jali adalah seseorang beramal di hadapan orang lain, tetapi apabila ia sendirian amalan itu tidak dikerjakannya. Sedangkan riya khafi ialah seseorang beramal baik di hadapan orang lain ataupun tidak, tetapi dia suka kalau mereka berada di hadapannya.
Sum’ah, ialah seseorang beramal sendirian kemudian dia menghabarkannya kepada orang lain, supaya mereka membesarkannya atau supaya dia mendapat kebajikan dari mereka. Adapun ‘ujub adalah seseorang merasa heran atas kepandaian dan kehebatannya. Misalnya, seorang ‘abid merasa kagum dengan ibadahnya, atau seorang alim merasa kagum dengan ilmunya.
6. Tawadhu’dan menjauhi takabbur.
Menurut Abdurrahman Shiddiq, sifat tawadhu menunjukkan adanya keluasan akal dan pandangan, dan sebaliknya sifat takabbur menunjukkan kepicikan akal pikiran. Pendapat ini dia ungkapkan dalam bait-bait syair pada halaman 9. Dia menegaskan, bahwa sifat takabur sangat dilarang oleh Allah SWT.. Orang takabur dikatakannya sebagai seorang yang celaka, oleh karenanya akan dimasukkan ke dalam api neraka.
7. Syukur dan Ridha
Abdurrahman Shiddiq menganjurkan hamba Allah agar selalu ridha terhadap qadha Allah, dan selalu bersyukur atas nikmat-Nya dan bersabar atas cobaan-Nya. Syukur ialah menggunakan nikmat yang diperoleh pada jalan yang diridai Allah SWT . Manusia harus mensyukuri pemberian Allah, ridha terhadap ketentuan-Nya, serta bersabar menanggung cobaan, untuk itu seseorang harus husn al-zhan kepada Allah. Selanjutnya ia membagi husn al-zhan kepada empat bagian. Pertama, seseorang berprasangka bahwa Allah mengasihinya. Kedua, berprasangka bahwa Allah mengetahui akan segala kesalahannya. Ketiga, berprasangka bahwa Allah mengampuni segala dosanya. Dan keempat, berprasangka bahwa segala yang tersebut itu mudah bagi Allah SWT.
8. Shiddiq
Abdurrahman Shiddiq menekankan pentingnya shiddiq (benar) dalam berperilaku sehari-hari, anjuran ini dituangkannya dalam syairnya pada halaman 17,18 dan 20. Lirik-lirik dalam syairnya itu mengajarkan agar manusia selalu benar dalam segala ucapan dan perbuatan.
8. Mahabbah
Dalam kitabnya Asrar al-Shalat min ‘Iddat Kutub al-Mu’tamadah menyebutkan; “Adapun syarat-syarat sah iman itu, di antaranya mencintai akan Allah SWT. dan mencintai Nabi.” Mahabbah kepada Allah adalah orang yang senantiasa melakukan tafakkur dan zikrullah.
9. Zikr al-Maut
Dalam kitabnya Syair Ibarat dan Khabar Kiamat pada halaman 4, 17, 29 dan 30 ia mengingatkan bahwa setiap orang perlu menyadari dan menginsyapi akan adanya kematian. Kesadaran akan datangnya maut, merupakan pendorong bagi seseorang untuk bekerja keras untuk melakukan hal-hal yang menguntungkan dan menghindari yang merugikannya di alam akhirat.
Dalam ajarannya tentang taubah, zuhud, tawakal, shabar, ridha, shidiq, mahabbah, zikr al-maut, dan sifat-sifat terpuji lainnya, bukan merupakan maqam sebagaimana sufi-sufi lainnya. Ajaran taubah dan lain-lainnya itu disebutnya sebagai tarekat (jalan) yang menyempurnakan syariat dan ta’alluq (bergantung) pada hati serta diimplikasikan dalam perilaku . Dengan demikian, menurut Abdurrahman Siddiq; ajaran taubah, zuhud, tawakal, shabar, ridha, shidiq, mahabbah, zikr al-maut dan sifat-sifat terpuji lainnya merupakan nilai etika atau akhlak yang akan diperjuangkan dan diwujudkan oleh seorang hamba dalam merambah kesempurnaan spritual dalam praktik ibadah.
