Pangeran Suriansyah

Islam di Tanah Banjar
Bermakna, Berbagi, dan Meyakini.
Sabtu, September 15, 2007
Sultan Suriansyah
SULTAN SURIANSYAH DAN PROKLAMASI ISLAM

DI TANAH BANJAR

Oleh Zulfa Jamalie

(Pengurus elkisab: Lembaga Kajian Islam, Sejarah, dan Budaya Banjar)

Salah satu peninggalan kerajaan Islam Banjar yang sampai sekarang masih bisa dilihat oleh generasi sekarang sesudah lebih kurang 4 abad yang lalu adalah Masjid Sultan Suriansyah di Kuin. Sebagaimana namanya masjid ini dibangun pada masa pemerintahan raja Banjar pertama yakni Sultan Suriansyah yang sebelumnya bernama Raden Samudera. Besar kemungkinan masjid ini dibangun pada tahun 1528-an sesudah terjadinya pengislaman sebagian masyarakat Banjar, karena itu diperkirakan usianya tidak kurang dari 450 tahun sudah. Menurut cerita yang mendapatkan tugas mengumpulkan alat-alat bangunan atau kayu untuk bangunan masjid ini adalah seseorang yang bernama Patih Anom alias Arya Malingkang atau Datu Pujung, seorang tokoh yang disegani dan mempunyai kekuatan luar biasa. Oleh Patih Anom didatangkan empat buah tiang soko guru dari kayu Halayung yang besar, karenanya konstruksi pertama masjid ini terdiri dari tiang soko Halayung, lantai Halayung dan atap dari dari daun rumbia, letaknya berjarak lebih kurang 500 meter dari istana sultan.

Masjid Sultan Suriansyah ini sudah mengalami beberapa kali pemugaran, perbaikan dan pergantian, misalnya tiang soko yang dulunya dari kayu Halayung diganti dengan kayu Bulan dan terakhir diganti dengan kayu Besi (Ulin). Kemudian atap yang dulunya rumbia diganti dengan atap sirap, begitu pula dengan dindingnya, yang sekarang sudah beton/semen. Pada zaman pemerintahan Sultan Tamzidillah I pernah diadakan perubahan, bentuk masjid dibuat berloteng empat tingkat yang ditambah dengan unsur-unsur yang belum ada pada aslinya, yaitu unsur menara empat rangkap. Loteng yang empat rangkap tersebut mengandung nilai-nilai religius dan filsafat ketuhanan yang tinggi, tingkat pertama mengandung pengertian syariat, kedua tariqat, ketiga adalah ma’rifat dan keempat adalah hakikat. Ada ukiran dan tulisan dari huruf Arab yang terdapat disalah satu pintunya dan merupakan wakaf dari Sultan Tamzidillah, kemudian juga ada sebuah mimbar berukir dari kayu ulin yang dibuat pada tahun 1292 H atau 1867 M.

Sebagai salah satu peninggalan sejarah dan aset umat yang berharga ada satu hal menarik dari keberadaan Masjid Sultan Suriansyah yang sedang mengalami pemugaran sekarang ini, yakni benarkah bahwa ia merupakan masjid tertua dan masjid pertama yang didirikan di Bumi Kalimantan (Banjarmasin)? Bila didasarkan pada catatan sejarah yang ada maka statement pertama pertanyaan di atas akan kita jawab dengan jawaban benar, sebab masjid ini memang merupakan masjid yang paling tua. Namun jawaban benar tersebut ternyata masih diragukan untuk pertanyaan yang kedua, sebab apabila di telusuri lebih jauh lagi tentang sejarah masuk dan perkembangan agama Islam di Bumi Kalimantan boleh jadi bahwa masjid pertama yang dibangun di Banua ini bukanlah masjid Sultan Suriansyah. Karena itu tulisan singkat ini bermaksud untuk membuka kembali wawasan kita tentang peristiwa permulaan masuknya Islam di Banua Banjar pada empatratus tahunan yang lampau menjelang kelahiran kota Banjarmasin.

Berdasarkan hikayat Banjar diceritakan bahwa cikal bakal berdiri kerajaan dan kota Banjarmasin bermula dari terjadinya perebutan suksesi kepemimpinan di kerjaan Daha (Negara Kabupaten Hulu Sungai Selatan) yang didirikan oleh Empu Djatmika pada tahun 1400 akhir. Berdasarkan wasiat raja Daha terakhir Maharaja Sukarama yang berpesan kepada putra-putri dan rakyat agar yang menggantikannya menjadi raja bila ia wafat adalah P. Samudera. Pesan ini ditentang oleh oleh P. Tumenggung dan putra lainnya. Karenanya ketika Maharaja Sukarama benar-benar wafat dan P. Samudaera masih kecil maka tak pelak lagi kerusuhan dan perebutan kekuasaan terjadi dalam kerajaan, sehingga oleh seorang Mahapatih (Mangkubumi) raja yang arif bijaksana bernama Arya Trenggana P. Samudera diungsikan ke daerah Banjarmasin yang waktu itu belum lagi dikenal, misalnya dalam kitab Negarakertagama disebutkan bahwa daerah yang dijadikan sebagai jajahan Majapahit di Kalimantan Selatan adalah Barito, Sawku dan Tabalong. Begitu pula dalam Sunda Manuscript 1518 atau Castanheda tak ada samasekali suatu bukti positif yang menyebutkan nama Banjarmasin.

Pengungsiannya ke daerah Banjarmasin yang dekat dengan daerah pelabuhan Muara Bahan (Marabahan) telah mempertemukan P. Samudera dengan Patih Masih yang menjadi pemimpin desa Oloh Masi yang meliputi daerah Kuin, Belitung, Tamban dan sekitarnya sekarang ini. Patih Masih adalah adalah patih dari golongan Oloh Masi atau orang Melayu, yang sebagai seorang patih memungkinkan ia mengetahui hal-hal dan perkembangan politik di Negara Daha, karena itu tak heran jika inisiatif pertama untuk merajakan P. Samudera datang dari orang-orang Melayu yang tinggal di pesisir Kuin. Ada dua alasan kenapa Patih Masih merasa berkepentingan untuk merajakan Raden Samudera, pertama karena ia dan masyarakatnya tidak mau lagi melihat daerahnya sebagai daerah jajahan yang terus-menerus mengantar upeti ke Negara Daha kepada Pangeran Tumenggung. Kedua sesuai dengan wasiat Maharaja Sukarama yang berhak menduduki kursi kerajaan Negara Daha sebenarnya adalah P. Samudera. Itulah sebabnya sesudah P. Samudera di rajakan mereka bersepakat untuk merebut bandar Muara Bahan dan menjadikannya sebagai bandar utama. Peristiwa ini menimbulkan terjadinya pertentangan yang semakin sengit sekaligus ketakutan penguasa kerajaan Negara Daha atas pengaruh yang lebih besar dari P. Samudera, sehingga pada akhirnya memicu terjadinya peperangan antara P. Samudera yang berdiam di daerah pesisir (muara Banjar) dengan P. Tumenggung penguasa daerah pedalaman. Perang keluarga antara Pangeran Samudera yang merupakan anak sepupu dari Pangeran Tumenggung diperkirakan terjadi pada tahun 1526, sebab pada masa itulah dilakukan pengiriman armada dan bantuan pasukan ke Banjarmasin oleh penguasa Kerajaan Demak Sultan Trenggana. Akhir dari peperangan keluarga tersebut dimenangkan oleh Raden Samudera dengan timbulnya kesadaran dari P. Tumenggung bahwa Raden Samuderalah yang berhak atas tahta kerajaan, sehingga akhirnya oleh Raden Samudera sebagian penduduk bekas kerajaan Negara Daha diimigrasikan ke Banjarmasin.

Dari gambaran di atas ada beberapa hal kembali yang menarik untuk dikaji ulang dalam konteks masuknya Islam di Kalimantan. Pertama penulis berasumsi bahwa jauh sebelum Raden Samudera memasuki Kuin, sebagian masyarakat Banjarmasin sudah ada yang beragama Islam, sebab letak Banjarmasin yang merupakan daerah pesisir laut dan dekat bandar Marabahan memungkinkan daerah ini untuk dikunjungi oleh mubalig-mubalig Islam dari daerah Sumatera dan Jawa. Karena itu menurut salah satu berita diriwayatkan bahwa salah seorang Walisongo yakni Sunan Giri atau Sultan Muhammad Ainul Yaqin ketika masih mengaji ilmu di pesantrennya Sunan Ampel Surabaya ia yang bernama kecil Joko Samudera pernah diutus, ditugaskan berdakwah dan mengadakan pelayaran ke pulau Banjar. Besar kemungkinan ketika tugas dakwah itu dilaksanakan oleh Sunan Giri Banjarmasin belum menjadi kota pelabuhan besar dan tidak disebut-sebut oleh orang, lebih-lebih lagi pada saat itu kerajaan Islam Banjar belum dibentuk oleh R. Samudera atau Sultan Suriansyah. Sehingga berita kedatangan Sunan Giri tersebut tidak kita temukan, karena memang belum tercatat secara jelas. Kedatangan Sunan Giri ke Banjarmasin ini membuktikan bahwa sesungguhnya ada sebagian dari masyarakatnya yang sudah memeluk agama Islam.

Kedua penulis berasumsi bahwa Patih Masih yang menjadi pemimpin orang-orang Melayu di Banjarmasin sebenarnya adalah seorang yang telah memeluk agama Islam, karenanya ia berusaha keras untuk menghapuskan dan melepaskan dominasi kekuasaan kerajaan Negara Daha yang beragama Budha/Hindu terhadap Banjarmasin dan daerah sekitarnya. Dengan cara merajakan Raden Samudera penerus atau generasi keturunan kerajaan Negara Daha/Negara Dipa yang terbuang dan membuat satu konsensus serta mendidik P. Samudera di rumahnya dalam lingkungan orang-orang Islam. Itulah sebabnya ketika Patih Masih mengusulkan dan mengutus Patih Balit untuk meminta bantuan kepada kerajaan Islam Demak (Jawa Tengah) Raden Samudera menyetujuinya. Dan sebagai seorang muslim setidaknya Patih Masih telah memiliki akses masuk ke kerajaan Demak, sehingga Demak mau membantu dengan satu syarat bahwa Islam harus dijadikan sebagai agama resmi negara oleh Pangeran Samudera dan rakyatnya kelak. Syarat ini dipenuhi oleh Raden Samudera yang pada akhirnya berganti nama menjadi Sultan Suriansyah, memaklumkan berdirinya kerajaan Islam Banjar, serta meresmikan diterimanya Islam secara luas oleh masyarakat Banjar dengan didirikanya masjid Sultan Suriansyah Kuin sebagai pusat peribadatan dan kegiatan dakwah.

Asumsi penulis yang ketiga adalah bahwa berdasarkan argumentasi di atas rasanya mustahil jika diterimanya Islam sebagai agama resmi masyarakat Banjar tanpa menimbulkan keributan, kerusuhan dan pergolakan, apabila agama Islam belum berakar atau dipeluk oleh sebagian besar masyarakat Banjar. Dengan kata lain pergolakan akan terjadi jika sebagian besar masyarakatnya adalah penganut agama Budha atau Hindu. Namun ternyata kerusuhan tidak terjadi dan tidak pernah ada dalam catatan sejarah, sehingga membuktikan bahwa Islam sebelum diakui sebagai agama resmi negara telah terlebih dahulu dipeluk oleh sebagian masyarakat Melayu Banjar. Karenanya peristiwa pengislaman masyarakat Banjar yang dilakukan oleh ulama utusan kerajaan Demak Khatib Dayyan lebih banyak ditujukan kepada masyarakat kerajaan Negara Daha yang telah imigrasi ke daerah Banjarmasin dan sekitarnya.

Asumsi yang keempat didukung oleh data dan fakta bahwa sampai sekarang tidak ditemukan bukti-bukti yang bisa menguatkan bahwa di daerah Banjarmasin ada bangunan atau tempat peribadatan khusus agama Budha atau Hindu berupa candi seperti yang ditemukan di Amuntai (Candi Agung) dan di Margasari (Candi Laras) atau patung-patung yang bercorak Budha serta bekas-bekas yang menjadi bukti kuat bahwa agama Budha/Hindu tidak dianut secara umum oleh orang-orang yang mendiami daerah pesisir Banjarmasin dan sekitarnya.

Berdasarkan keempat asumsi dan argumentasi di atas maka penulis berkeyakinan bahwa masjid pertama yang didirikan di Bumi Kalimantan bukanlah masjid Sultan Suriansyah, tetapi ada masjid-masjid lain yang dibangun oleh masyarakat Islam Banjar terlebih dahulu. Akan tetapi keberadaan masjid-masjid tersebut tidak bisa dipertahankan karena dimakan oleh waktu dan usia, atau boleh jadi karena bentuk dan bahan bangunan yang masih bersifat sederhana, sehingga tidak bertahan lama, tidak tercatat dan dianggap tidak memiliki nilai sejarah yang menjadi tanda dari suatu peristiwa. Boleh jadi pula bahwa tempat lokasi bangunan Masjid Sultan Suriansyah sekarang pada mulanya adalah masjid kecil yang hanya mampu menampung sejumlah kecil jamaah dan konstruksi yang sederhana, sehingga perlu untuk dibangun kembali dengan model dan konstruksi yang lebih baik, lebih kuat dan lebih besar sebagaimana yang terlihat sekarang. Sebab Masjid Sultan Suriansyah merupakan tanda diterimnya Islam secara resmi oleh kerajaan, tempat peribadatan raja dan kaum bangsawan, tempat pertemuan dan peringatan keagamaan rakyat dan kerajaan. Karena itulah eksistensinya dianggap sebagai bangunan penting yang harus tetap lestari, dikenang, dan dicatat tinta sejarah.
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa, pertama Masjid Sultan Suriansyah hanyalah masjid pertama yang dibangun oleh penguasa (pihak kerajaan Banjar) sebagai bukti dan pemenuhan konsensus yang telah disepakati oleh Raden Samudera atau Sultan Suriansyah dengan kerajaan Islam Demak di Jawa Tengah, bukan masjid pertama yang berdiri di bumi Kalimantan, sedangkan masjid pertama yang didirikan oleh masyarakat Islam Banjar hilang atau missing dalam catatan sejarah, apa namanya dan di mana bekas bangunannya? Kedua sebagian anggota masyarakat Banjar daerah muara atau pesisir sebagai salah satu kelompok yang menghuni Propinsi Kalimantan Sekarang sudah memeluk agama Islam jauh sebelum Raden Samudera atau Sultan Suriansyah memproklamirkan berdirinya kerajaan Islam Banjar. Karena itu masuknya Islam ke daerah ini diperkirakan tidak jauh berbeda dengan masuknya Islam ke Pulau Sumatera dan Jawa.
Posted by zuljamalie@yahoo.co.id at 07:49:20 | Permanent Link | Comments (0) |
<>
Komentar
Tulis komentar
Komentar

Cari

*

my advertisement
zuljamalie@yahoo.co.id

* Location:Banjar

Tag Cloud

* Ulama Banjar
* Ramadhan
* Guru Sekumpul
* Sultan Banjar
* Datu Kalampayan

My Music
Komentar terakhir

* You are thinking, lots of hard work, much clearer, super pro
* great capture,beautiful composition with rich colours.
* Thanks so very much for taking your time to create this very
* Tidak ada komentar, mohon di kirimkan copy kitab Barencong
* Kepada pembaca blog ini dipersilakan pula untuk membaca tuli
* Terimakasih atas apresiasi anda, sayangnya, sampai saat ini
* Ma’af kami tidak memberikan komentar tapi minta infomasinya

Blogroll

* Cahaya-Sufi
* Islam-Banjar

May, 2009
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6
Arsip

* Juli – 2008
* September – 2007

* Random Blog

Tinggalkan sebuah Komentar

Islam Banjar

skip to main | skip to sidebar
Islam Forever

“Welcome to my World” Bumi tempat ku berpijak, dunia tempatku berkarya dan Hidup yang kuperjuangkan
Friday, March 16, 2007
BUDAYA BANJAR DAN ISLAM

Masyarakat banjar dan islam memiliki hubungan yang sangat erat, bahkan islam tidak dapat dilepaskan dari keseharian masyarakat ini terlihat dar berbaga adat dan budaya yang banyak berwarna islam,. Terlebih lagi banjar memiliki seorang ulama besar yang menulis berbagai kitab keislaman. Salah satunya adalah kitab Sabilal Muhtadin karya Syekh M. Arsyad Al-Banjari.

Karya beliau ini sangat masyhur bahkan sampai ke negeri tetangga Malaysia. Bahkan Universitas Kebangsaan Malaysia melakukan kunjungan kekabupaten Banjar dalam rangka menghormati tanah kelahiran penulis kitab Sabilal Muhtadin yang dijadikan literature dalam pendidikan di beberapa Negara bagian di Malaysia.

Banjar juga dikenal sebagai sebuah daerah yang agamis dimana masyarkatnya memegang islam dengan sungguh-sungguh, bahkan ada sebuah pameo, adalah hal yang memalukan bila orang banjar tidak bisa membaca Al-qur’an. Ini menunjukkan bahawa perasaan masyarakat akan Islam masih sangat kuat.

Dari sisi bangunan, maka daerah ini dikenal dengan serambi makkah, atau daerah dengan seribu masjid. Karena di banua ini banyak terdapat mesjid yang menjadi lambang bagi keberadaan Islam dan pemeluknya yang mayoritas di daerah ini.

Dari sisi sejarah tidak bias dipungkiri kedekatan islam dan perjuangan anak banua ini menuju kemerdekaan. Semua tidak terlepas dari pengaruh semangat jihad dalam islam. Perjuangan pembebasan banua ini dari penjajahan selalu dibawah komando panglima-panglima muslim yang juga merupakan keturunan ningrat dari raja-raja Banjar Semangat islam dan penerapan hukumnya -terlihat dari penulisan kitab-kitab dengan arab melayu- pada waktu itu, menunjukkan bahwa masyarakat banjar dan budayanya sangat erat dengan Syariat Islam.

Melihat berbagai hal ini, rasanya sangat wajar jika kita sebagai warga banua merasa sangat dekat dengan Islam dan sangat merindukan kembalinya suasana Islami dalam lingkungan kita. Namun sangat menyedihkan banua yang dikenal dengan keIslamannya ini kini tengah kehilangan/ luntur identitasnya.

Lunturnya budaya islam ini bukan pada hal yang berkenaan dengan ibadah sehari-hari, namun pada hal yang lebih besar lagi. Yakni pada hal yang berkenaan dengan social kemasyarakatan. Pada hal yang berkenaan dengan hukum dan pemerintahan. Dimana masyarakt islam banjar tidak lagi berhukum pada Allah tapi pada hukum yang lain. Sehingga mengakibatkan semakin tergerusnya keimanan ummat dan meningkatnya kejahatan moral dikalangan muda seperti seks bebas dikalangan murid SMU bahkan Aliyah, selain itu juga dengan narkoba. Hingga membuat kita bertanya masihkah kita hidup dilingkungan yang Islami?