Konsep Ma’rifah (Mengenal Allah)
Sesuai dengan nama kitab “Risalah Amal Ma’rifah”. Kitab ini sepenuhnya berbicara yang mengacu kepada ma’rifah. Ma’rifah yang dimaksud Abdurrahman Shiddiq adalah pengenalan yang sempurna kepada Allah Ta’ala melalui hati. Ada tiga bahasan pokok dalam konsep ma’rifahnya Abdurrahman Shiddiq: yaitu, Wahdaniyat Allah, Maqamat, dan Maqam Wilayah.
1. Mengesakan Allah (Wahdaniyat Allah)
a. Esa pada Perbuatan (af’al)-Nya
Abdurrahman Shiddiq menjelaskan semua perbuatan dan apapun yang terjadi di alam ini baik atau buruk, taat atau maksiat harus dipandang dengan matahati dan mata kepala dengan i’tikad bahwa semua itu semata-mata hanya perbuatan Allah. Perbuatan-perbuatan itu bisa berupa; (1). Mubasyarah, ialah perbuatan yang dilakukan dengan usaha dan ikhtiar, seperti gerak tangan orang yang menulis. (2) Tawallud, ialah suatu perbuatan yang jadi sebagai akibat dari perbuatan mubasyarah, yaitu seperti terjadinya huruf yang tertulis oleh pena dari orang yang menulis dan menggerakan pena itu.
Dengan cara melakukan musyahadah terhadap hal-hal yang tersebut di atas sampai ke tingkat haq al-yaqin, bahwa hanya Allah lah yang mempunyai perbuatan, barulah orang itu mencapai ma’rifah wahdah al-af’al dan pada saat itulah orang baru mampu memfanakan sekalian af’al makhluk kepada af’al Allah. Dengan cara demikian, seseorang baru bisa terbebas dari syirik khafi, ujub, riya, sum’ah dan segala macam sifat tercela lainnya. Katanya : inilah musyahadah yang benar dan sejalan dengan jiwa Alquran dan Hadis serta ijima’ ulama.
Gagasan inilah yang dimaksud seseorang sampai ke tingkat haq al-yaqin, yaitu hanya Allah semata yang menciptakan perbuatan, dan inilah yang dimaksud sampai ke ma’rifah wahdat al-af’al yang disebut seseorang mampu memfanakan sekalian af’al. Dan ini merupakan tahap dalam suluk Abdurrahman Shiddi, dan gagasan ini hanya merujuk pada perasaan (hal) dan penglihatan (syuhud).
b. Esa pada Asma-Nya
Yang dimaksud tauhid al-asma adalah memandang dengan matahati dan b dengan keyakinan yang kuat, bahwa hanya Allah yang wahdaniyat pada asma (esa pada nama). Dan tidak ada di alam ini yang mempunyai nama, nama-nama selain Allah hanyalah mazhhar dari asma Allah.
Dasar dan argumentasi yang diajukan Abdurrahman Shiddiq dalam gagasannya ini adalah, bahwa setiap nama pasti membutuhkan wujud dari yang memberi nama, sedangkan yang memberi nama itu adalah Allah. Allah adalah zat yang wujud secara hakiki. Segala yang ada selain-Nya adalah majaz, waham dan khayal dinisbahkan kepada wujud Allah. Dengan demikian, semua namapun kembali kepada-Nya. Dalam melaksanakan gagasan tauhid al- asma ini diarahkannya melalui dua jalur yang satu sama lain saling berkaitan. Pertama, dengan cara ”syuhud al-katsrah fi al-wahdah”, maksudnya memandang yang banyak (segala macam nama yang ada di alam) ini, sesungguhnya berasal dari yang satu, yaitu Allah. Kedua, dengan cara “syuhud al-wahdah fi al-katsrah”, maksudnya memandang yang satu pada yang banyak, artinya dari yang satu juga (Allah) terbit segala nama dalam alam ini.
Gagasan Abdurrahman Shiddiq dalam mengesakan nama (wahdat al-asma) dengan statemen “tidak ada di alam ini yang mempunyai nama (seperti yang pemurah, yang kaya, yang mematikan dan sebagainya), maksudnya adalah, yang mempunyai nama hanya Allah, dan apapun namanya harus kembali kepada-Nya. Renungan ini merupakan konsep atau gagasan tauhid syuhudi, yaitu melihat “Zat Tunggal”; dalam pandangannya tidak ada sesuatu kecuali “Zat Tunggal”. Dalam gagasan itu dapat dipahami dan diyakini, bahwa yang ada hanya “Zat Tunggal”, sedangkan yang lainnya dianggap tidak ada. Di sini tidak terkesan yang lain (alam) dianggap sebagai perwujudan dan penampakkan dari “Zat Tunggal”. Secara tegas ia menjelaskan; orang arif adalah orang yang mengenal Allah Ta’ala dan mengenal hamba, dan dapat membedakan antara Khalik dan makhluk. .
c. Esa pada Sifat-Nya
Menurut Abdurrahman Shiddiq, cara mengesakan Allah Ta’ala pada sifat yaitu, engkau pandang dengan matahatimu dan matakepala dengan i’tikad yang putus (kokoh) bahwa Allah Ta’ala Esa (wahdaniyat) pada segala sifat. Artinya hanya Allah bersifat qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’, Bashar, Kalam dsb., tidak ada yang lain bersifat dengan sifat-sifat tersebut, pada hakikatnya hanyalah Allah belaka. Apabila sifat-sifat Allah tersebut dikonfrontir dengan sifat-sifat yang ada pada makhluk, maka sifat makhluk itu majazi, bukan pada hakikatnya.
Maksud dengan majazi terhadap sifat-sifat yang ada pada makhluk itu adalah, semua sifat-sifat makhluk itu merupakan mazhar belaka dari sifat Allah. Apabila memandang cara demikian, akan sampai seseorang ke derajat Haq al-Yaqin, hanya Allah saja yang mempunyai sifat, maka fana’-lah sifat makhluk di dalam sifat Allah. Dengan demikian tak ada yang kuasa melainkan dengan Qudrat Allah, tidak ada yang berkehendak melainkan dengan Iradat Allah, demikian itulah terhadap sifat-sifat Allah yang lainnya. Dan inilah ma’rifah yang sesuai dengan Alquran dan hadis serta ijma’ ulama.
Gagasan Abdurrahman Shiddiq dalam tauhid al-şhifat ini mengandung pengertian, bahwa sifat-sifat manusia tidak dapat diperbandingkan dengan sifat-sifat Tuhan, karena sifat Tuhan benar-benar nyata, sedangkan sifat manusia bersifat maya (khayali) dan tidal nyata (waham). Gagasan ini tidak mengandung pengertian, bahwa ada satu kontinuitas substansi antara Tuhan dengan alam semesta, atau suatu pandangan panteisme atau monisme. Akan tetapi suatu pengertian dan pemahaman yang menegaskan, bahwa tidak boleh ada sesuatu pasangan tingkat realitas yang saling bebas satu dengan yang lain. Gagasan ini tidak mengacu ke suatu paham mistik yang memandang Tuhan sebagai realitas absolut dan tidak berhingga (Mystcem of Infinity) atau disebut Union Mistik; yaitu suatu aliran mistik yang memandang manusia bersumber dari Tuhan dan dapat mencapai kesatuan kembali kepada-Nya. Akan tetapi, gagasan ini mengacu pada pemahaman aspek personal bagi manusia dan Tuhan. Pemahamannya masih mempertahankan konsep yang esensi antara kedudukan manusia dengan Tuhan. Keyakinan seperti itu tergambar dalam paparannya, bahwa ada perbedaan antara Khalik dengan makhluk , dan dia menegaskan bahwa manusia itu kedudukannya sebagai khalifah fi al-ardhi.
d. Esa pada Żat-Nya
Mengesakan Allah pada zat adalah dengan cara memandang dengan matahati dan matakepala dengan pandangan yang putus (mantap) bahwa tidak ada yang maujud di dalam alam ini hanya Allah semata. Dengan demikian fana-lah zat kita dan semua makhluk di bawah zat Allah Ta’ala, sebab hanya wujud Allah semata, dan wujud yang lain (makhluk) selain Allah itu hanya khayal. Maksudnya alam (makhluk) ini menduduki posisi ma’dum pada tempat maujud, alam ini bukan wujud (realitas) yang hakiki, bukan wujud yang sebenarnya.
Kesimpulan Abdurrahman Shiddiq; bahwa segala sesuatu yang ada apabila disandarkan kepada wujud Allah yang hakiki itu, maka yang ada (makhluk) itu adalah khayal, waham, dan majaz. Kesimpulan ini ditarik dari alur pikir Abdurrahman Shiddiq, bahwa (i) alam ini sebelum dan sesudahnya tidak ada, (ii) alam ini bukan wujud dengan sendirinya, dia wujud dengan wujud Allah, (iii) alam ini fana’ sebab alam ini mazhar dari wujud Allah. Pikirannya ini tidak menunjukkan, bahwa pluralitas (alam) berkembang dari kebersatuan melalui proses manifestasi (tajalli). Gagasan seperti itu juga tidak menggambarkan keyakinan, bahwa yang ada hanya Żat Tunggal, dan tidak menganggap yang lainnya (alam) tidak ada. Dia melihat Żat Tunggal, atau menyatakan tiadanya sesuatu kecuali Żat Tunggal. Dia hanya memandang bukan menganggap dan meyakini sesuatu tidak ada, dan tidak berimplikasi pada keyakinan, bahwa yang lain dianggap tidak ada.