Dengan semua potensi yang kita miliki sudah sepantasnya jika kita sebagai warga banua merindukan tegaknya kembali islam. Selain karena kedekatan histories juga karena dorongan dien. Sehingga Islam tidak lagi sekedar sebagai mata pelajaran pokok semata tapi juga landasan kehidupan dan standar bagi kemajuan, baik dan buruk dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Dan adalah sebuah hal yang sangat wajar jika kita warga banua yang mengawali penegakkan syariat Islam ini, dan menjadi mulia karena hal ini. Sehingga julukan serambi mekkah benar-benar menunjukkan sebagai serambi dari penegakkan syariat Islam, bukan sekedar sebutan semata. Seperti semboyan kita selama ini “haram mayarah waja sampai kaputing”. Jadi mari kita perjuangkan bersama Islam yang sudah menjadi nafas kehidupan dan sangat dekat dengan keseharian kita ini menjadi pengatur dalam semua bentuk kehidupan kita, dan tentunya dalam bentuk yang telah Allah gariskan yakni Khilafah Islamiyah.

Wallahu a’alam bi shawab.
Posted by haniyah sofyan at 5:50 PM
Labels: Opini
0 comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)
sholat yuk

Free Blog Content
Yang punya
My Photo

haniyah sofyan

View my complete profile

.:. Labels .:.

* Buat kampus ku (6)
* Buku (2)
* Cinta (11)
* Edisi Khusus (10)
* Lain-lain (50)
* Opin (2)
* Opini (19)
* Place where we live (3)

Blog Archive

* ▼ 2009 (10)
o ▼ May (2)
+ Sheila On 7 – Yang Terlewatkan (Original Clip High…
+ Don’t wanna be the second best
o ► April (2)
+ Bingung
+ dunia menuju Unifikasi
o ► March (1)
+ Kontrak Politik
o ► February (1)
+ Real Age
o ► January (4)
+ Israel, Palestina dan Obama
+ oedipus complex dan krisis karakter
+ Titik dan Cinta
+ hmmm

* ► 2008 (35)
o ► December (4)
+ Akhir Tahun
+ the one
+ Met Eidul Adha
o ► November (2)
+ KAPITALISASI SUMBERDAYA ALAM DAN ENERGI (SDAE) DI …
+ UU PORNOGRAFI MERUSAK GENERASI BANGSA
o ► October (3)
+ Pe-eR
+ Islam Budaya vs Islam Ideologis
+ Cinta membuatmu terluka… ikatan yang kujalin s…
o ► September (3)
+ met lebaran
+ zakat membawa maut
+ Rahasia Meede Misteri Harta Karun VOC
o ► August (1)
+ Kemerdekaan
o ► July (3)
+ Sumber Energi Alternatif
+ Feminisme dakwah
+ Panen lagi
o ► June (4)
+ Liburan ku
+ Laskar Komando Islam
+ FPI rusuh
+ semua susah
o ► May (7)
+ Selamat
+ Konferensi Pendidikan regional Kalimantan
+ Negeri yang Langka
+ [Glitterfy.com - *Glitter Words*] Cinta itu langi…
+ Buat…
+ Ketika Ibu Beraksi
+ Catatan di SMS
o ► March (3)
+ Antalagi
+ beginilah kegiatan di banjarbaru akhir-akhir ini….
+ Banjarbaru Onthel Mania
o ► February (2)
+ Philip Pulman Trilogy
+ Alif telah tiba…
o ► January (3)
+ Amuntai
+ Komunitas Blogger Kalsel
+ Pusing

* ► 2007 (40)
o ► December (3)
+ Resolusi Tahun Baru
+ Semester Satu
+ selamat eidul adha
o ► November (3)
+ Macet Lagi
+ Strategi Siapa??
o ► October (2)
o ► September (6)
o ► August (4)
o ► July (3)
o ► June (5)
o ► May (3)
o ► April (1)
o ► March (5)
o ► January (5)

^..^ Teman – teman ^..^

* ahi surya
* Amee
* Amin Sudarsono
* bazz
* diary puan
* dy
* femaleap – bjb
* German
* gusti
* harie
* HTI
* Ka Fath
* Khilafah
* khoiru
* Mba Nafiis
* Mia
* qorie
* razied
* rini
* sayur – Solo
* shaleh
* sis qonaah
* sunan limolas
* suriyadi – mtp
* zian

[Free Images Counter by http://www.OGGIX.com [Free Images Counter by http://www.OGGIX.com [Free Images Counter by http://www.OGGIX.com [Free Images Counter by http://www.OGGIX.com
by OGGIX.com
Free Shoutbox Technology Pioneer
[Informasi Beasiswa S1, S2, S3]
Powered By Blogger

Kecewa -
http://www.newyearstext.com – new years text

new years text

Tinggalkan sebuah Komentar

Muhammadiyah Kalsel

skip to main | skip to sidebar
ISLAM BANJAR

Rabu, 2008 Oktober 22
SEJARAH MUHAMMADIYAH PCM DAHA SELATAN KAB. HSS KALIMANTAN SELATAN

1. Jelaskan latar belakang berdirinya Muhammadiyah di cabang ini ?

Berawal dari keprihatinan akan banyaknya berbagai praktek keagamaan masyarakat yang menyimpang dari ajaran Islam yang murni sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Saw, seperti banyaknya perilaku masyarakat yang mengarah kepada perbuatan takhayul, bid’ah dan khurafat serta taqlid buta terhadap pendapat suatu ulama tertentu. Adalah beberapa tokoh diantaranya H. M. Saleh dan Syar’an merasa terpanggil untuk bisa mengajak kembali masyarakat yang berada di sekitar tempat tinggalnya khususnya di kawasan Tumbukan Banyu Kec. Daha Selatan untuk kembali ke pada ajaran Islam murni yang berlandaskan pada Al Quran dan Sunnah Rasulullah Saw.

Untuk melakukan hal itu semua, ternyata tidaklah semudah membalik telapak tangan. Perlu waktu bertahun-tahun lamanya untuk mengubah perilaku masyarakat yang sudah mendarah daging tersebut. Menyadari akan hal tersebut, para pendiri di cabang ini tidak secara langsung mendakwahkan Muhammadiyah secara terang-terangan, melainkan dengan cara sembunyi-sembunyi. Pada awalnya beliau mengumpulkan orang-orang yang seide dengan beliau untuk mengadakan pengajian dari rumah ke rumah, khususnya di rumah beliau sendiri yang kebetulan ruangannya cukup luas sehingga cukup menampung banyak orang.

Dakwah seperti itu berlangsung cukup lama hingga saat ini, dan ternyata cukup efektif dalam menggaet hati masyarakat disekitarnya untuk bergabung dalam persyarikatan Muhammadiyah ini. Sebab dakwah yang dilakukan tidak hanya terbatas pada dakwah bil lisan tapi juga dakwah bil hal, yakni memberikan bantuan langsung khususnya sembako kepada para jamaah/masyarakat yang kebetulan tidak mampu secara ekonomis. Dengan demikian orang pun merasa cukup senang dan antusias mengikutinya, sehingga makin lama makin bertambahlah anggotanya.

Akhirnya setelah merasa cukup kuat, disiapkanlah pendirian Persiapan Cabang Muhammadiyah Daha Selatan yang pada waktu dipimpin oleh Bapak H. Abdul Aziz. Selang beberapa tahun kemudian ditetapkanlah menjadi Cabang Muhamamdiyah Daha Selatan yakni pada tanggal 14 Syawal 1426 H / 16 Nopember 2005 M .

2. Kapan Muhammadiyah berdiri di Cabang ini? Sebutkan tanggal, bulan dan tahun?

14 Syawal 1426 H / 16 Nopember 2005 M

3. Siapakah Pendiri Muhammadiyah di Cabang ini?

a. H. M. Saleh

b. Syar’an

4. Siapakah Pimpinan Muhammadiyah di Cabang ini dari yang pertama sampai dengan saat ini?

a. H. Abdul Aziz (Persiapan Cabang)

b. Muhammad Hasan (2005 – 2010)

5. Sebutkan susunan penguru Pimpinan Muhammadiyah di Cabang saat ini?

a. Ketua : Muhammad Hasan

b. Wakil Ketua : Syar’an

c. Sekretaris : Drs. Bustami

d. Wakil Sekretaris : Aslam, S.Ag

e. Bendahara : H. M. Saleh

f. Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid : -

g. Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus : Muhammad, S.Ag

h. Ketua Majelis Wakaf dan ZIS : -

i. Ketua Majelis Kesehatan & Kesej. Masy. : Rusmali, S.IP dan Sulaiman

j. Ketua Majelis Dikdasmen : H. Sirajuddin.

6. Di mana alamat kantor Pimpinan Muhammadiyah di Cabang saat ini?

a. Jalan Musyawara Rt.4 Tumbukan Banyu Negara

b. Kabupaten Hulu Sungai Selatan

c. No Telp/Hp. An. HM. Saleh (0517) 52151, 08125133725

7. Jelaskan hubungan Muhammadiyah dengan Pemerintah dan Organisasi Islam lainnya, serta berikan contohnya?

8. Jelaskan peranan Muhammadiyah menurut Pemerintah dan Masyarakat, berikan contohnya?

Saat ini menurut pemerintah bahwa Muhammadiyah Paharangan cukup aktif dan banyak membantu Pemerintah.

9. Berapa buah masjid yang dimiliki Cabang Muhammadiyah saat ini?

Pada saat ini sedang dilakukan usaha penggalangan dana untuk membangun sebuah masjid guna menampung jamaah yang saat ini hanya dilakukan dirumah salah seorang warga saja.

10. Berapa buah mushalla yang dimiliki Cabang Muhammadiyah saat ini?

No

Nama Mushalla

Nama Ketua

Alamat

Hp

Jumlah Jamaah

1

Al-Jihad

H. M. Nawawi

Habirau

-

50

11. Berapa buah sekolah/madrasah yang dimiliki Cabang Muhammadiyah saat ini?

Tidak Ada

12. Berapa buah Panti Asuhan Anak Yatim yang dimiliki Cabang Muhammadiyah saat ini? Tidak Ada

13. Berapa buah Badan Usaha yang dimiliki Cabang Muhammadiyah saat ini?

No

Nama Usaha

Nama Pimpinan

Alamat

Hp

Jumlah Anggota

1

BMT

Mahrawi

Tumbukan Banyu

-

25

14. Adakah Majelis Ta’lim yang diadakan Cabang Muhammadiyah saat ini? Ada, Pengajian Mingguan yang dilaksanakan setiap malam Kamis, serta Pengajian Bulanan setiap Kamis minggu ketiga.

15. Berapa anggota Muhammadiyah yang terdaftar memiliki NBM/Katam di Cabang Muhammadiyah saat ini?

No

Nama Ranting

Alamat

Telp

Jumlah Anggota

1

Tumbukan Banyu

Jl. Musyawarah Rt. 4

-

40

2

Bayanan

Jl. Bintara Rt. 4

-

2

3

Habirau

Habirau

-

8

4

Habirau Tengah

Habirau Tengah

-

3

Jumlah

53

16. Pimpinan Cabang Muhammadiyah ini terdiri atas beberapa Ranting?

No

Nama Ranting

Nama Ketua

Alamat

Hp

Jumlah Anggota

1

Tumbukan Banyu

Sandun

Jl. Musyawarah Rt. 4

-

40

2

Bayanan

Syarifuddin, A.Ma

Jl. Bintara Rt. 4

-

10

3

Habirau

Rusmali

Habirau

-

30

4

Habirau Tengah

M. Ihsan, S.Ag

Habirau Tengah

-

20

17. Berapa buah organisasi otonom yang dimiliki Cabang Muhammadiyah saat ini?

No

Nama Ortom

Nama Ketua

Alamat

Hp

Jumlah Anggota

1

Aisyiyah

Rafiqah

Jl. Musyawarah Rt. 4 Tumbukan Banyu

-

40

18. Program kerja apa saja yang dilakukan Muhammadiyah untuk memberdayakan umat Islam?

Dalam rangka memberdayakan umat Islam khususnya warga Muhammadiyah, diadakanlah santunan sosial berupa pemberian sembako secukupnya bagi warga yang kebetulan tidak mampu secara ekonomis, sehingga mereka diharapkan bisa tersantuni.

19. Tantangan apa saja yang dihadapi Muhammadiyah dalam menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar?

Masih banyaknya orang yang berpandangan keliru terhadap organisasi Muhammadiyah serta misi yang diembannya.

20. Sebutkan sumber dana untuk melaksanakan program kerja Cabang Muhammadiyah saat ini? Iuran Anggota/Simpatisan (Donatur) serta mengedarkan amplop sumbangan

21. Saran?

PWM Kalsel diharapkan lebih sering berkunjung ke Cabang-cabang untuk pembinaan langsung warga Muhammadiyah, agar dapat melihat berbagai berbagai kendala, hambatan dan halangan yang mengakibatkan keberadaan Cabang Muhammadiyah Paharangan kurang berkembang, sehingga dapat diatasi.
Diposkan oleh Sahriansyah di 22.10.08
0 komentar:

Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka
Langgan: Poskan Komentar (Atom)
Arsip Blog

* ▼ 2008 (5)
o ▼ Oktober (4)
+ RIWAYAT HIDUP DATU SANGGUL
+ RISALAH TASAWUF SYEKH ABDUL HAMID ABULUNG Oleh : S…
+ AJARAN TASAWUF SYEKH ABDURRAHMAN SHIDDIQ AL-BANJAR…
+ SEJARAH MUHAMMADIYAH PCM DAHA SELATAN KAB. HSS KAL…
o ► September (1)
+ Etnis Banjar

Mengenai Saya

Sahriansyah

Lihat profil lengkapku
Benarkah etnis banjar religius ?

Tinggalkan sebuah Komentar

Datu Sanggul

skip to main | skip to sidebar
ISLAM BANJAR

Rabu, 2008 Oktober 22
RIWAYAT HIDUP DATU SANGGUL
A. Asal-usul Cerita
Sejarah singkat purbakala ini bersumber dari M. Junang Pasak tokoh muning atau bungkut Muninglah yang dapat menyusun riwayat ini. Setelah M. Junang wafat, riwayat ini diserahkan pada Pembakal Uning. Kejayaan pembakal Uning ini ialah ia dapat berbadan empat, yang sama rupanya. Setelah pembakal Uning wafat, riwayat ini diserahkan pada pembakal Asdin. Pembakal Asdin kemudian wafat dan riwayat ini diserahkan pada anak menantunya yang bernama Lasan. Setelah Lasan wafat, riwayat ini diserahkan kepada anaknya yang bernama Mawardi yang menjadi juru kunci makam Datu Sanggul.
Mawardilah yang kemudian mengisahkan riwayat in. nama kampung Muning kemudian mengalami perubahan dan asal muasal perubahan nama kampong itu adalah sebagai berikut: Tabuh atau dawuh di Mesjid Tatakan dibagi dua. Jadilah tabuh atau dawuh itu ditatak dua atau di potong dua. Setatak atau sepotongnya dibawa ke Pebaungan dan setatak/ sepotongnya tetap di Muning.
Apabila tabuh atau dawuh itu dipalu di masjid Munging bunyinya kedengaran sampai ke Pabaungan, begitu pula dawuh di mesjid Pabaungan kalau dipalu bunyinya sampai kedengaran ke Muning. Antara kedua kampong itu jauhnya kurang lebih 30 km. Pabaungan Margasari itu bernama Muahara Muning, oleh karena itulah kampung Muning Tatakan. Cerita awal dawuh yang ditatak atau dipotong dua itulah yang menjadi kampung Muning Tatakan. Kata “Tatakan” berasal dari dawuh atau tabuh yang ditatak atau dipotong. Demikianlah keterangan yang bersumber dari M. Junang turun temurun kepada anak dan menantu tentang riwayat asal muasal kampung Tatakan.