Dalil yang dia kemukakan bahwa “alam ini ada dengan wujud Allah”, gagasan ini berarti eksistensi Tuhan benar-benar nyata dengan pengertian wujud li żatihi. Sedangkan eksistensi dunia (makhluk) bersifat maya dan tidak nyata dalam pengertian wujud li ghairihi. dan gagasannya ini dapat terlihat dalam uraiannya “bahwa Tuhan itu berbeda dengan yang lainnya” . Di lain tempat dia ungkapkan, bahwa segala makhluk berdiri dengan wujud Allah , tidak dengan sendirinya”.
Dengan demikian, gagasan itu menunjukkan suatu usaha untuk mewujudkan fana´ dan baqa´ untuk melupakan segala sesuatu selain Allah. Bagi Abdurrahman Shiddiq, hanya diperlukan pandangan “Żat Tunggal” (tauhid syuhudi), dan tidak mempercayai ketunggalan Żat (tauhid wujudi). Lebih jelasnya, para sufi seperti Abdurrahman Shiddiq meyakini, bahwa semua makhluk itu berada pada tempatnya masing-masing, akan tetapi di hadapan wujud hakiki (Allah), wujudnya itu hilang dan menjadi seperti tidak ada.
Kata kuncinya, melalui tauhid al-afal, tauhid al-asma, tauhid al-sifat, dan tauhid al-żat, seseorang akan memperoleh ma’rifah (pengetahuan yang sempurna tentang Allah), yaitu orang yang mampu mengenal Allah dan mengenal hamba, serta dapat membedakan antara Khalik dan makhluk.

2. Al-Maqamat.
Abdurrahman Shiddik menempatkan fana’ dan baqa’ dalam pembicaraan maqam. Menurut dia, pada tahap pertama seseorang menyaksikan terhadap ke-esaan Allah (tauhid af’al, tauhid al-asma, tauhid al-sifat, dan tauhid al-żat), dan pada saat itu seseorang menyelam dalam laut ahadiyah (zat Allah semata). Dan di saat itulah seseorang memperoleh maqam fana´ fi Allah. Ditegaskannya lebih lanjut, maqam fana ini harus diteruskan ke tahap maqam baqa bi Allah.
Maqam baqa´ bi Allah diartikan kekal memandang dan menetapkan wujud alam ini dengan pandangan sebagai mazhar wujud Allah. Maqam baqa´ bi Allah ini disebut dua macam, syuhud al-katsrah fi al-wahdah dan Syuhud al-wahdah fi al-katsrah
Pada maqam baqa´ ini seseorang memandang segala keanekaragaman yang terlihat, akan mudah dimengerti dengan pandangan bahwa semua dari Allah; “Ma raaitu syai’an illa wa raaitu Allah ma’ahu” (tidak aku lihat sesuatu melainkan aku lihat Allah besertanya); “wa ma raaitu syai’an illa wa raaitu Allah fihi” (tidak aku lihat sesuatu melainkan aku lihat Allah Ta’ala di dalamnya); “wa ma raaitu syaian illa wa raaitu Allah qablahu” (tidak kulihat sesuatu melainkan aku lihat Allah Ta’ala dahulunya); “wa ma raaitu syai’an illa wa raaitu Allah ba’dahu” (tidak aku lihat sesuatu melainkan aku lihat Allah Ta’ala kemudiannya).
Dalam gagasan Abdurrahman Shiddiq, ternyata tidak terhenti pada tahap bayangan (zhilliyat) saja, kedua tahap itu hanya sebagai tahap suluknya. Sedangkan tahap terakhirnya adalah keabdian (‘ubudiyah). Dalam tahap ketiga, dia menegaskan; seorang salik harus kembali kepada jahir syari’ah yang dibawa Nabi Muhammad SAW., yaitu mengerjakan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Gagasan ini harus dipahami adanya pesan tersirat, bahwa setelah melewati “tahap kesatuan Zat” dan “tahap bayangan”, seorang salik bergerak menuju “tahap ‘Abdiyat” (pengabdian). Ini berarti bahwa kebenaran tertinggi adalah perbedaan ketimbang kebersatuan.
(i) Wali dan Karamah
Dijelaskannya, maqam wilayah (maqam wali) ini dapat diperoleh melalui ma’rifah, yaitu mengenal Allah dengan sempurna (wahdaniyat Allah), juga bisa diperoleh melalui ilmu laduni. Maqam wali yang diperoleh ilmu laduni harus didasari dengan ilmu dan amal. Selanjutnya dikatakannya, amal tanpa ilmu adalah sesat. Ilmu itu adalah jalan untuk mengetahui kaifiyah (cara) beramal, dan amal itulah yang akan menyampaikan seseorang kepada ilmu laduni. Dengan ilmu laduni seseorang akan memperoleh ma’rifah, dan ma’rifah (mengenal Allah) ini merupakan anugerah Allah, ini adalah jalan yang mengantarkan kepada kasyaf. Kasyaf diartikannya terbukanya hakikat sesuatu.
KESIMPULAN
Dalam lirik-lirik syairnya dia sisipkan pesan ajaran tashawuf akhlaki, seperti taubah, zuhud, tawakkal, shabar, ridla, shidiq, mahabbah, dan zikr al-maut. Term-term tasawuf ini ia katakan sebagai tarekat (jalan) untuk menyempurnakan syariat, bukan merupakan maqam sebagaimana umumnya kaum sufi. Semuanya itu untuk membersihkan hati dan akan berimplikasi dalam perilaku seseorang. Katanya, ajaran itu mengandung nilai-nilai akhlak yang harus diwujudkan dalam merambah kesempurnaan spiritual dalam praktik ibadah.
Ajarannya tentang ma’rifah, konsep ajarannya diawali dengan pembahasan menganai wahdaniyat Allah, yaitu ajaran tentang tauhid al-af’al, tauhid al-asma, tauhid al-shifat, dan tauhid zat. Dengan keempat tahapan itu seseorang memasuki tingkat ahadiyah, yaitu hanya Allah semata.
Di tingkat ahadiyah ini seseorang akan memperoleh maqam fana fi Allah (hilang wujud seseorang dengan wujud Allah). Maqam fana ini disempurnakan dengan tahap maqam baqa bi Allah, yaitu kekal memandang wujud alam ini dengan pandangan sebagai mazdhar wujud Allah.
Melalui ma’rifah seseorang akan mendapatkan maqam wilayah (tingkat kewalian). Maqam wilayah ini merupakan anugerah dari Allah yang diperoleh melalui musyahadah tauhid al-af’al, tauhid al-asma, tauhid al-shifat, dan tauhid zat, maupun melalui ilmu laduni
Tipe ajarannya bercorak tasawuf akhlak, di sisi lain ajaran ma’rifahnya bercorak wahdat al-syuhud (Mysticism of Personality), yaitu mengacu pada pemahaman aspek personal bagi manusia dan Tuhan. Dalam paham ini masih diperlakukan konsep yang esensi adanya perbedaan antara manusia dengan Tuhan. Ajaran tasawufya tidak mengandung pengertian ada satu kontinuitas antara Tuhan dengan alam semesta. Tasawufnya bukan tipe wahdat al-wujud (Mysticism of Infinity), suatu paham yang memandang Tuhan sebagai realitas absolut, atau disebut Union Mystic, yaitu paham tasawuf yang memandang manusia (makhluk) bersumber dari Tuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik, Islam di Indonesia,(Jakarta: Tertamas, 1974).
Abdullah, Syafe’i, Riwayat Hidup dan Perjuangan Ulama Syekh H.A.Rahman Shiddiq Mufti Indragiri, (Jakarta: CV. Serajaya, 1982)
Abdurrahman Shiddiq, Syajarat al-Arsyadiyyat wa ma Ulhiqa biha, (Singapura: Mathba’ah Ahmadiyah, 1356).
————–, Risalah ‘Amal Ma’rifah, (t.tp, t.pt., t.th.).
————–, Syair Ibarat dan Khabar Kiamat, (Singapura: Mathba’ah Ahmadiyyah, 1344 H.).
————–, Pelajaran Kanak-Kanak pada Agama Islam, (Singapura: Mathba’ah Ahmadiyyah, 1349 H./1931 M.).
————–, Mau’izah li Nafsi wa li Amtsa li min al- Ikhwan, (Singapura: Mathba’ah Ahmadiyyah, 1355 H./ 1936 M.).
————–, Asrar ash-Shalat min ‘Iddat al Kutub al-Mu’tamadah,( t.tp., t.pt., t.th.).