B. Riwayat
Seorang pemuda yang sedang gigih menuntut ilmu berasal dari Aceh bernama Abdul Samad sudah lama dia sangat tekun belajar ilmu syariat dari beberapa orang guru yang terkenal di Aceh, tetapi hatinya belum saja merasa puas. Dia masih haus ilmu. Seolah-olah ilmu yang sekarang dimilikinya belum cukup menenteramkan hatinya yang sedang mencari ilmu. Sudah habis guru-guru di Aceh ditemuinya dan menimba ilmu dari mereka, hatinya belum juga merasa puas.
Sudah berkeliling Aceh dia mencari guru ilmu Tauhid dan Tasawuf, tetapi belum juga ditemukannya. Memang guru Tauhid dan tasauf banyak jumlahnya di Aceh, tetapi yang diperolehnya belum memenuhi keinginan hatinya.
Dari hasil perjalanannya mencari ilmu ini, dia mendengar kabar bahwa di Banten terdapat seorang guru yang sedang dicari-carinya. Alangkah gembira hatinya, karena gurunya meredhai segala ilmu yang diberikan kepadanya dan mendoakan semoga dia menjadi orang yang saleh dan bermanfaat bagi agama dan perkembangan Islam. Dia berlayar ikut menumpang para pedagang Palembang yang pulang ke negeri Palembang. Dari informasi para pedagang Palembang Abdus Samad akhirnya berguru kepada seorang yang terkenal bernama Syekh Nurdin bin Ali al-Habsyi.
Abdus Samad menjadi bingung, karena berapa guru sudah ditemunya, belum juga memperoleh keterangan yang memuaskan dirinya. Belum menemukan jalan yang dicapai, sehingga jalannya saja belum diketahui apalagi yang dicari maka kalau tidak tahu jalannya sepanjang masa tidak bertemu dengan dirinya. Kata orang tua cari jalan, karena jalan itu penting dicari.
Abdus Samad berdoa siang dan malam kepada Allah agar diberi petunjuk jalan yang dicarinya. Setelah berapa waktu dia berdoa siang dan malam, pada suatu hari dia tertidur karena kelelahan. Dalam tidurnya, dia dijumpai oleh seorang tua dan langsung bertanya: “Hai Abdus Samad betulkan kamu hendak menuntut ilmu. Kalau kamu betul hendak menuntut ilmu, kamu harus pergi ke pulau Borneo. Guru yang dimaksud adalah Datu Suban dalam wilayah kerajaan Banjar. Di kampung Muning Tatakan, rumah guru Datu Suban dekat makam Datu Nuraya. Makam itu panjngnya 30 depa. 1 depa itu sama dengan satu setengah meter. Dengan demikian panjang kubur itu 45 meter. Kamu harus pergi ke pulau Borner”.
Abdus Samad terkejut dan terbangun dari tidurnya. Dia menoleh ke kiri dank ke kanan tidak ada orang. Dia mengucapkan Alhamdulillah karena dia diberi pertunjuk oleh Allah untuk mencari ilmu kesempurnaan yang selama ini dicari-carinya dan berdoa siang dan malam.
Di kampung Muning Tatakan, Datu Suban berbicara di hadapan murid-murdinya. Kata Suban di hadapan murid-muridnya, “Hai murid-muridku dengarkanlah kata-kataku ini. Besok akan menerima tamu dari jauh yang datang ke sin semaa-mata untuk menuntut ilmu kepada kita. Dia bernama Abdus Samad berasal dari Aceh, kemudian menuntut ilmu di Banten. Kemudian menuntut lagi ke negeri Palembang dan besok akan datang ke sini untuk menuntut ilmu pula. Untuk menyambut Abdus Samad ini, saya tugaskan kepada Ganun. Ganun harus berangkat menyusul ke simpang tiga dan menunggu di sana.
Setelah Abdus Samad sampai di simpang tiga dengan mengucapkan salam, Abdus Samad bertanya kepada orang yang sedang berdiri di hadapannya. Katanya, “Maafkan saya, saya ingin bertanya, ini kampung apa namanya”. Ganun yang memang sedang menunggu orangnya langsung menjawab, “Ini kampung yang bernama kampung Muning Tatakan”. Abdus Samad mengucapkan Alhamdulillah dan bersyukur sampai ke tempat tujuan yang dicari.
Setelah beberapa lama Abdus Samad berada dalam kamar itu melakukan khalwat dengan zikir dan doa hanya semata-mata menyanggul ilham dari Allah, gurunya berkata: “Hai anakku apakah kamu sudah dapat menyanggul ilham dari Allah itu”. “Inggih-inggih, sudah dapat”, kata Abdus Samad.
Gurunya melanjutkan pertanyaannya, kalau kamu sudah dapat menyanggul ilham Allah, apa tandanya dan jelaskan buktinya. Buktinya adalah, “Bahwa Mekkah dan Madinah itu dekt sekali dan dekat pula dengan makam Nabi Muhammad Saw”, kata Abdus Samad. Langsung dijawab gurunya cukup, sudah cukup kamu menyanggul ilham Allah.
Bukti lainnya adalah ulun sangat rindu dengan Allah dan dijawab oleh gurunya bahwa yang dicari itu adalah rindu kepada Allah. Oleh gurunya Abdus Samad diberi gelar Sanggul Abdus Samad atau dikenal sebagai Datu Sanggul Abdus Samad, hanya dikenal Datu Sanggul.
Kedatangan kamu kemari adalah untuk menyaksikan bahwa aku akan menyeahkan kitab pusaka yang sangat berharga kepada saudaramu Sanggul. “Kamu semua jangan kecil hati, jangan iri hati kepada saudaramu Sanggul karena dapat kitab pusaka ini, sedangkan kamu tidak dapat”, kata guru mereka Datu Suban. Serentak murid lainnya menjawab, “Inggih-inggih, kami tidak kecil hati dan tidak kecewa”. Kepada Sanggul ditugaskan untuk mengajarkan isi kitab ini kepada keturunan kita dan jiran-jiran di sini dan kepada murid lainnya agar jangan membuat tuntutan di kemudian hari atas tugas ini. Murid-muridnya serentak menjawab, “Inggih, kami tidak menuntut di kemudian hari”.
Yang kedua yang perlu kamu ketahui, mengapa semua kamu dikumpul di sini adalah bahwa aku sebagai gurumu akan pulang ke Rahmatullah, sebentar lagi aku akan pulang, kata Datu Suban kepada murid-muridnya. Semua murid-muridnya terdiam dan dengan perasaan terkejut karena akan kehilangan guru mereka, tetap mereka tidak ada yang berani berkata-kata.
Selanjutnya Datu Suban meneruskan pembicaraan dengan beberapa nasehat, “Sebentar lagi aku akan kembali ke asal kejadian, dan kamu harus hati-hati kalau aku sudah tidak ada lagi. Jangan terjadi silang sengketa di antara kamu sekalian, jangan mengadakan permusuhan sesame muslim karena semua muslim itu bersaudara. Jangan iri dengki, jangan mengadu domba sesame muslim. Orang muslim itu ibarat satu tubuh, kalau satu bagian anggota tubuhnya sakit, maka semua tubuhnya merasa sakit pula. Inggih, kami taati nasehat guru,” serentak muridnya menjawab.
Datu Suban berkata lagi, “Hai anakku Sanggul, kamu anakku, aku akan kembali kehadirat Allah, aku akan menyerahkan kitab pusaka ini kepada kamu”. Dengan segala rendah hati Datu Sanggul dan dengan perkataan rendah dia menerima kitab pusaka ini, dia bukan ahli waris dari kitab ini. Lebih baik diserahkan kepada Kaka Murkat, saudara tertua dari kami semua. Tetapi saudara-saudaranya termasuk yang tertua Murkat, menyerahkannya kepada Datu Sanggul.
Datu Suban guru mereka selanjutnya berkata, “Nah sekarang saksikan semua bahwa kitab pusaka ini aku serahkan kepada Sanggul”. Datu Sanggul menerima kitab pusaka itu dengan perasaan bangga dan terharu dan bersyukur kepada Allah karena dipercaya guru mereka memegang amanah memelihara dan menajarkan kitab itu kepada anak keturunan dan jiran sekalian. Datu Sanggul mencium kepada kitab pusaka itu dan langsung memeluk gurunya, mencium tangan gurunya dengan ucapan, “Ulum minta ampun dunia akhirat dan ulum minta redho dari sampean atas ilmu yang sampean berikan”. Dan ulun tolong doakan agar tercapai mendapat keredhaan Allah dan mendapat safaat Rasulullah, Datu Sanggul meneruskan kata-katanya.
Kepada Murkat murid tertua dari semua murid Datu Suban, Datu Suban berkata, “Hai anakku Murkat, kamu sebagai pengganti aku memberi nasehat kepada saudara-saudara kamu, sebijaksana mungkin yang dapat kamu lakukan, agar mereka menjadi orang yang beriman kepada Allah”. Demikianlah kata-kata terakhir dari guru mereka Datu Suban. Setelah itu murid-muridnya menyaksikan Datu Suban kembali kehadirat Allah.
Setelah Datu Suban mengucapkan “Assalamu’alaikum, dan dijawab oleh murid-muridnya wa’alaikum salam, maka meletuslah dan muncul kukus atau asap, terus menghilang lenyap seiring dengan lenyapknya guru mereka Datu Suban. Tidak diketahui ke mana perginya mereka, kenyataannya guru mereka Datu Suban tidak ada lagi di hadapan mereka.
Untuk menunaikan amanat gurunya, Datu Sanggul memulai mengajar murid-murid yang menuntut ilmu kepadanya. Muridnya bertambah banyak, karena memang Datu Sanggul seorang yang alim dan bahkan menjadi seorang wali Allah, namun tidak seorang pun yang tahu bahwa di wali Allah. Setiap hari Jumat dia sembahyang Jumat di Mekkah atau Madinah dan tidak pernah sembahyang di Mesjid Muning Tatakan.
Dan semua orang yang tidak shalat Jumat harus lapor pada Labai, kalau tidak lapor, maka kena denda. Perintah shalah fardu Jumat itu sehubungan dengan surah Syekh Muhamamd Arsyad al-Banjari dari Mekkah yang mengharapkan agar raja membuat perintah semua rakyat kerajaan agar wajib shalat fardu Jumat. Kalau melanggar dijatuhui hukuman denda.
Dalam sistem pengadilan dan hukum Islam kerajaan Banjar, pengadilan berdiri sendiri dan bahkan tidak boleh dicampuri oleh kerajaan. Pengadilan di tingkat distrik yang disebut dengan wilayah Lelawangan sejenis Kabupaten kalau sekarang dan tingkat lurah setingkat kecamatan kalau sekarang. Kepala pengadilan adalah penghulu. Jadi tugas penghulu di samping diberi wewenang menikahkan seseorang, juga berperan sebagai kepala pengadilan segala macam pelanggaran terhadap kerajaan.
Di kampung seperti dalam cerita ini di kampung Mining Tatakan, kepala pengadilan dijabat oleh penghulu kampung, yang memutuskan segala pelanggaran tingkat kampung. Dalam menjalankan tugasnya penghulu ini dibantu oleh aparat hukum yang bertugas sebagai polisi kampung yang terdiri dari Tuan Khatib, Tuan Bilal dan Tuan Kaum. Yang dimaksud dengan Labai dalam cerita ini adalah tuan Bilal, jadi pada masa kerajaan Banjar. Tuan Kaum itu adalah polisi desa yang menangkap seseorang kalau terjadi pelanggaran hukum di kampung. Sangat berbeda dengan sekarang. Kaum itu jabatan paling rendah, sebagai pekerja kebersihan. Semua jabatan seperti Tuan Penghulu, Tuan Khatib, Tuan Bilal dan Tuan Kaum adalah pejabat kerajaan yang diberi imbalan gaji oleh kerajaan.
“Berapa besar dendanya”, kata Datu Sanggul yang kemudian dijawab oleh Tuan Labai, bahwa dendangya sekali Jumat tidak shalat fardhu, sebesar dua real sesuku atau dua real setengah. Datu Sanggul langsung membayar uang denda tersebut. Tetapi setiap Datu Sanggul tidak shalat Jumat ke Mesjid MUning, Tuan Labai teruse mengambil denda sebanyak dua real sesuku. Begitulah terus sampai beberapa lama. Tetapi suatu saat, Datu Sanggul tidak punya uang, Tuan Labai mengambil denda dengan barang yang ada di rumah, yang nilainya seharga dua reak sesuku, seperti parang lanting, parang ganggaman, tajak, parang bungkul, karis dan berbagai alat rumah tangga lainnya.
Pada suatu hari isterinya terpaksa memberanikan diri berbicara dengan suaminya, karerna barang pembayar denda kalau Jumat akan datang Datu Sanggul tidak ke mesjid Muning, barang pembayar denda sudah habis, yang tertinggal hanya sebuah kuantan atau periuk dari tanah dan sebuah londai. Harga kedua barang yang tersisa itu tidak mencukupi dengan nilai harga dua real sesuku.
Dengan suara belas kasihan isterinya mengharapkan agar suaminya Datu Sanggul pada hari Jumat yang akan datang shalat Jumat di Mesjid Muning Tatakan, supaya Tuan Labai tidak datang ke rumah menagih denda. Isterinya berkata, “Kalau Tuan Labai datang lagi menagih denda kita malu karena tidak dapat membayar denda”. Suaminya Datu Sanggul menjawab, “Insya Allah kalau tidak ada uzurnya, malam Jumat yang akan datang hujan lebat laur biasa”.
Menjelang malam Jumat, ketika masih sore hari langit sudah mendung dan penuh dengan awan, yang makin lama makin tebal. Menjelang waktu Isya terjadilah hujan lebat luar biasa.
Menjelang waktu shalat Jumat, air belum juga surut, sehingga orang harus menyingsingkan sarungnya supaya jangan basah. Orang mengambil air wudhu hanya di sekitar mesjid, karena seluruh halaman dan sekitarnya digenangi ari. Pada saat orang mengambil air wudhu itulah Datu Sanggul datang ke mesjid. Kalau orang mengambil air wudhu hanya di sekitar mesjid, tetapi ketika Datu Sanggul datang dia tidak mengambil air wudhu seperti yang dilakukan orang banyak. Dia langsung menceburkan diri ke tengah sungai, langsung tenggelam. Sangat lama tenggelamnya sehingga semua orang mencari ke hilir sungai dan sekitarnya. Hampir semua jamaah mesjid ikut mencari Datu Sanggul, ternyata tidak juga ditemukan. Semua orang berkesimpulan bahwa Datu Sanggul telah mati lemas dan telah hanyut dibawa arus yang deras. Masing-masing berkomentar, mengapa melompat ke tengah sungai, ya jelas tenggelam. Ada lagi yang berkomentar kalau tidak bisa berenang jangan mencoba-coba ke tengah sungai.
Pada saat orang rebut membicarakan kejadian yang baru terjadi, tiba-tiba Datu Sanggul muncul di atas air dan berjalan di atas dengan pakaian tidak basah. Dia berjalan seperti orang berjalan di darat saja. Semua orang heran. Mereka heran, Datu Sanggul tenggelam di dalam air tidak basah, bahkan berjalan di atas air tidak tenggelam. Pada saat orang terheran-heran itulah bilal mengumandangkan suara azannya dan orang masuk ke dalam mesjid.
Tiba-tiba badan Datu Sanggul terangkat makin lama makin tinggi dan lebih tinggi dari pada orang berdiri di atas tanah dan terus menghilang dari pandangan orang banyak yang berada di dalam mesjid itu.
Sementara orang masih dilanda keheranan, ketakjuban atas kebesaran kekuasaan Allah, Datu Sanggul secara perlahan-lahan mengulurkan kakinya dan akhirnya berada kembali dalam mesjid di tengah-tengah orang banyak. Sebelum orang bertanya kepada Datu Sanggul, Datu Sanggul memulai pembicaraannya terlebih dahulu, “Aku tadi pergi ke Mekkah dan kemudian ke Madinah, tetapi belum waktunya shalat kebetulan bertemu dengan orang berselamatan dan aku ada membawa sedikit makanannya.”.
“Nah Tuan Labai tolong bagikan makanan ini”, Datu Sanggul berkata sambil menyerahkan makanan itu untuk dibagikan kepada orang di dalam mesjid. Tuan Labai membagi-bagikan makanan itu dan ternyata semua orang yang ada dalam mesjid itu mendapat bagian, masih tersisa. Semua orang merasakan makanan oleh-oleh Datu Sanggul dari Mekkah, bahkan masing-masing merasa kekenyangan. (Gazali)
Datu Sanggul adalah salah seorang ulama sufi pada masa itu dan seorang yang khawash, selain mempunyai ilmu yang tinggi, ia juga dikenal sebagai seorang yang digjaya. Ia bernama Muhammad Abdush Shamad, pada satu riwayat ia bernama Ahmad Sirajul Huda dan konon menurut satu cerita ia berasal dari Palembang dan hidup sekitar abad 18 Masehi. Hari dan tanggal kelahiran hingga saat ini belum diketahui dengan pasti.
Berangkatlah Abdus Shamad menuju Kalinatan dengan menumpang sebuah kapal perahu layar. Diceritakan setelah keberangkatan Abdus Samad ibunya senantiasa mendoakan siang dan malam untuk keselamatan dan kesuksesan niat baik anaknya Abdus Samad. Karena pelayaran pada masa itu dilakukan dengan bantuan angin, maka setelah hampir sebulan barulah tiba di Kalimantan dengan selamat dan sehat wal-afiat. Keberkahan doa seorang ibu yang membawanya selamat hingga ke tempat tujuan.
Semua murid Datu Suban tersebut masing-masing mempunyai kesaktian dan keunggulan, seperti bertubuh besar seperti baja, tubuh dapat berupa menjadi empat bagian, kebal, dapat berlajan di atas air dan berbagai kesatian lainnya. Mereka itu adalah:
1. Datu Murkat, mempunyai andalan ilmu yaitu ahli ilmu ksantria. Sebagaimana diceritakan, apabila ada orang yang berniat jahat terhadapnya, maksud jahat orang tersebut tidak akan mengenainya, tubuhnya kebal, tidak mempan senjata yang terbuat dari besi.
2. Datu Tamingkarsa, bergelar Singa Jaya. Mempunyai andalan ilmu pangkima kelasykaran, supaya gagah perkasa di medan perang. Ia diangkat menjadi panglima dalam beberapa peperangan saat melawan penjajah Belanda.
3. Datu Niang Thalib, mempelajari ilmu Kabariyat Dunia. Ilmu ini berfungsi sebagai ilmu kedigjayaan dan keperkasaan, seperti apabila ada orang yang ingin berbuat jahat kepadanya maka hanya dengan menghentakkan kaki orang itu serta merta akan taduduk (bersimpuh, lemah tak berdaya) di hadapannya dan konon ia oleh masyarakat sekitar sampai sekarang dianggap masih hidup mendewata (menjadi makhluk gaib) yaitu sebagai penguasa alam gaib Hutan Pulau Kadap, Rantau.
4. Datu Karipis, terkenal dengan ilmu kuat, gancang (kuat dan gesit), dapat berjalan di atas permukaan air, tidak hangus dibakar dan taguh (kebal) terhadap semua jenis senjata yang terbuat dari besi.
5. Datu Ungku, mempelajari ilmu kewibawaan dan ilmu dunia. Apabila ia menepukkan kedua tangannya maka semua orang yang mendengar dan berniat jahat kepadanya akan lemah lunglai tak berdaya dan akan bersimpuh di hadapannya.
6. Datu Ganun, mempelajari ilmu kesempurnaan dan kejayaan, dapat merubah diri menjadi empat tubuh sekaligus yang rupa dan bentuknya sama dan sulit diketahui mana tubuh yang asli.
7. Datu Argih, mempelajari ilmu kesempurnaan dunia dan akhirat, bukan saja perkasa dalam bidang ilmu keduniaan namun juga alim tentang ilmu agama dan sebagai seorang yang ‘abid (ahli ibadah).
8. Datu Labai Duliman, punya kelebihan khusus di antara murid-murid lainnya di bidang ilmu Falakiyah (ilmu membaca dan menafsirkan huruf), ahli di bidang perbintangan dan pengetahui isi alam. Konon, ia dapat mengetahui kapan turunnya hujan, kapan jatuhnya dedaunan dari dahannya dan sebagainya.
9. Datu Harun, lebih cenderung mengambil ilmu dunia, seperti ilmu kebal, kuat perkasa dan badannya keras bagai besi.
10. Datu Arsanaya. Sebelum menjadi murid Datu Suban, ia adalah orang yang sangat sakti mandraguna, tetapi ia terkenal sangat zalim dan kejam. Apapun yang ia inginkan akan dilaksanakannya walau itu bertentangan dengan syariat Islam, namun akhirnya mendapat hidayah dari Allah Ta’ala dengan menjadi salah seorang murid Datu Suban. Dengan kebijakan dan ketelatenan dalam berdakwah dan membimbing masyarakat terutama terhadap murid-muridnya, akhirnya Datu Arsanaya dapat bertobat dan mendapat ilmu yang bermanfaat dari Allah melalui Datu Suban dan akhirnya ia menjadi alim dan ahli ibadah.
11. Datu Rangga, mempelajari ilmu kewibawaan dan ilmu dunia, seperti kepanglimaan, kekebalan dan lainnya.
12. Datu Galung Diang Bulan, khusus mempelajari ilmu yang berkenaan dengan perempuan, seperti bamandi-mandi (memandikan perempuan) agar kelihatan selalu cantik, cepat mendapat jodoh, awet muda, dan agar selalu disayang suami dan lain-lain. Datu Galuh Diang Bulan ini akhirnya terkenal bukan saja di daerahnya tetapi juga terkenal di daerah lainnya, bahkan sampai ke daerah luar Kalimantan.
13. Datu Sanggul. Ia ini merupakan murid yang terakhir Datu Suban. Walaupun murid yang terakhir Datu Suban, Datu Sanggullah yang dapat menerima dengan sempurna semua ilmu yang diajarkan oleh sang guru Datu Suban, dan kepada Datu Sanggul pulalah Kitab Barencong diserahkan.
Sebagai seorang guru yang sangat alim dan mumpuni Datu Suban banyak mempunyai kelebihan, salah satunya Datu Suban adalah bahwa ia sudah mengetahui akan kedatangan Abdus Samad. Di hari itu Datu Suban mengundang semua muridnya untuk berkumpul di rumahnya dengan mengatakan bahwa mereka akan kedatangan seorang tamu bernama Abdus Samad.
Diposkan oleh Sahriansyah di 22.10.08
0 komentar:

Poskan Komentar
Posting Lama Halaman Muka
Langgan: Poskan Komentar (Atom)
Arsip Blog

* ▼ 2008 (5)
o ▼ Oktober (4)
+ RIWAYAT HIDUP DATU SANGGUL
+ RISALAH TASAWUF SYEKH ABDUL HAMID ABULUNG Oleh : S…
+ AJARAN TASAWUF SYEKH ABDURRAHMAN SHIDDIQ AL-BANJAR…
+ SEJARAH MUHAMMADIYAH PCM DAHA SELATAN KAB. HSS KAL…
o ► September (1)
+ Etnis Banjar

Mengenai Saya

Sahriansyah

Lihat profil lengkapku
Benarkah etnis banjar religius ?

Tinggalkan sebuah Komentar

Abdurrahman Shiddiq

skip to main | skip to sidebar
ISLAM BANJAR

Rabu, 2008 Oktober 22
AJARAN TASAWUF SYEKH ABDURRAHMAN SHIDDIQ AL-BANJARI
Bahran Noor Haira 

Abstract

The concept of Abdurrahman Shiddiq’s sufistic on Taubat, zuhud, tawakkal, shabar, ridha, shiddiq, mahabbah, zikr al-maut covers sufistic teaching with moral sufistic style (tasawuf akhlaqi) that he named as the way of worship (Tarikat). Otherside, it is also found the concept of ma’rifah, that is, a teaching that has tauhid concept by dzauqi. He underlines that the truth is not matter of belief as believed publicly, or mutakallimin,s intelllectual conclusion, but it is exatly fact that gained by insight and heart experience. Heart experience gained by wahdaniyat Allah (tauhid af’al, asma, sifat dan zat). From this maqam, someone find maqamfana and move to maqam baqa. On this maqam, someone will look at various thing, it will be easy to understand that everything is the mercy of God. This sense, according to Abdurrahman Siddiq, that someone has reached maqam ma’rifah. The writer concludes that Abdurrahman Shiddiq’s teaching is categorized wahdat al-syuhud sufistic, because of his thought to God is connection between Creator and Creation, not emanation. And the utility with God, only offer a perception theory.

Keywords: wahdaniyat Allah, ma’rifah, wahdat al-syuhud

PENDAHULUAN

Martin Van Bruinessen mengatakan; bahwa tasawuf dan berbagai terekat telah memainkan peran penting dalam islamisasi di Indonesia. Menurut dia; sejak abad XI M. berlangsungnya islamisasi di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) berbarengan masa merebaknya tasawuf abad pertengahan, dan pertumbuhan tarekat-tarekat . Peranan tasawuf sangat besar sekali dalam penyebaran Islam di Indonesia. Bahkan, setidak-tidaknya hingga akhir abad ke- 17 M., Islam tasawuf bila dibandingkan Islam fikih, Islam bercorak tasawuf masih tetap unggul .
Pada abad XVII M. menurut Taufik Abdullah, umumnya naskah keagamaan, baik yang berbahasa Arab atau terjemahan dari bahasa Arab, maupun aslinya dalam bahasa Arab melayu, adalah pembahasan mengenai tasawuf yang ditulis oleh berbagai penulis dalam berbagai macam tarekat Islam, yang sebagian oleh penulis-penulis pribumi, dan sebagian lainnya oleh penulis asing Di antara penulis-penulis pribumi tercatat nama Abdussamad al-Palimbani dengan karyanya “Hidayat as-Salikin” dan “Siyar as-salikin,” Muhammad Nafis bin Ideris al-Banjari dengan karyanya “Al-Durr al-Nafis”, H.Abdurrahman Siddiq dengan karyanya “Risalah ‘Amal Ma’rifah”. Nama sufi yang terakhir (Abdurrahman Shiddiq) ini tidak kalah populernya di Nusantara, khususnya di propensi Kalimantan Selatan dan propensi Pekanbaru. Dia seorang ulama, pendidik, dan penulis yang banyak menulis kitab keagamaan, baik dalam bidang tauhid, fikih, maupun di bidang tasawuf. Berdasarkan hasil penelitian Muhammad Nazir, jumlah karya tulisnya tidak kurang dari duapuluh buah. Dari duapuluh karya tulisnya itu, baru empatbelas buah judul yang dapat diinventarisasi, selebihnya masih dicari keberadaannya Di bidang tasawuf, karyanya yang bernama “Risalah ‘Amal Ma’rifah”, tidak pernah luput dalam perbincangan pada forum-forum seminar tingkat regional yang dilaksanakan beberapa kali oleh Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari Banjarmasin. Dalam seminar-seminar itu terdapat dua pendapat dan penilaian terhadap kandungan kitabnya itu. Ada yang berpendapat, bahwa kitab Risalah ‘Amal Ma’rifah itu bercorak wahdat al-wujud, dan sebagian berpendapat bercorak wahdat al-syuhud. Demikian pula dari beberapa penelitian, diantaranya penelitian terhadap karyanya yang berjudul Syair Ibarat dan Khabar Kiamat berkesimpulan bahwa dalam syair-syair Abdurrahman Siddiq mengandung unsur wahdat al-wujud, kendatipun tidak sekental ajaran Ibnu Arabi atau Hamzah Fansuri. Menurut penulis kesimpulan tersebut menunjukkan adanya indikasi kelemahan dalam analisa yang tidak menggunakan kematangan konsep wahdat al-wujud dan konsep wahdat al-syuhud. Berangkat dari ketidakpastian corak tasawuf Abdurrahman Shiddiq ini, maka diperlukan penelitian secara holistik terhadap ajaran tasawufnya, baik yang terkandung dalam kitabnya Risalah ‘Amal Ma’rifah maupun karya tulisnya yang lain seperti “Syair Ibarat dan Khabar Kiamat”, maupun karya-karya lainnya yang ada hubungannya dengan ajaran tasawuf, terutama yang berkaitan dengan masalah akidah. Masalah pokok dalam penelitian ini mempersoalkan corak tasawuf Abdurrahman Shiddiq. Masalah ini dirumuskan dalam tiga rumusan (i) Bagaimana ungkapan, gagasan dan uraian ajaran tasawuf yang terkandung dalam beberapa karyanya itu. (ii) Apakah pandangannya terhadap Tuhan dan dunia merupakan hubungan sebab akibat (Khaliq dan Makhluq), atau merupakan hubungan Yang Tunggal dengan emanasi. (iii) Apakah dalam kebersatuan dia menawarkan kerangka keyakinan, ataukah menawarkan kerangka persepsi. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban masalah pokok, yaitu untuk mengetahui corak tasawuf Abdurrahman Shiddiq, apakah bercorak tasawuf wujudi ataukah bercorak tasawuf syuhudi. Hasil penelitian ini akan memberikan manfaat pada dua aspek: (i) Aspek keilmuan; hasil penelitian ini diharapkan dapat dipertanggung jawabkan secara akademis, dan menjadi sumbangan dalam pengembangan ilmu keislaman, khususnya dalam kajian ilmu tasawuf, (ii)Bidang sosial, dengan diketahuinya kejelasan corak ajaran tasawufnya, akan membantu masyarakat dalam memahami dan menangkap maksud ungkapan-ungkapan (ta’birat shufiyah) serta ajaran/pikiran yang dimaksudkan oleh sang sufi (Abdurrahman Shiddiq).
Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, dan yang menjadi subyeknya adalah karya-karya tulisnya. Karya-karya tulis yang dimaksud adalah Risalah ‘Amal Ma’rifah”, “Syair Ibarat dan Khabar Kiamat”, “Tadzkirah li Nafsi wa li Amtsa li min al-Ikhwan”, Asrar al-Shalat min ‘Iddat Kutub al-Mu’tamadah, yang ada keterkaiannya langsung dengan obyek penelitian, yaitu tentang pikiran dan ajaran tasawuf Abdurrahman Shiddiq. Di samping karya tulisnya yang berhubungan dengan tasawuf, juga karya tulisnya yang berhubungan dengan masalah ketuhanan (akidah), seperti ‘Aqaid al-Iman dan Pelajaran Kanak-Kanak pada Agama Islam. Kedua karya tulisnya yang terakhir ini, fokus obyek penilitian hanya pada masalah hubungan antara Pencipta dan ciptaan.
Langkah pertama, melakukan pengkajian terhadap karya tulisnya yang memuat ajaran tasawuf. Selanjutnya memaparkan dan menggambarkan secara lengkap dan utuh tentang ajaran tasawufnya. Langkah kedua, memahami hubungan antara Khalik dan makhluk. Apakah merupakan hubungan antara Pencipta dan ciptaan sebagaimana yang diyakini para teolog, atau hubungan antara Yang Tunggal dengan emanasi (pancaran-Nya) seperti diyakini sufi wujudi. Langkah ini untuk memahami pemikiran Abdurrahman Shiddiq, apakah dia mengatakan bahwa “tiada Tuhan selain Allah” atau “tiada sesuatu selain Allah”. Dalam masalah ini karya tulisnya yang berhubungan dengan ketuhanan sangat membantu untuk memahami corak pemikiran tasawufnya. Langkah ketiga, akan lebih fokus menyoroti pengalaman kebersatuan. Dalam koteks ini dipersoalkan, apakah pengalaman kebersatuannya hanya merupakan masalah penglihatan (syuhudi-persepsi). Dalam istilah lain, apakah dia hanya menawarkan kerangka persepsi (‘ain al-yaqin). Sebaliknya, apakah pengalaman kebersatuannya merupakan kenyataan. Maksudnya apakah dia menawarkan suatu kerangka keyakinan

RIWAYAT HIDUP SYEKH ABDURRAHMAN SHIDDIQ AL-BANJARI
Abdurrahman Shiddiq Al-Banjari adalah seorang ulama, juru dakwah, pendidik, petani, Mufti Kerajaan Indragiri, penulis dan guru di Mesjidil Haram (Mekkah) . Nama lengkapnya Syekh Abdurrahman Shiddiq bin Haji Muhammad Afif bin Haji Anang Mahmud bin Haji Jamaluddin bin Kyai Dipa Sinta Ahmad bin Fardi bin Jamaluddin bin Ahmad al-Banjari . Dia dilahirkan pada tahun 1284 H/1857 M., di Kampung Dalam Pagar Martapura, Kabupaten Banjar, Propensi Kalimantan Selatan. Ibunya bernama Safura binti Syekh Mufti Haji Muhammad Arsyad bin Syekh Mufti Haji Muhammad As’ad .
Abdurrahman Shiddiq keturunan kaum bangsawan, karena ayahnya keturunan sultan-sultan dari Kerajaan Banjar, yaitu seorang menteri pada zaman Sultan Banjar. Dia juga tergolong keturunan ulama terkenal, baik dari pihak ayahnya maupun dari pihak ibunya, ia adalah keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, seorang ulama yang dimiliki Nusantara pada abad ke 18 .
Abdurrahman Shiddiq menuntut ilmu ke Mekkah pada tahun 1889 M., dari hasil penelitian lain ada kemungkinan ia pergi ke Mekkah pada tahun 1882/1883 M . Di Mekkah Abdurrahman Shiddiq mempelajari ilmu-ilmu agama Islam dengan ulama-ulama terkemuka, baik di Mesjidil Haram maupun di luar mesjid. Di antara gurunya yang banyak memberikan motivasi dan bimbingan adalah Syekh Sayid Bakri al-Shata’, Syekh Sayid Bahasyil dan Syekh Nawawi Banten .
Setelah belajar di Mekkah selama kurang lebih 5 tahun ia dianugerahi oleh gurunya (Syekh Sayid Bakri al-Shata) gelar ash-Shiddiq, dan diminta agar disebutkan di akhir namanya . Dapat diduga pemberian gelar ini berhubungan dengan penguasaan Abdurrahman Shiddiq dalam ilmu-ilmu Islam yang ditekuninya serta akhlaknya yang terpuji. Kendatipun ia mendapat pengakuan dari gurunya di Mekkah, ia tetap melanjutkan pelajarannya ke Madinah.
Dia kembali ketanah air pada tahun 1890/1891, dan ada yang berpendapat pada tahun 1897. Selama berada di Martapura, kehadirannya sudah diperhitungkan sebagai ulama dan pendapat-pendapatnya dipertimbangkan oleh para ulama, khususnya ulama-ulama Kalimantan Selatan. Setelah delapan bulan bermukim di daerah asalnya (Martapura) dia pergi ke Bangka (Sumatera) menyusul ayahnya dan sanak keluarganya yang hijrah dari Martapura pada awal paruh kedua abad ke 19 M. Selama15 tahun tinggal di Bangka dia pindah ke Indragiri pada tahun 1909 M, dari sumber lain menyebutkan tahun 1912 M. Di Indragiri dia dipercayakan menjabat jabatan Mufti selama 27 tahun .
Kehadiran Abdurrahman Shiddiq di Sapat (Indragiri) telah membawa perubahan besar dalam berbagai hal. Orang-orang Banjar yang berasal dari Kalimantan Selatan berdatangan ke daerah Indragiri Hilir. Mereka membuka hutan untuk perkebunan kelapa, sehingga daerah tersebut merupakan penghasil kopra nomor dua di Indonesia sesudah Sulawesi Utara. Abdurrahman Shiddiq sendiri memiliki 120 baris atau 4800 batang kelapa. Sebanyak 70 baris atau 2800 batang dia wakafkan untuk kepentingan umat dan khususnya buat pendidikan. Pertama kali dibinanya dari hasil kebun itu adalah mesjid di sebelah rumah tempat tinggalnya, kemudian membangun maderasah serta tidak kurang seratus pondok di sekitar madersah dan mesjid untuk para santeri tanpa dipungut bayaran, bahkan ia membantu keperluan hidup bagi santeri yang tidak mampu
Abdurrahman Shiddiq wafat pada tanggal 4 sya’ban 1358 H. bertepatan dengan 10 Maret 1939 M dalam usia 82 tahun. Dia dimakamkan tidak jauh dari mesjid yang dibinanya di Kampung Hidayat, Sapat Indragiri, Propensi Pekanbaru . Dia meninggalkan beberapa karya tulisnya, yaitu; ‘Aqa’id al-iman, Pelajaran Kanak-kanak pada Agama Islam, Jadwal Sifat Dua Puluh, Menerjemahkan Sitti n Mas’alah dan Juru mi yah, Fath al-‘alim fi Tartib al-Ta’lim, Risalah Takmilat Qawl al-Mukhtashar, Kitab al-Fara’id, Bay’ al-Haywa Lil-Kafirin, Maw’izah Li Nafsi wa Li Amtsa li min al-Ikhwan, Majmu’ al-ayat wa al-ahadits fi fadha’il al-‘ilm wa al-‘ulama wa al-muta’alllimin wa al-mustamin, Risalah al-Arsyadiyah wa ma ‘Ulhiqa biha, Sejarah Perkembangan Islam di Kerajaan Banjar, Dam Ma’a Madkhal fi “ilm al-Sharf, Beberapa Khutbah Mutlaqiah.

AJARAN TASAWUF ABDURRAHMAN SHIDDIQ AL-BANJARI
Ajaran tasawuf yang dibangunnya pada dasarnya ada yang bercorak akhlaki dan yang bercorak falsafi, dan masing-masing corak ditujukan kepada tingkat keperluan dan disesuaikan dengan kemampuan para penerimanya. Tasawuf Akhlaki
Ajaran tasawuf akhlak yang dimaksud dalam deskripsi ini, adalah konsep ajaran dan pembahasannya tentang hubungan antara syariat dengan akhlak. Dalam kitab Risalah Amal Ma’rifah, Abdurrahman Shiddiq menyebutkan bahwa akhlak seperti taubat, zuhud tawakal, shabar, ridha, shidiq , mahabbah, dan zikr al-maut, merupakan jalan yang menyempurnakan syariat.
Akhlak menurut pandangan Abdurrahman Shiddiq merupakan implementasi dari keadaan jiwa. Untuk meraih akhlak yang baik itu, diperlukan sikap mental seperti taubat, zuhud, tawakal, shabar, ridha, shidiq, mahabbah, zikr al-maut, dan lain sejenisnya. Sebab jaran-ajaran itu, yang ia sebut tarekat (jalan) berfungsi menyempurnakan syariat. Dan ajaran itu berkaitan dengan hati, serta akan nampak pada tingkah laku. Dari ajaran itu akan melahirkan jiwa yang bebas dari pengaruh hawa nafsu, dan akan melahirkan akhlak terpuji. Sebaliknya, jiwa yang dipengaruhi oleh hawa nafsu akan melahirkan akhlak tercela
Menurutnya akhlak erat hubungannya dengan seluruh ajaran agama Islam, baik dalam bidang akidah maupun dalam bidang syariah. Akhlak dapat mempengaruhi kondisi keimanan seseorang. Akhlak mulia akan meningkatkan keimanan, sedangkan akhlak yang tercela akan merusak keimanan seseorang
Dalam kitabnya “Risalah Amal Ma’rifah” menjelaskan, bahwa akhlak terpuji seperti taubah, tawakal, shabar, ridha, shidiq, mahabbah, dan zikr al-maut adalah merupakan jalan yang menyempurnakan syariat. Demikian pula dalam kitabnya “Pelajaran Kanak-Kanak pada Agama Islam” dijelaskan, bahwa ada empat perkara yang menjadi syarat sahnya Islam seseorang, yaitu shabar melaksanakan hukum Allah, ridha akan qadha Allah, yakin dan ikhlas, dan patuh dengan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian, bahwa kesempurnaan Islam seseorang menurut dia adalah sangat ditentukan oleh akhlaknya.
Selanjutnya dia mempertegas adanya hubungan yang erat antara akhlak dengan amal ibadat. Dijelaskannya, bahwa ibadat yang disyariatkan pada dasarnya bertujuan membina akhlak yang mulia. Abdurrahman Shiddiq mencontohkan, bahwa salat dapat menerangkan hati dan mencegah diri dari perbuatan keji dan munkar. Sedangkan perbuatan-perbuatan keji dan munkar, seperti dengki, khianat, aniaya, dan lain sejenisnya itu akan merusak ibadat salat dan ibadat-ibadat lainnya.
Dalam lirik-lirik syairnya menjelaskan, bahwa semua macam perbuatan tercela akan merusak amal ibadah seseorang . Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa masalah akhlak dalam pandangannya, adalah masalah yang fundamental dalam Islam
Menurut Abdurrahman Shiddiq, untuk menjaga kesucian jiwa diperlukan mujahadah, riyadhah, dan muraqabah. Mujahadah adalah memerangi hawa nafsu dengan menentang apa-apa yang dikehendakinya. Riyadhah adalah mengerjakan amal ibadah, seperti melakukan khalwat , puasa dan amal ibadah lainnya. Muraqabah adalah selalu merasa diawasi oleh Allah , dan untuk itu harus melazimkan zikir. Zikir menurut Abdurrahman Shiddiq terbagi kepada empat macam: zikir jahar (terang), zikir sirr (perlahan), zikir nafsi (dalam hati), dan zikir dalam segala keadaan (berdiri, duduk, dan berbaring).
Sebagaimana ulama tasawuf pada umumnya, Abdurrahman Shiddiq juga membicarakan sifat-sifat terpuji (keutamaan) dalam beberapa karya tulisnya. Sifat-sifat terpuji atau yang ia bicarakan adalah seperti paparan berikut ini.
1. Tafakkur dan Taubah
Tafakkur yang dimaksudkan Abdurrahman Shiddiq adalah berpikir yang mengandung pengakuan dan penyesalan terhadap kesalahan-kesalahan serta bertaubat dari segala dosa. Cara bertafakur menurut dia, adalah dengan membaca Dua Kalimah Syahadah secara perlahan-lahan dan menghayati maknanya. Selanjutnya melakukan tiga perkara dalam tafakkur yaitu:
1.1. ‘Ibrah, yaitu mencari-cari kesalahan diri sendiri, menyesalinya, dan berjanji tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan itu lagi.
1.2. Khawf, yaitu takut akan murka Allah dan siksa-Nya serta takut tidak diterima amalnya.
1.3. Raja’, yaitu berharap akan rahmat dan ampunan Allah serta berharap akan diterima segala amalannya.
2. Al-Zuhd
Menurut Abdurrahman Shiddiq, bahwa kehidupan yang kekal adalah kehidupan di akhirat, sedangkan kehidupan di dunia harus dijadikan bekal ke akhirat. Selanjutnya dia peringatkan agar hidup jangan tertipu dan terpedaya dengan dunia, peringatannya itu tertuang dalam bait syairnya pada halaman 3 dan 9 dalam kitabnya Syair Ibarat dan Khabar Kiamat.
3. Tawakkal
Tawakal menurut Abdurrahman Shiddik adalah menyerahkan diri. Dalam lirik syairnya “menyerahkan diri jangan menyesal” dapat diartikan rela terhadap apa yang dikehendaki Allah SWT. Penjelasannya ini sejalan dengan pendapat Bisyr Al-Hafi yang dikutip Al-Qusyairi mengatakan “Saya bertawakal kepada Allah SWT., sedang orang lain berbohong kepada-Nya. Seandainya dia bertawakal kepada Allah SWT., maka pasti dia rela terhadap apa yang dikerjakan (dikehendaki) oleh Allah SWT”.
4. Shabar
Manusia perlu senantiasa bersabar, baik bersabar dalam menggunakan nikmat, bersabar melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan, maupun bersabar dalam menerima cobaan atau hal-hal yang tidak diingini. Abdurrahman Shiddiq menganjurkan agar senantiasa dapat bersabar dan menahan marah, sebab sifat sabar mendatangkan banyak mamfaat. Anjurannya untuk senantiasa bersabar itu terdapat dalam sya’irnya pada halaman 16 di kitab Syair Ibarat.
Selanjutnya dijelaskannya, bahwa orang yang tidak mempunyai sifat sabar akan mudah dihinggapi sifat marah. Menurut dia, ada beberapa kerugian sebagai akibat dari sifat marah. Pertama, hilang akal dan keseimbangan jiwa, sehingga akan salah dalam mengambil sikap dan tindakan. Kedua, hilangnya atau berkurangnya iman seseorang. Ketiga, kehilangan sahabat .
5. Ikhlash dan menjauhi riya
Menurut Abdurrahman Shiddiq, ikhlash adalah bersih amal kepada Allah, dan sifat ini merupakan syarat untuk mendapatkan pahala amal ibadah. Dia membagi ikhlash dalam dua macam, yaitu ikhlash al-abrar dan ikhlash al-muqarrabin. Ikhlash al-abrar adalah seseorang beramal karena semata-mata menjunjung perintah Allah SWT. tanpa mengharapkan apapun selain daripada Allah, termasuk tidak mengharapkan surga dan juga tidak memohon dijauhkan dari api neraka. Sedangkan ikhlash al-muqarrabin adalah seseorang beramal, tetapi tidak mengakui dan tidak merasa bahwa amalan-amalan itu sebagai usaha ikhtiarnya, bahkan dalam ma’rifatnya semuanya itu adalah semata-mata amalan Allah dan atas taufik-Nya. Ikhlash al-abrar disebut ikhlash li Allah (ikhlas karena Allah), sedangkan ikhlash al-muqarrabin disebut ikhlash bi Allah (ikhlas dengan pertolongan Allah). Ikhlash al-muqarrabin merupakan pengertian ikhlash menurut pandangan ulama tasawuf, di mana para sufi menyebutkan bahwa ikhlash adalah melepaskan diri dari pada daya dan upaya. Apabila keikhlasan seseorang bisa sampai pada peringkat kedua ini, maka ia akan terhindar dari pada sifat riya, ‘ujub, dan sum’ah
Dalam kitabnya Risalah fi Aqaid al-Iman Abdurrahman Shiddiq membagi riya dalam dua macam, yaitu riya jali (yang nyata) dan riya khafi (yang tersembunyi). Riya jali adalah seseorang beramal di hadapan orang lain, tetapi apabila ia sendirian amalan itu tidak dikerjakannya. Sedangkan riya khafi ialah seseorang beramal baik di hadapan orang lain ataupun tidak, tetapi dia suka kalau mereka berada di hadapannya.
Sum’ah, ialah seseorang beramal sendirian kemudian dia menghabarkannya kepada orang lain, supaya mereka membesarkannya atau supaya dia mendapat kebajikan dari mereka. Adapun ‘ujub adalah seseorang merasa heran atas kepandaian dan kehebatannya. Misalnya, seorang ‘abid merasa kagum dengan ibadahnya, atau seorang alim merasa kagum dengan ilmunya.
6. Tawadhu’dan menjauhi takabbur.
Menurut Abdurrahman Shiddiq, sifat tawadhu menunjukkan adanya keluasan akal dan pandangan, dan sebaliknya sifat takabbur menunjukkan kepicikan akal pikiran. Pendapat ini dia ungkapkan dalam bait-bait syair pada halaman 9. Dia menegaskan, bahwa sifat takabur sangat dilarang oleh Allah SWT.. Orang takabur dikatakannya sebagai seorang yang celaka, oleh karenanya akan dimasukkan ke dalam api neraka.
7. Syukur dan Ridha
Abdurrahman Shiddiq menganjurkan hamba Allah agar selalu ridha terhadap qadha Allah, dan selalu bersyukur atas nikmat-Nya dan bersabar atas cobaan-Nya. Syukur ialah menggunakan nikmat yang diperoleh pada jalan yang diridai Allah SWT . Manusia harus mensyukuri pemberian Allah, ridha terhadap ketentuan-Nya, serta bersabar menanggung cobaan, untuk itu seseorang harus husn al-zhan kepada Allah. Selanjutnya ia membagi husn al-zhan kepada empat bagian. Pertama, seseorang berprasangka bahwa Allah mengasihinya. Kedua, berprasangka bahwa Allah mengetahui akan segala kesalahannya. Ketiga, berprasangka bahwa Allah mengampuni segala dosanya. Dan keempat, berprasangka bahwa segala yang tersebut itu mudah bagi Allah SWT.
8. Shiddiq
Abdurrahman Shiddiq menekankan pentingnya shiddiq (benar) dalam berperilaku sehari-hari, anjuran ini dituangkannya dalam syairnya pada halaman 17,18 dan 20. Lirik-lirik dalam syairnya itu mengajarkan agar manusia selalu benar dalam segala ucapan dan perbuatan.
8. Mahabbah
Dalam kitabnya Asrar al-Shalat min ‘Iddat Kutub al-Mu’tamadah menyebutkan; “Adapun syarat-syarat sah iman itu, di antaranya mencintai akan Allah SWT. dan mencintai Nabi.” Mahabbah kepada Allah adalah orang yang senantiasa melakukan tafakkur dan zikrullah.
9. Zikr al-Maut
Dalam kitabnya Syair Ibarat dan Khabar Kiamat pada halaman 4, 17, 29 dan 30 ia mengingatkan bahwa setiap orang perlu menyadari dan menginsyapi akan adanya kematian. Kesadaran akan datangnya maut, merupakan pendorong bagi seseorang untuk bekerja keras untuk melakukan hal-hal yang menguntungkan dan menghindari yang merugikannya di alam akhirat.
Dalam ajarannya tentang taubah, zuhud, tawakal, shabar, ridha, shidiq, mahabbah, zikr al-maut, dan sifat-sifat terpuji lainnya, bukan merupakan maqam sebagaimana sufi-sufi lainnya. Ajaran taubah dan lain-lainnya itu disebutnya sebagai tarekat (jalan) yang menyempurnakan syariat dan ta’alluq (bergantung) pada hati serta diimplikasikan dalam perilaku . Dengan demikian, menurut Abdurrahman Siddiq; ajaran taubah, zuhud, tawakal, shabar, ridha, shidiq, mahabbah, zikr al-maut dan sifat-sifat terpuji lainnya merupakan nilai etika atau akhlak yang akan diperjuangkan dan diwujudkan oleh seorang hamba dalam merambah kesempurnaan spritual dalam praktik ibadah.
Konsep Ma’rifah (Mengenal Allah)
Sesuai dengan nama kitab “Risalah Amal Ma’rifah”. Kitab ini sepenuhnya berbicara yang mengacu kepada ma’rifah. Ma’rifah yang dimaksud Abdurrahman Shiddiq adalah pengenalan yang sempurna kepada Allah Ta’ala melalui hati. Ada tiga bahasan pokok dalam konsep ma’rifahnya Abdurrahman Shiddiq: yaitu, Wahdaniyat Allah, Maqamat, dan Maqam Wilayah.
1. Mengesakan Allah (Wahdaniyat Allah)
a. Esa pada Perbuatan (af’al)-Nya
Abdurrahman Shiddiq menjelaskan semua perbuatan dan apapun yang terjadi di alam ini baik atau buruk, taat atau maksiat harus dipandang dengan matahati dan mata kepala dengan i’tikad bahwa semua itu semata-mata hanya perbuatan Allah. Perbuatan-perbuatan itu bisa berupa; (1). Mubasyarah, ialah perbuatan yang dilakukan dengan usaha dan ikhtiar, seperti gerak tangan orang yang menulis. (2) Tawallud, ialah suatu perbuatan yang jadi sebagai akibat dari perbuatan mubasyarah, yaitu seperti terjadinya huruf yang tertulis oleh pena dari orang yang menulis dan menggerakan pena itu.
Dengan cara melakukan musyahadah terhadap hal-hal yang tersebut di atas sampai ke tingkat haq al-yaqin, bahwa hanya Allah lah yang mempunyai perbuatan, barulah orang itu mencapai ma’rifah wahdah al-af’al dan pada saat itulah orang baru mampu memfanakan sekalian af’al makhluk kepada af’al Allah. Dengan cara demikian, seseorang baru bisa terbebas dari syirik khafi, ujub, riya, sum’ah dan segala macam sifat tercela lainnya. Katanya : inilah musyahadah yang benar dan sejalan dengan jiwa Alquran dan Hadis serta ijima’ ulama.
Gagasan inilah yang dimaksud seseorang sampai ke tingkat haq al-yaqin, yaitu hanya Allah semata yang menciptakan perbuatan, dan inilah yang dimaksud sampai ke ma’rifah wahdat al-af’al yang disebut seseorang mampu memfanakan sekalian af’al. Dan ini merupakan tahap dalam suluk Abdurrahman Shiddi, dan gagasan ini hanya merujuk pada perasaan (hal) dan penglihatan (syuhud).
b. Esa pada Asma-Nya
Yang dimaksud tauhid al-asma adalah memandang dengan matahati dan b dengan keyakinan yang kuat, bahwa hanya Allah yang wahdaniyat pada asma (esa pada nama). Dan tidak ada di alam ini yang mempunyai nama, nama-nama selain Allah hanyalah mazhhar dari asma Allah.
Dasar dan argumentasi yang diajukan Abdurrahman Shiddiq dalam gagasannya ini adalah, bahwa setiap nama pasti membutuhkan wujud dari yang memberi nama, sedangkan yang memberi nama itu adalah Allah. Allah adalah zat yang wujud secara hakiki. Segala yang ada selain-Nya adalah majaz, waham dan khayal dinisbahkan kepada wujud Allah. Dengan demikian, semua namapun kembali kepada-Nya. Dalam melaksanakan gagasan tauhid al- asma ini diarahkannya melalui dua jalur yang satu sama lain saling berkaitan. Pertama, dengan cara ”syuhud al-katsrah fi al-wahdah”, maksudnya memandang yang banyak (segala macam nama yang ada di alam) ini, sesungguhnya berasal dari yang satu, yaitu Allah. Kedua, dengan cara “syuhud al-wahdah fi al-katsrah”, maksudnya memandang yang satu pada yang banyak, artinya dari yang satu juga (Allah) terbit segala nama dalam alam ini.
Gagasan Abdurrahman Shiddiq dalam mengesakan nama (wahdat al-asma) dengan statemen “tidak ada di alam ini yang mempunyai nama (seperti yang pemurah, yang kaya, yang mematikan dan sebagainya), maksudnya adalah, yang mempunyai nama hanya Allah, dan apapun namanya harus kembali kepada-Nya. Renungan ini merupakan konsep atau gagasan tauhid syuhudi, yaitu melihat “Zat Tunggal”; dalam pandangannya tidak ada sesuatu kecuali “Zat Tunggal”. Dalam gagasan itu dapat dipahami dan diyakini, bahwa yang ada hanya “Zat Tunggal”, sedangkan yang lainnya dianggap tidak ada. Di sini tidak terkesan yang lain (alam) dianggap sebagai perwujudan dan penampakkan dari “Zat Tunggal”. Secara tegas ia menjelaskan; orang arif adalah orang yang mengenal Allah Ta’ala dan mengenal hamba, dan dapat membedakan antara Khalik dan makhluk. .
c. Esa pada Sifat-Nya
Menurut Abdurrahman Shiddiq, cara mengesakan Allah Ta’ala pada sifat yaitu, engkau pandang dengan matahatimu dan matakepala dengan i’tikad yang putus (kokoh) bahwa Allah Ta’ala Esa (wahdaniyat) pada segala sifat. Artinya hanya Allah bersifat qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’, Bashar, Kalam dsb., tidak ada yang lain bersifat dengan sifat-sifat tersebut, pada hakikatnya hanyalah Allah belaka. Apabila sifat-sifat Allah tersebut dikonfrontir dengan sifat-sifat yang ada pada makhluk, maka sifat makhluk itu majazi, bukan pada hakikatnya.
Maksud dengan majazi terhadap sifat-sifat yang ada pada makhluk itu adalah, semua sifat-sifat makhluk itu merupakan mazhar belaka dari sifat Allah. Apabila memandang cara demikian, akan sampai seseorang ke derajat Haq al-Yaqin, hanya Allah saja yang mempunyai sifat, maka fana’-lah sifat makhluk di dalam sifat Allah. Dengan demikian tak ada yang kuasa melainkan dengan Qudrat Allah, tidak ada yang berkehendak melainkan dengan Iradat Allah, demikian itulah terhadap sifat-sifat Allah yang lainnya. Dan inilah ma’rifah yang sesuai dengan Alquran dan hadis serta ijma’ ulama.
Gagasan Abdurrahman Shiddiq dalam tauhid al-şhifat ini mengandung pengertian, bahwa sifat-sifat manusia tidak dapat diperbandingkan dengan sifat-sifat Tuhan, karena sifat Tuhan benar-benar nyata, sedangkan sifat manusia bersifat maya (khayali) dan tidal nyata (waham). Gagasan ini tidak mengandung pengertian, bahwa ada satu kontinuitas substansi antara Tuhan dengan alam semesta, atau suatu pandangan panteisme atau monisme. Akan tetapi suatu pengertian dan pemahaman yang menegaskan, bahwa tidak boleh ada sesuatu pasangan tingkat realitas yang saling bebas satu dengan yang lain. Gagasan ini tidak mengacu ke suatu paham mistik yang memandang Tuhan sebagai realitas absolut dan tidak berhingga (Mystcem of Infinity) atau disebut Union Mistik; yaitu suatu aliran mistik yang memandang manusia bersumber dari Tuhan dan dapat mencapai kesatuan kembali kepada-Nya. Akan tetapi, gagasan ini mengacu pada pemahaman aspek personal bagi manusia dan Tuhan. Pemahamannya masih mempertahankan konsep yang esensi antara kedudukan manusia dengan Tuhan. Keyakinan seperti itu tergambar dalam paparannya, bahwa ada perbedaan antara Khalik dengan makhluk , dan dia menegaskan bahwa manusia itu kedudukannya sebagai khalifah fi al-ardhi.
d. Esa pada Żat-Nya
Mengesakan Allah pada zat adalah dengan cara memandang dengan matahati dan matakepala dengan pandangan yang putus (mantap) bahwa tidak ada yang maujud di dalam alam ini hanya Allah semata. Dengan demikian fana-lah zat kita dan semua makhluk di bawah zat Allah Ta’ala, sebab hanya wujud Allah semata, dan wujud yang lain (makhluk) selain Allah itu hanya khayal. Maksudnya alam (makhluk) ini menduduki posisi ma’dum pada tempat maujud, alam ini bukan wujud (realitas) yang hakiki, bukan wujud yang sebenarnya.
Kesimpulan Abdurrahman Shiddiq; bahwa segala sesuatu yang ada apabila disandarkan kepada wujud Allah yang hakiki itu, maka yang ada (makhluk) itu adalah khayal, waham, dan majaz. Kesimpulan ini ditarik dari alur pikir Abdurrahman Shiddiq, bahwa (i) alam ini sebelum dan sesudahnya tidak ada, (ii) alam ini bukan wujud dengan sendirinya, dia wujud dengan wujud Allah, (iii) alam ini fana’ sebab alam ini mazhar dari wujud Allah. Pikirannya ini tidak menunjukkan, bahwa pluralitas (alam) berkembang dari kebersatuan melalui proses manifestasi (tajalli). Gagasan seperti itu juga tidak menggambarkan keyakinan, bahwa yang ada hanya Żat Tunggal, dan tidak menganggap yang lainnya (alam) tidak ada. Dia melihat Żat Tunggal, atau menyatakan tiadanya sesuatu kecuali Żat Tunggal. Dia hanya memandang bukan menganggap dan meyakini sesuatu tidak ada, dan tidak berimplikasi pada keyakinan, bahwa yang lain dianggap tidak ada.
Dalil yang dia kemukakan bahwa “alam ini ada dengan wujud Allah”, gagasan ini berarti eksistensi Tuhan benar-benar nyata dengan pengertian wujud li żatihi. Sedangkan eksistensi dunia (makhluk) bersifat maya dan tidak nyata dalam pengertian wujud li ghairihi. dan gagasannya ini dapat terlihat dalam uraiannya “bahwa Tuhan itu berbeda dengan yang lainnya” . Di lain tempat dia ungkapkan, bahwa segala makhluk berdiri dengan wujud Allah , tidak dengan sendirinya”.
Dengan demikian, gagasan itu menunjukkan suatu usaha untuk mewujudkan fana´ dan baqa´ untuk melupakan segala sesuatu selain Allah. Bagi Abdurrahman Shiddiq, hanya diperlukan pandangan “Żat Tunggal” (tauhid syuhudi), dan tidak mempercayai ketunggalan Żat (tauhid wujudi). Lebih jelasnya, para sufi seperti Abdurrahman Shiddiq meyakini, bahwa semua makhluk itu berada pada tempatnya masing-masing, akan tetapi di hadapan wujud hakiki (Allah), wujudnya itu hilang dan menjadi seperti tidak ada.
Kata kuncinya, melalui tauhid al-afal, tauhid al-asma, tauhid al-sifat, dan tauhid al-żat, seseorang akan memperoleh ma’rifah (pengetahuan yang sempurna tentang Allah), yaitu orang yang mampu mengenal Allah dan mengenal hamba, serta dapat membedakan antara Khalik dan makhluk.

2. Al-Maqamat.
Abdurrahman Shiddik menempatkan fana’ dan baqa’ dalam pembicaraan maqam. Menurut dia, pada tahap pertama seseorang menyaksikan terhadap ke-esaan Allah (tauhid af’al, tauhid al-asma, tauhid al-sifat, dan tauhid al-żat), dan pada saat itu seseorang menyelam dalam laut ahadiyah (zat Allah semata). Dan di saat itulah seseorang memperoleh maqam fana´ fi Allah. Ditegaskannya lebih lanjut, maqam fana ini harus diteruskan ke tahap maqam baqa bi Allah.
Maqam baqa´ bi Allah diartikan kekal memandang dan menetapkan wujud alam ini dengan pandangan sebagai mazhar wujud Allah. Maqam baqa´ bi Allah ini disebut dua macam, syuhud al-katsrah fi al-wahdah dan Syuhud al-wahdah fi al-katsrah
Pada maqam baqa´ ini seseorang memandang segala keanekaragaman yang terlihat, akan mudah dimengerti dengan pandangan bahwa semua dari Allah; “Ma raaitu syai’an illa wa raaitu Allah ma’ahu” (tidak aku lihat sesuatu melainkan aku lihat Allah besertanya); “wa ma raaitu syai’an illa wa raaitu Allah fihi” (tidak aku lihat sesuatu melainkan aku lihat Allah Ta’ala di dalamnya); “wa ma raaitu syaian illa wa raaitu Allah qablahu” (tidak kulihat sesuatu melainkan aku lihat Allah Ta’ala dahulunya); “wa ma raaitu syai’an illa wa raaitu Allah ba’dahu” (tidak aku lihat sesuatu melainkan aku lihat Allah Ta’ala kemudiannya).
Dalam gagasan Abdurrahman Shiddiq, ternyata tidak terhenti pada tahap bayangan (zhilliyat) saja, kedua tahap itu hanya sebagai tahap suluknya. Sedangkan tahap terakhirnya adalah keabdian (‘ubudiyah). Dalam tahap ketiga, dia menegaskan; seorang salik harus kembali kepada jahir syari’ah yang dibawa Nabi Muhammad SAW., yaitu mengerjakan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Gagasan ini harus dipahami adanya pesan tersirat, bahwa setelah melewati “tahap kesatuan Zat” dan “tahap bayangan”, seorang salik bergerak menuju “tahap ‘Abdiyat” (pengabdian). Ini berarti bahwa kebenaran tertinggi adalah perbedaan ketimbang kebersatuan.
(i) Wali dan Karamah
Dijelaskannya, maqam wilayah (maqam wali) ini dapat diperoleh melalui ma’rifah, yaitu mengenal Allah dengan sempurna (wahdaniyat Allah), juga bisa diperoleh melalui ilmu laduni. Maqam wali yang diperoleh ilmu laduni harus didasari dengan ilmu dan amal. Selanjutnya dikatakannya, amal tanpa ilmu adalah sesat. Ilmu itu adalah jalan untuk mengetahui kaifiyah (cara) beramal, dan amal itulah yang akan menyampaikan seseorang kepada ilmu laduni. Dengan ilmu laduni seseorang akan memperoleh ma’rifah, dan ma’rifah (mengenal Allah) ini merupakan anugerah Allah, ini adalah jalan yang mengantarkan kepada kasyaf. Kasyaf diartikannya terbukanya hakikat sesuatu.
KESIMPULAN
Dalam lirik-lirik syairnya dia sisipkan pesan ajaran tashawuf akhlaki, seperti taubah, zuhud, tawakkal, shabar, ridla, shidiq, mahabbah, dan zikr al-maut. Term-term tasawuf ini ia katakan sebagai tarekat (jalan) untuk menyempurnakan syariat, bukan merupakan maqam sebagaimana umumnya kaum sufi. Semuanya itu untuk membersihkan hati dan akan berimplikasi dalam perilaku seseorang. Katanya, ajaran itu mengandung nilai-nilai akhlak yang harus diwujudkan dalam merambah kesempurnaan spiritual dalam praktik ibadah.
Ajarannya tentang ma’rifah, konsep ajarannya diawali dengan pembahasan menganai wahdaniyat Allah, yaitu ajaran tentang tauhid al-af’al, tauhid al-asma, tauhid al-shifat, dan tauhid zat. Dengan keempat tahapan itu seseorang memasuki tingkat ahadiyah, yaitu hanya Allah semata.
Di tingkat ahadiyah ini seseorang akan memperoleh maqam fana fi Allah (hilang wujud seseorang dengan wujud Allah). Maqam fana ini disempurnakan dengan tahap maqam baqa bi Allah, yaitu kekal memandang wujud alam ini dengan pandangan sebagai mazdhar wujud Allah.
Melalui ma’rifah seseorang akan mendapatkan maqam wilayah (tingkat kewalian). Maqam wilayah ini merupakan anugerah dari Allah yang diperoleh melalui musyahadah tauhid al-af’al, tauhid al-asma, tauhid al-shifat, dan tauhid zat, maupun melalui ilmu laduni
Tipe ajarannya bercorak tasawuf akhlak, di sisi lain ajaran ma’rifahnya bercorak wahdat al-syuhud (Mysticism of Personality), yaitu mengacu pada pemahaman aspek personal bagi manusia dan Tuhan. Dalam paham ini masih diperlakukan konsep yang esensi adanya perbedaan antara manusia dengan Tuhan. Ajaran tasawufya tidak mengandung pengertian ada satu kontinuitas antara Tuhan dengan alam semesta. Tasawufnya bukan tipe wahdat al-wujud (Mysticism of Infinity), suatu paham yang memandang Tuhan sebagai realitas absolut, atau disebut Union Mystic, yaitu paham tasawuf yang memandang manusia (makhluk) bersumber dari Tuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik, Islam di Indonesia,(Jakarta: Tertamas, 1974).
Abdullah, Syafe’i, Riwayat Hidup dan Perjuangan Ulama Syekh H.A.Rahman Shiddiq Mufti Indragiri, (Jakarta: CV. Serajaya, 1982)
Abdurrahman Shiddiq, Syajarat al-Arsyadiyyat wa ma Ulhiqa biha, (Singapura: Mathba’ah Ahmadiyah, 1356).
————–, Risalah ‘Amal Ma’rifah, (t.tp, t.pt., t.th.).
————–, Syair Ibarat dan Khabar Kiamat, (Singapura: Mathba’ah Ahmadiyyah, 1344 H.).
————–, Pelajaran Kanak-Kanak pada Agama Islam, (Singapura: Mathba’ah Ahmadiyyah, 1349 H./1931 M.).
————–, Mau’izah li Nafsi wa li Amtsa li min al- Ikhwan, (Singapura: Mathba’ah Ahmadiyyah, 1355 H./ 1936 M.).
————–, Asrar ash-Shalat min ‘Iddat al Kutub al-Mu’tamadah,( t.tp., t.pt., t.th.).
————–, Risalah fi Aqaid al Iman, (t.tp., t.pt., 1355 H./1936 M.).
Ansari, Muhammad Abd. Haq, Sufism and Syariah a Study of Syekh Ahmad Sirhind’s Effort to Reform Sufism, Penerjemah Achmad Nashir Budiman, Antara Sufisme dan Syariah, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993).
Azra,Azyumardi, Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-XVIII, (Bandung: Mizan, 1995).
Azhari Noer, Kautsar, Ibn ‘Arabi, Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan, (Jakarta: Paramadina, 1995)..
Bruinessen, Martin Van, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat, (Bandung: Mizan, 1985).
Effendi Hs., Imran, Pemikiran Akhlak Syekh Abdurrahman Shiddiq al-Banjari, (Pekanbaru: Tirta Kenca, 2003).
Ghazali, , Abdul Hamid, Ihya ‘Ulum ad-Din, (Kairo: Dar Ihya al-Kutub al Arabiyah, t.th.).
Ibnu Taimiyah, Majmu’at ar-Rasail, (Kairo: Mathba’ah al-Manar, 1341 H/ 1922
Ibnu ‘Arabi, Muhyi ad-Din, Al-Futuhat al-Makiyyat, (Beirut: Dar Shadir, t.th.)
————–, Fushush al-Hikam wa Ta’liqat’Alaih, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.).
Isa, Abddul Qadir, Haqaiq at-Tashawwuf, Penterjemah Khairu Amru Harahap dan Afrizal Lubis, Hakikat Tasawuf, (Jakarta: Qisthi Press. 2005).
Jamaluddin al-Qasimi, Mau’izhat al-Mu’minin min Ihya Ulum ad-Din, Penterjemah Moh. Abda’i Rathomy, (Bandung: Diponegoro, 1993).
Kusaeri, Atjeng Achmad, Abdurrahman Shiddiq al-Banjari, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005).
Mahmud, Abd. Al-Qadir, Al-Falsafah ash-Shufiyah, (Kairo: Dar al-Fikr, 1967).
Mughni, Syafiq A., Dinamika Intelektual Islam pada Abad Kegelapan, (Surabaya: Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat, 2002).
Munawar, Said Agil Husein, Alquran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki,(Jakarta: Ciputat Press, 2003).
Nata, Abuddin, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, t.th.).
Nazir, Muhammad, Sisi Kalam dalam Pemikiran Islam Syekh Abdurrahman Shiddiq al-Banjari, (Pekanbaru: SUSCA Press, 1992).
Qardhawi, Yusuf, Niat dan Ikhlas, Penterjemah Kathur Suhardi, (Jakarta: Pustaka Kautsar, 2000).
Qusyairi, Abul Qasim Abdul Karim Hawazin an-Naisaburi, Ar-Risalat al-Qusyairi fi Ilm at-Tashawwuf, (Kairo: Muhammad Ali Subaih wa Auladih, 1967)
Sayyid Ali, Sayyid Nur, At-Tasawwuf al-Syar’i, Penterjemah M. Yaniyullah, Tasawuf Syar’i, (Jakarta: Hikmah, 2003).
Stapa, Zakaria, Isu-Isu dalam Ushuluddin dan Falsafah,(Bangi: University Kebangsaan Malaysia, 1993).
Syukur, Amien, Menggugat Tasawuf, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999).
Wahib, Tasawuf dan Transformasi Sosial: Studi atas Pemikiran Tasawuf Hamka, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 1997).
Yunus, Abd.Rahim, Posisi Tasawuf dalam Sistem Kekuasaan di Kesultanan Buton pada Abad ke-19, (Jakarta: Seri INIS XXIV, 1995).
Diposkan oleh Sahriansyah di 22.10.08
0 komentar:

Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka
Langgan: Poskan Komentar (Atom)
Arsip Blog

* ▼ 2008 (5)
o ▼ Oktober (4)
+ RIWAYAT HIDUP DATU SANGGUL
+ RISALAH TASAWUF SYEKH ABDUL HAMID ABULUNG Oleh : S…
+ AJARAN TASAWUF SYEKH ABDURRAHMAN SHIDDIQ AL-BANJAR…
+ SEJARAH MUHAMMADIYAH PCM DAHA SELATAN KAB. HSS KAL…
o ► September (1)
+ Etnis Banjar

Mengenai Saya

Sahriansyah

Lihat profil lengkapku
Benarkah etnis banjar religius ?

Tinggalkan sebuah Komentar

Hamid Abulung

skip to main | skip to sidebar
ISLAM BANJAR

Rabu, 2008 Oktober 22
RISALAH TASAWUF SYEKH ABDUL HAMID ABULUNG Oleh : Sahriansyah’
A. Pendahuluan
Naskah Risalah Tasawuf Syekh Abdul Hamid Abulung ini dianggap sebagai salah satu representasi dari berbagai sumber lokal yang paling otoritatif dan otentik dalam memberikan informasi tentang perkembangan ajaran tasawuf falsafi yang berkembang di Kalimantan Selatan pada abad ketujuh belas dan delapanbelas..
Ajaran tasawuf falsafi yang diajarkan H. Abdul Hamid Abulung ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan komunitas Banjar saat itu. Oleh karena itu, Muhammad Arsyad al-Banjari mempelajari secara mendalam dan akhimya memfatwakan bahwa ajaran Syekh Abdul Hamid Abulung adalah salah, sesat dan merusak kehidupan beragama.
Untuk menjaga stabiltas dan gangguan yang membahayakan negara dan berdasarkan fatwa Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari di atas, maka Sultan Tahmidullah II mengambil keputusan untuk rnenghukum mati Syekh Abdul Hamid Abulung dan dimakamkan di tepian sungai Abulung di kampung Sungai Batang Martapura (Basuni, 1986 : 50-51).
Dari berbagai informasi yang diperoleh bahwa Syekh Abdul Hamid Abulung telah berjasa dalam merintis dakwah Islam di daerah kesultan Banjar bahkan agama Islam diakui sebagai agama resmi kerajaan Banjar. Diketahui bahwa komunitas rakyat Banjar sebelum memeluk agama Islam adalah sebagai penganut agama Hindu atau Kaharingan. Oleh karena itu, dakwah Islam yang disampaikan Abdul Hamid Abulung melalui ajaran tasawuf mendapat resfek yang baik dari kalangan rakyat Banjar. Ajaran tasawuf yang diajarkan Abdul Hamid tidak terlalu jauh berbeda dengan ajaran yang dianut rakyat Banjar saat itu. Karena itu konversi atau perpindahan agama rakyat Banjar ke agama Islam secara
‘Penulis adalah Peneliti pada Pusat Penelitian IAIN Antasari Banjarmasin.

damai, tidak menimbulkan gejolak yang berarti dalam masyarakat. Namun, harus diakui secara jujur bahwa Abdul Hamid Abulung belum mampu mengajarkan Islam secara murni sesuai dengan yang terdapat dalam Alquran dan hadis. Tapi jasanya tak boleh dilupakan bahkan dipinggirkan dalam lintasan sejarah Islam Kalimantan. Daya pesona ajaran tasawuf inilah yang banyak memikat rakyat Banjar pindah kepada Agama Islam, tetapi akidah mereka masih bercampur aduk dengan kepercayaan agama yang dianut sebelumnya. Bahkan sampai saat ini keberagamaan masyarakat Banjar masih banyak mempercayai tahayul dan khurafat yang notabenenya bertentangan dengan akidah Islam. Rasionalisasinya setelah Muhammad. Arsyad al-Banjari mengajarkan Islam sesuai dengan Alquran dan hadis belum juga mampu merubah keyakinan masyarakat Banjar secara totalitas. Di samping itu Abulung juga telah meninggalkan warisan yang tertulis untuk dipelajari dan dipahami oleh masyarakat Islam, yaitu sebuah kitab Risalah Tasawuf^ karena itu kitab tersebut perlu dikaji secara mendalam dan dijadikan obyek penelitian ini.
Studi naskah ini hanya mencoba menterjamahkan dan menganalisis secara deskriptif tentang isi naskah Risalah Tasawuf Abdul Hamid Abulung. Terjemah yang dilakukan adalah melalaui terjemahan agak bebas, yaitu menterjemahkan secara bebas, tetapi masih dalam standar ilmiah. Dengan kata lain, penulis menterjamahkan ide tulisan dengan tidak terlalu tarikat dengan susunan kata demi kata. Penterjamahkan mencoba mengungkap secara obyektif dan tidak memaksakan pendapat lain dalam terjemahannya. (Nabilah Lubis, 2001 :82).
Dalam membahas dan menganalisa kitab Risalah Tasawuf tersebut penulis tidak sampai kepada kritik naskah secara tuntas, karena dibatasi oleh waktu dan tenaga, namun pnulis secara tidak langsung dalam analisa dan gambaran atau deskripsi naskah telah mengkritik naskah tersebut.
Menurut hasil pengumpulan data dilapangan bahwa Risalah Tasawuf yang ditulis Syekh Abdul Hamid Abulung penukilan ada dua orang, yaitu Bahransyah bin Muhammad Daman, ia hanya menukil kitab tersebut satujilid, namun penulkulanya tidak memakai tahun (tahun tidak diketahui). dan H. Zaini

Muhdar, ia telah menukil kitab Risalah Tasawuf tersebut terdiri dari dua jilid, jilid pertama sebanyak 25 pasal dan jilid kedua sebanyak 4 pasal. Kitab itu dinukilnya sejak tahun 1974. Hasil nukilan kedua kitab tersebut isinya sama dan jugaditulis huruf Arab Malayu dengan tulisan tangan dan tinta hitam, namun yang lebih lengkap kitab tersebut adalah yang ditulis oleh H. Zaini Muhdar. Hasil nukilah H. Muhdar inilah yang dijadikan obyek penelitian naskah klasik ini.
Permasalahan penelitian adalah.isi naskah kitab Risalah Tasawuf termasuk nomor kode, asal naskah, ukuran, tebal naskah, huruf, bahasa, bentuk tulisan dan kitab tersebut apakah berisi tentang nuansa keilmuan Islam, seperti kerukunan, pendidikan moral, pembinaan HAM dan lain-lain. B. Deskripsi Risalah Tasawuf
Risalah Tasawuf peninggalan Syekh Abdul Hamid Abulung terdiri dari dua jilid, jilid pertama terdiri 25 pasal dan 88 halaman dan jilid kedua terdiri dari 4 pasal dan 37 halaman.
Kitab Risalah Tasawuf ini dinukil oleh H. Zaini Muhdar Sungai Batang Martapura atas kehendak dan perintah Syekh Abdul Hamid Abulung. Penukilan risalah tasawuf tersebut diterima melalui mimpi yang bertemu dengan Abulung. Risalah Tasawuf itu ditulis dengan huruf Melayu Arab (pegon) dalam bahasa Melayu. Menurut H. Zaini Muhdar bahwa Risalah Tasawuf jilid I dinukil pada tahun 1974-1975. Sedangkan Risalah tasawuf jilid II dinukil pada 2 Rajab 1406 H/14 Maret 1986 kumpulan dari berbagai kitab seperti Ad-Dur Nafts, Al-Hikam. Kitab Risalah Tasawuf ini tidak pernah dicetak dan diterjemahkan. Walaupun tidak pernah dicetak dan diterjemahkan, kitab ini telah beredar dan dipelajari oleh masyarakat Banjar. Baik masyarakat dari kalangan menengah dan awam.
H. Zaini Muhdar lahir di Sungai Batang Martapura pada tahun 1936, Sedangkan pendidikan yang pernah dilaluinya adalah di Pesantren Babus Salam di Sungai Batang Martapura dan mengaji duduk mempelajari kitab-kitab klasik/kuning kepada Tuan Guru yang ada di seputar Kota Martapura.
H. Zaini Muhdar juga pemelihara Makam.dan keluarga dekat Syekh Abdul Hamid Abulung. . Menurut penuturan H. Zaini Muhdar sendiri, ia selalu

mengadakan haulan Syekh Abdul Hamid Abulung setiap tanggal 12 Dzulhijjah di makam Syekh Abdul Hamid Abulung.
Kendatipun Kitab Risalah Tasawufditulis dalam bahasa Melayu, namun banyak kata-kata yang diambil dari bahasa daerah seperti bahasa Banjar. Di samping itu tulisannya mempergunakan huruf pegon. Hal itu kemungkinan karena dua faktorvyang menyebabkan kitab ini di masyarakat Banjar kurang mendapat perhatian, terutama di kalangan generasi muda dan masyarakat intelek.
Menurut kami, bahwa Kitab Risalah Tasawuf karya tulis oWr Abulung adalah sebuah kitab tasawuf dalam bahasa Melayu yang cukup tersebar di masyarakat Islam Banjar, jelain tebal, uraiannya cukup luas, dianggap sebagai salah satu representasi dari berbagai sumber lokal yang paling otoritatif dan otentik dalam memberikan informasi tentang perkembangan ajaran tasawuf falsafi yang berkembang di Kalimantan Selatan pada abad ketujuh belas dan delapan belas. Pada era itu keberagamaan masyarakat Banjar (Kalimantan Selatan) masih dalam suasana sinkeritis artinya ajaran Islam yang dianut masyarakat masih bercampur aduk dengan kepercayaan Animisme, Dinamisme, Hindu dan Budha. ^hamun sangat disayangkan kitab itu tidak ada kitab yang menjadi rujukannya, layaknya kita-kitab termashur lainnya, seperti Kitab Sabilal Muhtadin dan lain-lainnya. Dalam mengemukakan pendapat selalu diiringi dengan dalil^baik dari Alquran dan Sunnah. C. Analisis
Mencermati sebagian ajaran Abulung itu secara hati-hati :”Tiada yang maujud melainkan hanyalah Dia, tiada aku melainkan Dia, Dialah Aku, dan Aku adalah Dia”. Kesan dari kata-kata di atas seakan-akan Abulung mengajarkan tasawuf wujudiyah (ittihad, hulul dan wihdatul \vujud). Perlu diketahui bahwa ajaran wujudiyah dimunculkan dan dikembangkan oleh Abu Yazid al-Bisthami, Al-Hallaj dan Ibnu Arabi.
Ajaran ini dalam memaknai keesaan Tuhan memang terasa seakan-akan sangat berlebihan yaitu adanya kesatuan Tuhan dan makhluk. Tuhan dapat turun memilih tubuh manusia tertentu dan mengambil tempat padanya, setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada di dalam tubuh tersebut dilenyapkan. Hal itu bisa terjadi

karena Tuhan mempunyai dua sifat, lahut (ketuhanan) dan nasut (kemanusiaan). Lebih dan itu, segala yang ada (wujud) selalu mempunyai sifat ketuhanan dan kemakhlukan. Dalam ungkapan lain, pada Tuhan ada sifat kemakhlukan dan pada makhluk terkandung sifat ketuhanan. Sebelum Tuhan menjadikan makhluk, la hanya sendirian, Tuhan hanya melihat diri-Nya dengan segala kemuliaan dan ketinggian-Nya, dan lapun cinta kepada zat-Nya sendiri. Cinta Tuhan itulah yang menjadi sebab wujud dan keadaan yang banyak ini. Dengan demikian makhluk adalah merupakan cermin Tuhan manakala Tuhan ingin melihat diri-Nya, di luar diri-Nya. Di kala Dia ingin melihat diri-Nya, la melihat kepada makhluk-Nya. Oleh karena makhluk mengandung diri-Nya, maka Dia memandang diri-Nya sendiri sebab diri-Nya adalah satu jua. Dengan demikian dapat berwujud persatuan Tuhan dengan makhluk dalam bentuk inkarnasi termasuk pada manusia dan alam semesta.
Dengan demikian apakah ajaran Abulung termasuk ke dalam tasawuf wujudiyah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka terlebih dahulu dibandingkan dengan kata-kata Abu Yazid al-Bisthami sebagai tokoh aliran Ittihad. Abulung masih berjarak dengan Tuhan ketika mengatakan aku adalah Dia, sedangkan Abu Yazid sudah bersatu dengan Tuhan ketika ia mengatakan ;”Tuhan berfirman : semua merka kecuali Engkau adalah makhluk-Ku. Akupun berkata Aku adalah Engkau, Engkau adalah Aku dan Aku adalah Engkau.
Kata kunci perbedaan adalah Abulung masih berDia-Dia, sedangkan Abu Yazid sudah sampai ber-Engkau-Engkau dengan Tuhan. Kata Dia masih terasa jauh dan berjarak, sementara kata Engkau jelas sudah sedemikian dekat dan terasa sudah bersatu.
Dapat dikatakan bahwa ajaran Abulung tidak bisa dimasukkan ke dalam aliran Ittihad. Dia masih berada pada tingfcat A/-fana wal baqa yang masih bisa diterima dalam pandangan syariat. Kedua, jika dibanding ajarannya dengan ajaran Al-Hallaj tokoh aliran Hulul, terdapat juga perbedaan yang signifikan bahkan sangat prinsipil. Ketika Abulung mengatakan: Tiada Aku melainkan Dia, terasa betul ia telah melenyapkan dirinya yang tertinggal hanya wujud Tuhannya, Berbeda dengan Al-Hallaj mengatakan ‘”Padu sudah roh-Mu dengan rohkujadi

satoi bagaikan khamat dengan air bening terpadu Monday jika sesuatu menyentuh-Mu tersentuhlah aku karena itu Kai, dalam segata hat adalah aku”
Al-Hallaj telah lebur jadi satu dengan Tuhan, yang dalam istilah tasawuf telah mencapai Hulul. Artinya, Tuhan ada di dalam din Al-Hallaj dan Al-Hallaj ada dalam Tuhan. Jelas ajaran Abulung tidak bisa disamakan begitu saja dengan aliran Hulul ajaran Al-Hallaj, karena ia tidak lebur ke dalam Tuhan, ia tetap masih berjarak dengan Tuhan.
Selanjutnya, jika dibandingkan ajarannya dengan ajaran Ibnu Arabi tokoh aliran Wihdatul Wujud, juga terdapat perbedaan yang jauh sekali. Kalau Abulung mengatakan : Dialah aku, jelas masih terdapatjarak dengan Tuhan, karena masih berDia-Dia, sedangkan bagi Ibnu Arabi sudah berEngkau-Engkau dengan tidak lagi memakai kalimat aku karena Tuhan meliputi segala-galanya seperti katanya : “7a Allah, dari diri-Mulah asal dari segala sesuatu, Engkau Tuhan, mengapa Engkau jadikan semuanya satu, Engkau jadikan barangyang tak berhenti adanya, Baik di tempat sempit maupun lapang, Kau ada di sana”
Di antara tiga aliran tasawuf di atas meskipun kelihatannya serupa namun sebenarnya terdapat perbedaan-perbedaan. Perbedaan Ittihad dengan Hulul adalah dalam Ittihad diri Abu Yazid hancur dan yang ada hanya Diri Allah, sedangkan dalam Hulul diri Al-Hallaj tidak hancur. Juga dalam Ittihad yang dilihat hanya satu wujud, sedangkan Hulul yang dilihat ada dua wujud, tetap bersatu dalam satu tubuh. Sementara dengan Wihdatul Wujud, Tuhan meliputi segalanya. la adalah mutlak yaitu zat yang mandiri, yang keberadaan-Nya tidak disebabkan oleh sesuatu apapun.
Jadi sudah semakin jelas bahwa ajaran Abulung berbeda sekali dengan aliran Ittihad, Hulul dan Wihdatul Wujud, maka tentunya, tidak bisa digolongkan sebagai aliran wujudiyah, ia sekali lagi masih berada pada atau mirip aliran Al-Fana wal-Baqa dari Dzunun al-Mishri.
Kalau boleh disederhanakan perbedaan antara keempat tokoh ini, bisa berbentuk kalimat : “Abulung sebatas aku adalah Dia, Abu Yazid sudah memasuki Aku adalah Engkau, Al-Hallaj lebih ke dalam Aku dalam Engkau, Engkau dalam Aku, Ibnu Arabi sudah mencapai kesatuan Engkau-Engkau”.

Ajaran Abulung ini masih bisa ditolerir oleh syariat, bahkan ittihad menurut As-Sulaimi, At-Tusi dan Al-Qusyairi masih sejalan dengan Alquran dan As-Sunnah. Demikian juga aliran Hulul dan Wihdatul Wujud masih sesuai dengan ajaran Islam bahkan menurut Abdussamad Al-Palembani cocok bagi orang yang sudah mencapai tingkat muntahi yaitu orang yang telah sampai pengetahuan hakikatnya. Hatinya telah dibukakan oleh Allah. la telah dilimpahi ilmu ladunni dan telah mencapai makrifat dengan ainulyaqin dan haqqulyaqin,
Untuk tidak mudah mengkafirkan dan menyesatkan seseorang, kata K.H. Muslih Abdurrahman dalam menyikapi ucapan para sufi apalagi yang sudah mencapai tingkat makrifat-yang ditinjau dari kalimat lahiriyahnya bertentangan dengan syariat, maka kita berhenti saja di situ, tidak usah mengambil kesimpulan yang salah, bahkan kalau perlu mohonlah petunjuk kepada Allah agar kita mengerti maksud yang sebenarnya, karena sebagian ucapan dari ahli sufi yang sudah sampai ditingkat kesempurnaan itu adalah isyarat-isyarat yang samar dan tidak mudah dipahami.
Kata Ahli sufi tidak boleh diartikan harfiah seperti kata Syekh Abdul Qadir Al-Jailani : “Anta \vahidun fis sama-i \va Ana wahidunfil ardli”^ tidak diartikan Engkau Maha Esa di langit, sedangkan aku Maha Esa di bumi, melainkan diartikan: Ya Allah Engkau zat Maha Esa, yang menguasai langit dan bumi, adapun saya adalah orang yang mempersatukan seluruh jiwa ragaku di bumi ini semata-mata untuk musyahadah, munasabah dan menyembah ke pada-Mu.
Susunan kalimat seperti yang diucapkan Abdul Qadir ini dalam tata bahasa Arab menurut ilmu balaghah disebut badi’ mitsyakalah yakni makna yang jauh dari pengertian harfiahnya. Atau bisa juga dalam memahami ucapan-ucapan aneh para sufi tersebut sebagai kalimat syatahat (theo pattrical stamering) yakni, ucapan itu muncul pada seorang sufi dalam kata ganti orang pertama di luar sadarnya. Hal ini berarti bahwa dia telah fana dari dirinya sendiri serta kekal dalam zat yang Maha Besar, bukan ucapannya sendiri. Ungkapan-ungkapan yang diucapkan seorang sufi dalam kondisi begini, tidak ia ucapkan dalam kondisi

normal. Sebab jika ungkapan demikian terjadi dalam keadaan normal, jelasakan ditolak sendiri oleh orang yang mengucapkannya.
Kondisi tidak normal di sini berarti seorang sufi berbicara di bawah pengaruh ketidaksadaran dari ekstasi, di mana ia berada dalam keadaan dikendalikan Tuhan. Apa yang dia ucapkan sebenarnya bukan ucapan dia lagi, tetapi sudah ucapan Tuhan yang meminjam ucapannya.
Begitulah cara memahami tokoh-tokoh sufi yang kelihatan sepintas bertentangan dengan syariat, tetapi sebenarnya justru memberi roh kehidupan sedemikian bermakna pada syariat. Abulung (termasuk Hamzah Fansuri, Siti Jenar, Suhrawardi, Ibnu Arabi, Al-Hallaj dan Abu Yazid) dia tidak kafir dan sesat, masih berjalan di atas rel ajaran Islam.
Abulung tampaknya juga menganut faham Nur Muhammad, menurutnya bahwa asal kejadian makhukini berasal dari Nur Muhammad. Meskipun banyak kalangan yang menentang begitu keras tentang konsep ini, terutama kelompok Muhadditsin dan ulama yang rasional dan menempatkan pemahaman yang bersifat detail mengenai berbagai ajaran agama terutama jika didudukkan dalam konteks penegasan dan pemahaman akan dalil agama. Namun, adasebagian kaum sufi yang memegang konsep ini, yaitu aliran tasawuf falsafi.
Selanjutnya, Abulung mengatakan bahwa manusia akan melihat kesempurnaannya Zat Wajibul Wujud. Karena tubuh manusia yang kasar ini sekali-kali tidak dapat mengenai Allah. Sebab fana yang dapat mengenai Allah adalah dengan Nur Muhammad saw. Maka barang siapa mengenai atau meresapkan Nur Muhammad saw. berarti ia mengenai atau meresapkan Tuhannya, karena itu merupakan kenyataan wujud Allah yang kita miliki, seperti : penglihatan, pendengaran, pengrasaan, dan sebagainya, baginya yaitu Nur jua.(Abulung, 1975 :47).
Dalam kitab Risalah Tarawwfdikatakan yang dimaksud dengan fana al-fana artinya bersatunya batin manusia (syuhud) dengan Allah, bukan bersatunya zat manusia dengan zat Tuhan. Karena, antara manusia dan Tuhan merupakan dua eksistensi yang berbeda. Adapun cara mematikan diri itu ialah seperti diiktikadkan dengan tiada yang kuasa dan tiada yang berkehendak dan tiada

yang mengetahui tiada yang hidup dan tiada yang mendengar dan tiada yang melihat dan tiada yang berkata-kata hanya Allah sendiripada hakikatnya.
Menurut Humaidi, Syekh Abdul Hamid Abulung termasuk penganut tarekat Naqsyabandiyah yang sejak pemunculannya terkenal sangat berpegang teguh pada syariat. Namun berdasarkan isi Risalah Tasawuf Abulung sendiri tampaknya ia menganut tarekat Syatariyah. Pada intinya kedua analisis ini sama-sama memiliki argumen yang kuat karena kebiasaan ulama sufi tidak hanya berguru kepada seorang tokoh sufi saja atau lazimnya mempejari dan mengikuti beberapa tarekat.
Dalam kitab Risalah Taxawuf juga diungkapkan tentang Tuhan, manusia dan zikir . Zikir tersebut dibaginya kepada tiga, yaitu : zikir JU yaitu 4J1V -iiVl, zikir ^sL± yaitu tiada kata dengan lidah hanya ingat A\ -M – M , dan zikir pin “‘” yaitu umpama kucing mengintai tikus hingga didapatnya, maka ia lenyap pada zikir hati. Sedang zikir 4—*_£ yaitu tiada lain seperti zikir »J^, sebab ia mengenal dan senantiasa ia berzikir seperti firman Allah artinya : Dimana hadap kamu di sanalah zat Allah swt.
Aku sir (jiilj—«) – Aku J—* j*» Aku >* bapak = Aku sir ibu maka berdirilah kalimat La ila illallah dan mesrakan pada jasad kita. Zat umpama air La hakikat Allah yang sebenar-benarnya Allah itu. Rahasia la, adalah akal itu
bayang-bayang af al Allah. Zikirnya la ilaha illallah yakni ilmu al-yaqin.
Melihat zikir yang diajarkan oleh Abulumg tersebut maka diduga bahwa
zikir Abulung itu lebih cenderung ke tarekat Syatariyah, karena tarekat ini juga membicarakan tujuh macam zikir Ketujuh macam zikir ini diajarkan agar cita-cita manusia untuk kembali dan sampai kepada Allah dapat selamat dengan mengendarai tujuh nafsu itu. Ketujuh macam zikir itu sebagai berikut:
1. Zikir Thawaf, yaitu zikir dengan memutar kepala, mulai dari bahu kiri menuju bahu kanan, dengan mengucaokan laa ilaha ( 4JIV) sambil menahan nafas. Setelah sampai di bahu kanan, nafas di tank lalu mengucapkan illallah (<&W) yang dipukulkan ke dalam hati sanubari yang letaknya kira-kiraduajari di bawah susu kiri, tempat bersarangnya nafsu lawwamahL

10
2. Zikir nafi itsbat, yaitu zikir dengan (
memasukkan suara ke dalam Empunya asma Allah.
\ \ \
3. Zikir itsbat faqat, yaitu berzikir dengan ( &\ VI ), (<&' VI), (<&l VI), yang
dihujamkan ke dalam hati sanubari.
4. Zikir ismu zat, yaitu berzikit dengan ( •&!), (<3il), (Jil), yang dihujamkan ke tengah-tengah dada, tempat bersemayamnya roh yang menandai adanya hidup
dan kehidupan manusia.
\ \
5. Zikir Taraqi, yaitu zikir ( a &\ ,« <3it), Zikir Allah diambil dari dalam dada dan
Hu dimasukkan ke dalam bait al-Makmur (otak, markas pikiran). Zikir ini dimaksudkan agar pikiran selalu tersinari oleh Cahaya Tlahi.
6. Zikir Tanazul, yaitu zikir ( <5)l «,^Jl »),. Zikir Hu diambil dari bait al-makmur^ dan Allah dimasukkan ke dalam dada. Zikir ini dimaksudkan agar seorang salik senantiasa memiliki kesadaran yang tinggi sebagai insan Cahaya Ilahi.
7. Zikir Isim Ghaib, yaitu zikit ( « ,« , «)» dengan mata dipejamkan dan mulit dikatupkan kemudian diarahkan tepat ke tengah-tengah dada menuju ke arah ke
dalam rasa.(Salahuddin, 2001; 32-33 dan Masyhudi, 1998 ; 124-127)
Salah satu ajaran Syekh Abd. Al-Hamid Abulung yang cukup unik
adalah mengenai salat daim, Salat daim adalah salat lima waktu sehari semalam yang dilakukan oleh muslimin dan muslimat selama hidupnya secara terus-menerus, kecuali bila azal telah tiba. Namun, di kalangan sufi falsafi yang dimaksud salat daim adalah selalu ingat atau zikir kepada Allah tanpa putus-putusnya. Jadi, hakikat salat itu adalah untuk selalu ingat dan dekat kepada Allah. Maka hendaklah sembahyang Qadha al-Fawail dikerjakan setiap malam Jumat, kalau tak bisa mengerjakannya pada setiap malam Jumat, hendaknya dikerjakan sebulan sekali, kalau tidak bisa, hendaknya dikerjakan setahun sekali, jika tidak bisa juga, maka hendaknya dikerjakan sekali dalam seumur hidupnya.(Abulung, 11, 1986 : 28-30).

Salat dalam pandangan kaum syariat atau tasawuf Sunni merupakan kewajiban seorang hamba kepada Allah. Tujuannya agar manusia selalu ingat dan dekat kepada Allah agar terhindar dari perbuatan munkar. Salat merupakan amal orang Islam yang paling utama dan yang pertama dihisab di hari pembalasan nanti. Bahkan merupakan tiang agama, barang siapa yang melaksanakan secara kontuitas, maka ia telah memperkokoh agama Islam. Dan barang siapa yang meninggalkannya atau tidak melakukan salat berarti merusak agama Islam.
Salat daim dalam pandangan kaum sufi merupakan suatu ibadat yang wajib dilakukan kaum niuslimin. Namun pelaksanaan salat daim melalui tahapan-tahapan tertentu, bagi orang awam harus membiasakan atau melatih diri melakukannya dari setiap malam Jumat (seminggu sekali) sebagaimana tata cara tersebut di atas. Tujuan salat daim adalah untuk menghapuskan dosa-dosa yang dia tidak kerjakan. Sedangkan bagi kalangan arifbillah salat daim hanya dilaksanakan sekali dalam seumur hidup.
Berdasarkan pemahaman di atas, ajaran salat daim mempunyai dayak tarik tersendiri, terutama kalangan awam dari komunitas Islam. Karena mereka mempelajari ajaran salat daim atau qadha al-fa\vait ini, sehingga mereka juga tidak melaksanakan salat lima waktu sehari sebagaimana yang diwajibkan kepada umat Islam.
Ajaran salat daim ini telah mewabah di kalangan masyarakat Islam kelas bawah, khususnya di Kalimantan Selatan. Salat daim dikenal di kalangan masyarakat muslim Banjar dengan istilah llmu Sabuku, yaitu orang tnuslim cukup melakukan salat sekali seumur hidup atau salat bisa ditamatkan (sembahyang hatamat\ seperti umat Islam mempelajari Alquran yang bisa ditamatkan. D. Kesimpulan dan saran.
Dalam Risalah Tasawuf Abdul Hamid Abulung, sekurang-kurangnya terdapat empat hal yang cukup penting untuk di kaji secara mendalam, yaitu : Pertama, ajaran Nur Muhammad menurutnya adalah sebenar-benar kejadian manusia (alam semesta)ini berasal dari roh dan roh itu berarasal dari Nur Muhammad. Kedua, Fana ialah bersatunya manusia dengan Tuhan, tetapi bukan bersatunya zat manusia dengan Tuhan. Ketiga, memperhatikan zikir yangada

12
pada Risalah Tasawuf kearah tarekat Syatariyah, walaupun Abdul Hamid Abulung tidak mengatakan tarekat yang dianutnya. Keempat, Safat Daim ialah salat yang dilakukan untuk mengingat kepada Allah, tetapi dilakukan seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali atau bila tidak bisa melakukannya cukup sekali seumur hidup. Dalam bahasa Banjar dikenal dengan istilah ilmu sahuku ialah melakukan salat sekali seumur hidup.
Dalam penelitian naskah kono (klasik Islam) ini, penulis mnyampaikan saran-saran sebagai berikut:
1. Kepada masyarakat terutama masyarakat Muslim di daerah ini dihimbau dalam mempelajari kitab Risalah Tasawuf yang ditulis oleh Syekh Abdul Hamid Abulung hendaknya berhati-hati, karena kitab tersebut dianggap mengajarkan dokrin tasawuf yang menyesatkan (menyebarkan ilmu sahuku) serta bisa mengakibatkan orang menjadi bid'ah, sesat, zindik dan kafir.
2. Kepada masyarakat terutama masyarakat Muslim di daerah ini dihimbau dalam memilih dan mempelajari kitab-kitab dan ajaran-ajaran tasawuf harus selektif, agar terhindar dari ajaran-ajaran tasawuf yang bertentangn dengan Alquran dan Sunnah, karena telah banyak beredar kitab-kitab dan ajaran-ajaran tasawuf yang dipegang dan dianut serta dipelajari di masyarakat.
3. Kepada para pengambil kebijakan terutama MajelisUlama Indonesia (MUI) Propinsi Kalimantan Selatan dan Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Kalimantan Selatan diharapkan untuk meningkatkan pengawasan dan pembinaan terhadap kitab-kitab dan pengajian-pengajian tasawuf yang adadi masyarakat, karena telah banyak kitab-kitab yang beredar dan pengajian tasawuf yang menyimpang dari syariat agama Islam, pada hal ajaran tasawuf merupakan salah satu solusi dalam menghadapi kehidupan modern dewasa ini.
4. Diharapkan ada yang berminat untuk mengadakan penelitian lebih lanjut terutama pada pemikiran tasawuf Abdul Hamid Abulung. Karena sampai saat ini belum ada penelitian yang komprehensif tentang figur Ulama sufi ini.

r
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Hamid Abulung, Risalah Tasawuf, Jilidl dan //, Banjarmasin, 1986.
Abdul Karim al-Qusyairiyah, Al-Risalah al-Qusyairiyah ft llmu Tasawuf, Karo, 1966.
Abdul Mujib, Fitrah Dan Kepribadian Islam, Sebuah Pendekatan Psikologis, Jakarta, Darul Falah, 1999.
Abdul Shamad al-Palimbani, Sayr al-Salikin, Dar al-Ihya al-Kutub al-Arabiyah Juz III.
Abdul Hadi W.M., Hamzah Fansuri, Risalah Tasawuf dan Puisi-Puisinya, Bandung, Mizan, 1995.
Abdul Muis, Masuk dan Tersebarnya Islam di Kalimantan Selatan, Makalah yang disampaikan pada Pra Seminar Sejarah Kalimantan Selatan, Banjarmasin, 1973.
Abu Bakar Aceh, Pengantar llmu Tasawuf Solo, Ramadhani, 1984.
Abu Daudi, Riwayat HidupSyekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Makalah yang di sampaikan pada Seminar Internasional Pemikiran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari di Banjarmasin, 2003.
Abu Hamid Muhammad al-Gazali, Ihya Ulum al-Din, Kairo, Dar al-Sya'b, t.t.
Ahmad al-Santanawi (et-al), Dairul al-Maarif al-lslamiyah, Beirut, Dar al-Fikr, t.tp.
Ahmad Basuni, Nur Islam di Kalimantan Selatan, Surabaya, Bina llmu, 1986.
Ahmadi Isa, Ajaran Tasawuf Muhammad Nafis Dalam Perbandingan, Jakarta, Sri Gunting, 2001
Al-Attas, Sayed Muhammad Naguib, The Mysticism of Hamzah Fansuri, Kuala Lumpur University of Malayu Press, 1970
Al-Fani Daud, Beberapa ciri Etos Budaya masyarakat Banjar, Banjarmasin, IAIN Antasari, 2001.
Asmaran AS., Pengantar Studi Tasawuf, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1990. Asywadie Syukur, M., llmu Tasawuf, Surabaya, Bina llmu, 1988.

, Kritik Terhadap Hadis Nur Riwayat Abdurrazak, Banjarmasin, IAIN
Antasari Fakultas Dakwah, t.tp.
Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara A bad XVH-XVllI, Bandung, Mizan, 1994.
Fathullah Gulen, Kunci-Kunci Rahasia Sufi, Jakarta, Sri Gunting, 2001.
Hamka, Tasawuf; Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta, Pustaka, Panjimas, 1979.
Hamzah Fansuri, Risalah Tasawuf, Bandung, Mizan, 1995.
Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1973.
Hasan, Abdul Hakim, at-Tasawuf Fis Syi'ril Arabi, Mesir, Maktabul Anjalul Misriyah, 1954.
Humaidy, Tragedi Datu Abulung: Manipulasi Kuasa Atas Agama, Dalam Jurnal Kebudayaan Kandil Melintas Tradisi, Edisi 2, Tahun I September 2003.
Ibn Arabi, Al-Futuhat al-Makiyyahy Kairo, Al-Haat al-Muhriyat al-Amanah al-Kitab, 1972/1392.
————, Fushusul Hi/cam, Kairo, Mustaia Babil Halabi, 1967. Ibrahim Basuni, Nasat al-Tasawuffil Islam, Kairo, Dar al-Maarif. 1969. Ibrahim Madkur, Aliran dan Teori Filsafat Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1995. Ilyas Ismail, A., Pintu-Pintu Kebaikan, Jakarta. Raja Graflndo Persada, 1997.
Mashudi, Tare/cat Qadariyah, Rifaiyah, Naqsyabandiyah, Syathariyah Dalam Naskah Kono Dari Penegeri Tandes, Gresek, 1998.
Masignon, Lois, al-Halajj, Sang Sufi Syahid, Terj. Devvi Camdraningrum, Yogyakarta, Fajar Pustaka Baru, 2000.
Nabillah Lubis, Naskah, Teks dan Metode Peneiitian Filologi, Jakarta, Yayasan Media Ala Indonesia, 2001,
Rivay Sireger, A., Tasawuf Dari Sufisme Klasik Ke Neo-Sufisme, Jakarta, Raja Gratmdo Persada, 1999.

Salahuddin, Tarekat Syathariyah Dalam Majalah Sufi, 12/Tahun IJ/Mei 2001.
Simuh Tasawuf dan Perkembangannya Dalam Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1996.
Syahrudi, Nur Muhammad Antara Fiisafat Dan Tasawuf, Dalam Tabloid Jumat Serambi Ummah No.186, tanggal 6-12 Juni 2003.
Tim, Ensikolopedia Islam Indonesia, Jakarta, IA1N Syarif Hidayatullah, 1992. Tim, Pengantar llmu Tasawuf, Medan, IAIN Sumatera Utara, 1982.
Yusnaril Ali, Membersihkan Tasawuf Dari Bid'ah dan Khurafat, Jakarta, Pedoman Ihnu Jaya, 1992.
____, Pllar-Pilar Tasawuf, Jakarta, Kalam Mulia, 1999.
Yusuf Halidi, Ulama Besar Kalimantan Selatan, Banjarmasin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Surabaya, Al-Ihsan, 1972..
Zamzam, Zafri, Syekh Muhammad Arsyad ai-Banjari; Ulama Besar Juru Dakwah, Banjarmasin, Karya, 1979.
Zurkani Jahja, Hubungan Ajaran tare/cat Sammaniyah Dengan tare/cat yang Lainnya, Makalah seminar Bulanan Lembaga kaj ian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3), Jumat, 19 April 2002.
Diposkan oleh Sahriansyah di 22.10.08
0 komentar:

Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka
Langgan: Poskan Komentar (Atom)
Arsip Blog

* ▼ 2008 (5)
o ▼ Oktober (4)
+ RIWAYAT HIDUP DATU SANGGUL
+ RISALAH TASAWUF SYEKH ABDUL HAMID ABULUNG Oleh : S…
+ AJARAN TASAWUF SYEKH ABDURRAHMAN SHIDDIQ AL-BANJAR…
+ SEJARAH MUHAMMADIYAH PCM DAHA SELATAN KAB. HSS KAL…
o ► September (1)
+ Etnis Banjar

Mengenai Saya

Sahriansyah

Lihat profil lengkapku
Benarkah etnis banjar religius ?

Tinggalkan sebuah Komentar

Maulid

Banzanji dan Paradoks Ritualitas Maulid SAW PDF Print E-mail
Thursday, 12 March 2009 07:06

Syair kitab barzanji karya Sayid Ja’far bin Husain bersentuhan dengan ahlaq Nabi. Tapi hanya jadi nyanyian ketika perayaan Maulid

Oleh: Hermanto Harun *

Muhammad bin Abdullah, itulah nama yang paling masyhur sejagad. Sebuah nama yang selalu paling popular dalam semua zaman, melebihi semua bintang, selebritis dan bahkan tokoh yang telah dan akan menjadi pigur manusia di atas bentangan bumi ini. Popularitas nabi Muhammad SAW seolah tidak pernah menemui kata penutup bagi tinta sejarah dalam merekam jejaknya. Segala tingkah laku, tutur kata dan perjuangannya senantiasa menjadi acuan dalam tindakan manusia. Rekam jejak nabi Muhammad SAW menitiskan keteladanan yang melampaui sekat kesukuan, kebangsaan dan bahkan keagamaan. Sehingga sampai hari ini, biograpi (sirah) nabi terakhir ini (khatam al-nabiyin) paling banyak ditulis oleh umat manusia. Ragam tulisan biograpi tentang nabi Muhammad SAW mencakup semua dimensi dan sudut pandang keilmuan, baik ekonomi, sosial, politik, budaya dan kemanusiaan. Dengan demikian, Anis Mansur, pemikir sekaligun budayawan Mesir, menoreh judul buku-nya A’zam al-Khalidin (pembesar-pembesar yang abadi) dengan menempat sosok nabi Muhammad sebagai pembesar pertama di antara nama pembesar dunia lainnya. Kebesaran nabi Muhammad, menurut Anis, karena beliaulah satu-satunya manusia di jagad ini yang paling sukses, baik pada tatanan keagamaan maupun keduniaan. (Anis Mansur, 2005, 7).

Pelbagai karya tentang kepribadian nabi Muhammad SAW itu tidak hanya digoreskan oleh para ulama Islam yang notabene-nya pemangku warisan risalah beliau. Akan tetapi, ada cukup banyak karya yang diukir oleh kurir tinta pengingkar dan oposisinya. Hilal Gorgun dalam website lastprophet.info, mencoba merekam banyak karya para orientalis yang mencoba menganalisa sosok Rasul tersebut. Dalam tulisannya yang berjudul ”The Orientalist View of Prophet Muhammad” Gorgun menyebutkan karya Montgomery Watt, dalam Muhammad at Madina yang menjelaskan bahwa sebagai tokoh besar dalam sejarah, nabi Muhammad adalah tokoh yang paling banyak dicemari namanya. Masih banyak lagi karya orientalis tersebut seperti Refutation du Coran Confutatio Alcorani yang ditulis oleh Nicetas Byzantium pada abad ke 9 M, juga Chronographia yang ditulis oleh Theophanes (758 – 816).

Ragam perspektif, motif dan bahkan keyakinan perbagai penulis dan sejarawan, telah memeriahkan sekaligus memperlengkap catatan-catatan kepribadian Rasulullah tersebut, sehingga wujud nabi Muhammad SAW yang telah sirna dari alam fana, seolah dapat diilustrasikan kembali dalam kenyataan. Gambaran kepribadian Rasul selalu menjadi rujukan yang dirindu kehadirannya dalam segala ruang waktu dan masa. Sehingga semua problematika kemanusiaan sampai hari ini, bahkan untuk masa mendatang, seolah telah terakomodasi dalam sabda Rasul. Dinamika kehidupan manusia dalam lintas waktu, rasanya sangat sulit untuk tidak menoleh kepada perilaku nabi Muhammad, karena sosok kenabian dan kerasulannya mamang telah dipersiapkan oleh Pengutus (Allah SWT) untuk menjadi problem solver, pengayom dan penerang bagi kehidupan anak cucu Adam. Disnilah letak relevansi jawaban Aisyah RA ketika ditanya oleh para sahabat tentang perilaku Rasulullah, seperti apakah akhlak nabi Muhammad SAW itu? dengan bahasa yang lugas, Aisyah mengungkapkan ”kana khuluquhu Al-Quran” (akhlaknya adalah Al-Quran), sebagimana juga termaktub dalam firman Allah SWT ”wainnaka la’ala khuluk azlim”.

Dalam bingkai keindonesiaan, bincang tentang keteladanan Rasul SAW sudah menjadi bagian dari ritualitas budaya yang telah berurat berakar. Bulan Rabiul Awal seakan terhipnotis oleh ritual maulid yang tidak boleh absen dari agenda tahunan umat, bahkan telah menjadi ritual beberapa negara yang berpenduduk mayoritas muslim, sehingga pada tanggal 12 Rabiul Awal dijadikan hari cuti nasional.

Tentu dalam perspektif keagungan seorang utusan Tuhan, pengadaan pelbagai ritual hingga keputusan cuti nasional sebagai perlambangan akan cinta kepada baginda Rasul, rasanya juga belum sangat memadai, karena perjuangan nabi Muhammad SAW tidaklah sebanding dengan hadiah cuti tersebut. Bahkan, seremoni perngatangan maulid justru tidak jarang mengaburkan substansi perjuangan dan risalah ajaran yang dibawa beliau, baik dalam realitas kemanusiaan maupun dalam bingkai kerasulan. Dalam bingkai kemanusiaan, misalnya, bagaimana sikap Rasul yang sangat care terhadap eksistensi manusia, bahkan sampai kepada jasad manusia sekalipun. Seketika jenazah seorang Yahudi melintas dihadapannya, maka Rasul berdiri sebagai penghormatan atas jasad manusianya.

Maulid dan Kitab Barzanji

Dalam perspektif kerasulan, ada banyak hal yang sangat urgen untuk ditelaah kembali dalam Maulid Nabikegiatan seremonial maulid al-rasul. Seremonial maulid yang sejatinya tidak semata ritualitas yang pada akhirnya terjumus kepada pengkultusan dan bahkan cenderung taqlid buta kepada budaya, adat istiadat dan bahkan meniru ritual agama selain Islam, merupakan kecelakaan sejarah dalam menerjemahkan pesan kerasulan Muhammad SAW. Pesan maulid yang seharusnya merekatkan kembali parsialitas pemahaman masyarakat tentang Islam yang integral, justru semakin samar. Kesan maulid di tengah masyarakat hanya tercitrakan dengan koor syair-syair kitab barzanji yang ditulis oleh ulama asal Kurdistan (al-barzanjiyah) yang bernama Sayid Ja’far bin Husain bin Abdul Karim al-Barzanji.

Kitab Barzanji yang berjudul asli “I’qd al-Jawhar fi Mawlid al-Nabiy al-Azhar” karangan ulama kesohor tesebut, isinya sangat bersentuhan dengan kehidupan Rasul, baik hikayat beliau dilahirkan, keluarga sampai kepada akhlak moral. Namun, sangat disayangkan, bait-bait syair indah dalam kitab tersebut hanya sekedar lantunan hiburan yang miskin akan makna spritualitasnya. Penerjemahan seremoni maulid ke dalam ruang ”ritualitas” sangat mungkin merupakan bagian dari parsialitas pemahaman Islam tadi, karena keberkesanan hari kelahiran Rasul seolah bentuk lain dari perayaan ”happy birth day” walau dipoles dengan irama verbalistas religius. Padahal, substansi dari perayaan maulid, selain aktualitas cinta secara verbal, mengenang kepribadian dan perjuangan Rasul, juga bagaimana menerjemahkan ketauladanan pribadi beliau ke dalam segala dimensi kehidupan manusia kekinian.

Bertolak dari fakta tersebut, akhirnya para ulama berbeda pendapat tentang perayaan ”ritual” maulid Nabi. Dari yang berdapat sangat literal sampai kepada asumsi rasional, dari yang beragumen bid’ah hingga yang berasumsi sunnah. Misalnya, Ibn Hajar berasumsi bahwa perayaan maulid belum dikreasikan pada era pertama Islam, sedangkan Jalal al-Din al-Suyuthi berasumsi bahwa seremoni maulid sudah ada semenjak kelahiran Rasul. Dengan hujjah bahwa kakek baginda nabi, Abd al-Muthalib dan nabi sendiri merayakannya sebelum era kerasulan. Pendapat lain dari Abd Rauf Uthman, yang menyuguhkan bahwa perayaan maulid ”dipatenkan” oleh penguasa Dinasti Syiah Fathimiyyah di Kairo sebagai media aproac kepada rakyat. Namun ada juga yang berasumsi bahwa perayaan maulid berawal dari inovasi Shalahuddin al-Ayubi sebagai injeksi ruh jihad kepada prajuritnya dalam menghadang pasukan salibis.

Terlepas dari mana yang paling benar dari pendapat di atas, yang jelas semua sepakat bahwa kepribadian Rasul sebagai uswah hasanah telah diabadikan Tuhan dalam Al-Quran. Uswah hasanah tersebut jelas tidak tereliminasi dalam ranah yang sempit, parsial, apatahlagi harus terkungkung dalam wilayah seremonik. Hal ini selaras dengan argumen Said Hawwa dalam bukunya al-Rasul, yang menjelaskan empat sifat esensial para Rasul itu. Pertama, kejujuran mutlak yang tidak akan pernah dibatalkan dalam kondisi apapun. Karena itu, ungkapan para Rasul akan selalu bersenyawa dengan ranah realitas. Kedua, sikap konsistensi yang total terhadap apa yang telah diperintahkan oleh Sang Pengutusnya. Dari sini, perilaku seorang Rasul sangat mustahil keluar dari rule yang telah digariskan Tuhan. Ketiga, kontinuitas peyampaian kandungan al-risalah (wahyu) secara integral walau harus menghadapi pelbagai tantangan. Keempat, kecerdasan yang brilian, karena penyampain wahyu akan mangalami stagnasi jika tidak sepadan dengan rasionalitas umat. Semua muwasafat (karakteristik) Rasul ini merupakan elemen dasar dari kepribadian Rasul dengan tanpa mengesampingkan karakteristik yang lain.

Jadi, peringantan maulid yang telah menjelma menjadi ritual tersebut, jelas bukan sekedar menceritakan keindahan pisik Rasul, keanggunan akhlak, kepiawaian kepemimpinan, dan keagungan risalah yang dibawa oleh beliau, akan tetapi semestinya semua itu menjadi cermin bagi umatnya dalam mengaca perilaku kehidupan. Sudahkan ritual itu menjadi standar yang selalu dievaluasi, atau hanya lipstik dari ungkapan bibir yang tidak pernah beriringan dengan kebijakn perilaku kita?jika belum, maka ritual maulid hanya drama paradoksal yang dipentaskan di panggung dusta. Nauzubillah! Wallhu’alam.

Penulis adalah dosen Fak Syariah IAIN STS Jambi.. Mahasiswa Program Doktoral National University of Malaysia.

Terbaru Pada Kategori Ini

* Dakwah antara Realitas dan Prioritas
* Pemilu 2009: Memilih atau Tidak Memilih?
* Keuangan Islam dan Keamanan Global
* Banzanji dan Paradoks Ritualitas Maulid SAW
* Gaza dan Sebuah Keheningan yang Ganjil
* Demokrasi, Barang Curian Milik Islam?
* “Kabinet” Tengah Hutan
* Kerikil Politik PKS
* Nasehat untuk Para Pemimpin Politik
* Hubungan Bani Israil dan Insiden Qabil-Habil

Yang Berkaitan
Copyright © 2009 hidayatullah.com-Nyatakan Tiada Ilah Selain Allah Pasti Menang!. All Rights Reserved.

Komentar dimatikan

« Newer Posts · Older Posts »
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.