————–, Risalah fi Aqaid al Iman, (t.tp., t.pt., 1355 H./1936 M.).
Ansari, Muhammad Abd. Haq, Sufism and Syariah a Study of Syekh Ahmad Sirhind’s Effort to Reform Sufism, Penerjemah Achmad Nashir Budiman, Antara Sufisme dan Syariah, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993).
Azra,Azyumardi, Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-XVIII, (Bandung: Mizan, 1995).
Azhari Noer, Kautsar, Ibn ‘Arabi, Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan, (Jakarta: Paramadina, 1995)..
Bruinessen, Martin Van, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat, (Bandung: Mizan, 1985).
Effendi Hs., Imran, Pemikiran Akhlak Syekh Abdurrahman Shiddiq al-Banjari, (Pekanbaru: Tirta Kenca, 2003).
Ghazali, , Abdul Hamid, Ihya ‘Ulum ad-Din, (Kairo: Dar Ihya al-Kutub al Arabiyah, t.th.).
Ibnu Taimiyah, Majmu’at ar-Rasail, (Kairo: Mathba’ah al-Manar, 1341 H/ 1922
Ibnu ‘Arabi, Muhyi ad-Din, Al-Futuhat al-Makiyyat, (Beirut: Dar Shadir, t.th.)
————–, Fushush al-Hikam wa Ta’liqat’Alaih, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.).
Isa, Abddul Qadir, Haqaiq at-Tashawwuf, Penterjemah Khairu Amru Harahap dan Afrizal Lubis, Hakikat Tasawuf, (Jakarta: Qisthi Press. 2005).
Jamaluddin al-Qasimi, Mau’izhat al-Mu’minin min Ihya Ulum ad-Din, Penterjemah Moh. Abda’i Rathomy, (Bandung: Diponegoro, 1993).
Kusaeri, Atjeng Achmad, Abdurrahman Shiddiq al-Banjari, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005).
Mahmud, Abd. Al-Qadir, Al-Falsafah ash-Shufiyah, (Kairo: Dar al-Fikr, 1967).
Mughni, Syafiq A., Dinamika Intelektual Islam pada Abad Kegelapan, (Surabaya: Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat, 2002).
Munawar, Said Agil Husein, Alquran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki,(Jakarta: Ciputat Press, 2003).
Nata, Abuddin, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, t.th.).
Nazir, Muhammad, Sisi Kalam dalam Pemikiran Islam Syekh Abdurrahman Shiddiq al-Banjari, (Pekanbaru: SUSCA Press, 1992).
Qardhawi, Yusuf, Niat dan Ikhlas, Penterjemah Kathur Suhardi, (Jakarta: Pustaka Kautsar, 2000).
Qusyairi, Abul Qasim Abdul Karim Hawazin an-Naisaburi, Ar-Risalat al-Qusyairi fi Ilm at-Tashawwuf, (Kairo: Muhammad Ali Subaih wa Auladih, 1967)
Sayyid Ali, Sayyid Nur, At-Tasawwuf al-Syar’i, Penterjemah M. Yaniyullah, Tasawuf Syar’i, (Jakarta: Hikmah, 2003).
Stapa, Zakaria, Isu-Isu dalam Ushuluddin dan Falsafah,(Bangi: University Kebangsaan Malaysia, 1993).
Syukur, Amien, Menggugat Tasawuf, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999).
Wahib, Tasawuf dan Transformasi Sosial: Studi atas Pemikiran Tasawuf Hamka, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 1997).
Yunus, Abd.Rahim, Posisi Tasawuf dalam Sistem Kekuasaan di Kesultanan Buton pada Abad ke-19, (Jakarta: Seri INIS XXIV, 1995).
Diposkan oleh Sahriansyah di 22.10.08
0 komentar:

Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka
Langgan: Poskan Komentar (Atom)
Arsip Blog

* ▼ 2008 (5)
o ▼ Oktober (4)
+ RIWAYAT HIDUP DATU SANGGUL
+ RISALAH TASAWUF SYEKH ABDUL HAMID ABULUNG Oleh : S…
+ AJARAN TASAWUF SYEKH ABDURRAHMAN SHIDDIQ AL-BANJAR…
+ SEJARAH MUHAMMADIYAH PCM DAHA SELATAN KAB. HSS KAL…
o ► September (1)
+ Etnis Banjar

Mengenai Saya

Sahriansyah

Lihat profil lengkapku
Benarkah etnis banjar religius ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: